Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Problematika Istri Bekerja

Keadaan seperti ini menjadikan ibunya berkeinginan bekerja untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia tidak bisa bertahan dengan kehidupan yang selalu seperti itu. Kebutuhan tak bisa terpenuhi semuanya. Sementara suami, memang hanya seperti itu kemampuannya. Karena hal inilah, ibunya pun memutuskan untuk bekerja. Ia akhirnya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang memberikan pelayanan jasa umum. Mulailah si istri turut bekerja dan untung sekali takdirnya, ia bergaji lebih besar dari sang suami. Hal ini sebab ia biasa bekerja lebih lama dari suaminya. Bila suami bekerja dari pagi sampai sore, justru ia sering bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan sangat jarang ia bekerja sampai sore saja. Sehingga begitu pulang ke rumah hanya kelelahan yang ia bawa. Demikianlah cerita singkatnya.
Kebanyakan istri masa kini sangat cepat mengambil keputusan ia harus bekerja. Wajar, lantaran begitu banyaknya propaganda yang diserukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kebaikan umat agar kaum wanita turut menjadi pekerja. Dengan berbagai dalih, propaganda tersebut terus diserukan, mulia dengan karier, bergengsi dengan tidak “menganggur” di rumah dan sebagainya adalah sebagian slogan-slogan mereka.
Padahal banyak masalah yang timbul sebagai akibat diiyakannya propaganda tersebut. Mulai dari yang berkenaan langsung dengan si wanita pekerja, suaminya, anak-anak, atau bahkan keluarga secara umum sampai masyarakatnya. Sungguh banyaknya masalah yang timbul dan sudah menggunung pun tak terlihat oleh mata mereka dan juga tak dihiraukan oleh kebanyakan kaum wanita.

Antara Berkarier dan menjadi kurir
Sebenarnya bila kita mau jujur menjawab pertanyaan untuk apa wanita turut menjadi pekerja, tentu kita akan mendapati hal yang sungguh membuat kita harus mengernyitkan kening dan mengelus dada. Betapa tidak?! Kenyataannya wanita bekerja hanya demi gaji sekian rupiah. Dirinya melejitkan karier hanya untuk meninggikan gaji. Dia meningkatkan prestasi hanya untuk mengejar jabatan tinggi atau yang semisalnya. Padahal realita yang ada, seandainya dia mendapat gaji maka itu tidak lebih dari sekadar upah. Bila seandainya dia berkarier maka itu tidak lebih dari sekadar menjadi kurir alias suruhan. Dan bila seandainya ia berprestasi maka hakikatnya tak lebih dari mengorbankan hak-hak diri dan orang lain yang asasi. Semua ini adalah masalah. Lalu bila demikian, apa sesungguhnya yang dikejar dan ditargetkan oleh para wanita pekerja itu?

Bila Istri Sibuk Bekerja
Masalah yang lainnya, apabila istri telah benar-benar bekerja ialah betapa banyak hak-hak yang akan ditelantarkan dengan kesibukannya?
Hak diri menjadi wanita muslimah yang mulia pun terkoyak. Hak-hak suami yang harus diperhatikan menjadi terlantar. Suami tak lagi didekatinya seperti saat ia belum bekerja. Suami tak lagi berarti suami saat berada bersamanya. Suami tak lagi diberi kesempatan untuk diskusi tentang rumah tangga. Suami yang tak henti-hentinya disuruh-suruh dengan bahasa “minta bantuan” dan “minta tolong”. Suami yang tak henti-hentinya terjerat kilahnya dan dibuat mati kutu. Suami yang terus-terusan hanya mendapat kemesraan imitasi demi prestasi. Suami yang hanya diajak bicara soal pekerjaan istri. Dan seabrek masalah dengan suami lainnya. Semuanya itu merupakan sebentuk menelantarkan dan merendahkan hak-hak suami. Padahal suami adalah salah satu kunci surga seorang istri. Bila hak-haknya ditelantarkan bagaimana pintu surga akan terbuka bagi si istri?
Disebutkan dari Hushain bin Mihshan Radhiyallaahu ‘anhu bahwa bibinya pernah menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu keperluan. Setelah usai dari keperluannya, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menanyainya: “Apakah Anda memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu terhadapnya?” Dia menjawab, “Aku tidak menelantarkan hak-haknya, kecuali apa yang aku lemah untuk memenuhinya.” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
انْظُرِى أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Senantiasa perhatikanlah kedudukan (sikapmu) terhadap kedudukannya (sebagai suamimu). Sungguh dia laksana pintu surgamu dan nerakamu.”[1]
Disebutkan dari Abdur-Rahman bin Auf Radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri shalat lima waktu, puasa bulan (Ramadan) dan memelihara farji serta taat suaminya, maka kelak akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga, dari pintu mana saja yang kau suka!.’” [2]
Di samping itu, bila istri sibuk bekerja berapa banyak hak anak yang akan diremehkan? Hak kasih sayang seorang ibu kepada anak menjadi gersang. Hak pembinaan dan pengarahan seorang ibu bagi anak menjadi kering. Hak anak mendapat kenyamanan hidup sebagai seorang anak berubah menjadi tekanan dan paksaan. Bahkan betapa banyak anak yang tak berpola waktu makan dan menu yang dimakannya. Itu saja sudah cukup besar hak-hak anak yang ditelantarkan akibat ibu bekerja.
Bagaimana dengan hak pendidikan anak-anak? Kenyataan pada hak yang satu ini (padahal hak ini termasuk yang paling asasi), pun lebih terlantar. Apabila ibu yang bekerja dihadapkan pada dua pilihan antara kesibukannya mengurusi pekerjaan atau mendidik anak-anak, tentu mendidik anak-anak yang selalu menjadi korban. Hampir tidak ada (selain beberapa ibu yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla) ibu yang menggeluti ilmu mendidik anak-anaknya dan materi-materi pendidikan anak. Miris, di saat yang sama mereka tak pernah ketinggalan oleh materi-materi terkait dengan pekerjaannya. Apakah masa depan ada pada pekerjaannya atau pada anak-anaknya? Padahal, pintu surga yang satu lagi ada pada pendidikan dan pemeliharaan ibu terhadap anak-anaknya.
Disebutkan dari Anas Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ
“Siapa yang mencukupi kebutuhan (hidup dan pendidikan) anak-anak perempuannya, niscaya aku dan dia akan di surga sebagaimana dua (jari) ini.” (Lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jari (telunjuk dan tengah)nya)[3]
Semua ini hanya sebagian problematika wanita bekerja. Masih banyak problem lain yang muncul akibat wanita, khususnya istri atau ibu yang bekerja. Seperti salah satunya ialah yang terjadi di rumah tangga saudara kita tersebut di atas. Semoga menjadi pelajaran bagi semuanya. Wallahu A’lam.
Uraian selanjutnya akan disampaikan di edisi mendatang insya Allah ‘Azza wa Jalla.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: