Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Ibu…, Kasih Sayangilah Diriku

 

Begitulah bayi berkata seandainya dia mampu berbicara. Bagaimana tidak? Selama sembilan bulan ibunya menyayanginya, ke mana pergi, ia dibawa. Bahkan ibu rela berkorban demi kesehatan anak. Ibu rela walaupun tidurnya kurang nyenyak karena sayang kepada anak. Berjalan pun pelan-pelan, khawatir kesehatan anak terganggu. Makanan dan minumannya pun dijaga, demi kesehatan anak. Berulang kali ibu periksa ke dokter untuk memantau kesehatan anak. Lantas, bagaimana bila anak lahir sang ibu tidak menyayanginya? Bukankah ketika bayi lahir lebih banyak membutuhkan kasih sayang ibu daripada sebelumnya?

Ibuku, Aku Perlu Kelembutan Dan Kasih Sayangmu
Wahai ibu, engkau yakin bahwa dirimu pada masa kecil sepertiku, anakmu. Dirimu tidak berdaya, hanya pandai menangis, mengompol serta tidak kuasa mengungkapkan sakit yang menimpa badanmu. Akan tetapi Allah Subhaanahu wa ta’aala Maha kuasa, Dia menghendaki nenek berlaku lembut kepadamu. Dirimu bangun tengah malam minta digendong, nenek tidak sampai hati membiarkan engkau menangis di ranjang. Engkau digendong walau mata nenek terasa kantuk, padahal ia sudah capek, siang malam merawat dirimu.
Sekarang tiba giliranmu, ibu. Sudahkah dirimu berbuat baik kepada anakmu seperti nenek? Itulah jasa nenek karena ingin membahagiakanmu, Allah Subhaanahu wa ta’aala mengaruniaimu kesehatan dan mampu beribadah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkanmu bahwa wanita yang baik adalah yang bersifat lemah lembut kepada anak, mau mendidik dan membantu pekerjaan suami di rumah serta menjaga kehormatan dirinya. Sebagaimana dalam sabdanya,
صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِ
“Sebaik-baik wanita Quraisy adalah sifat lembutnya terhadap anak di masa kecilnya, dan kepandaiannya menjaga harta suaminya.” (HR. al-Bukhari: 4946)

Rasulullah juga bersabda Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ
“Menikahlah dengan wanita penuh kasih dan subur ..” (HR. Abu Dawud 6/228 dishahihkan oleh al-Albani 1/515)

Orang yang sayang kepada anak, kelak akan disayangi oleh anak seperti yang telah diberitakan dalam sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayang.” (HR al-Bukhari 20/96)

Ibuku, Allah Memerintahmu Tinggal di Rumah
Wanita yang betah di rumah, terjaga keindahan wajah dan badannya dari teriknya matahari dan fitnah kaum pria. Bahkan menyejukkan hati suami ketika sang suami pulang dari kerja. Bagaimana suami tidak bahagia? Setelah pulang mencari rezeki dalam keadaan yang penat, ia berjumpa dengan istri di rumah, anaknya yang terdidik dengan baik, makan tersedia, bahkan kebutuhan rohani tersedia pula. Berbeda dengan wanita karir yang bekerja di luar. Ketika suami pulang, istri tidak ada, rumah berantakan, anak menangis, istri keluar berhias diri, sedangkan pulang bertemu suami dengan muka yang muram, karena capek kerja. Kapan waktu berdandan menghibur suami? Wahai para istri, Allah Subhaanahu wa ta’aala memerintah istri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar betah di rumah. Firman-Nya:
Dan hendaklah kamu (istri) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (QS. al-Ahzāb [33]: 33)
Ibnu Katsir Rahimahullaah berkata, “Ayat ini menerangkan adab. Allah memerintah agar istri Nabi Muhammad dan istri orang yang beriman yang ikut istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar tinggal di rumah, tidak boleh keluar dari rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.” Misalnya, keluar ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, apabila mampu menjaga diri dari fitnah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Janganlah kamu melarang hamba perempuan Allah shalat di masjid, tetapi shalat mereka di rumah, itu lebih baik bagi mereka.” (HR. al-Bukhari dan Abu Dawud)[1]
Jika shalat wanita lebih baik di rumah, daripada shalat berjamaah di masjid, maka bagaimana wanita keluar rumah mencari nafkah, sedangkan suaminya sudah mencukupinya? Bagaimana pula bila keluarnya wanita hanya ingin melampiaskan hawa nafsunya? Na’udzu billahi min dzalik!

Ibu Pemimpin Rumah Tangga
Allah Subhaanahu wa ta’aala memerintah wanita agar betah di rumah, sesuai dengan kemampuan fisik dan akalnya serta pekerjaan di rumah. Suami berkewajiban mencari rezeki, mengurusi umat dan berdakwah. Maka pantas bila suami banyak keluar rumah. Tatkala suami keluar rumah, tentu harus ada pengganti untuk mengurusi anak balita dan keluarga yang menjadi tanggungannya, maka istrilah yang menjadi gantinya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ….
“… dan seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari: 4801)
Jadi, ibu muslimah bukan pemimpin Negara, bukan pemimpin perusahaan, tetapi manager rumah tangga. Inilah nasihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tentunya nasihat ini akan diterima oleh wanita yang beriman dan mendapat petunjuk. Inilah nasihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam buat wanita yang beriman dan ingin mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hindarkan Balita Dari Benda Berbahaya!
Anak yang berusia dini, sekalipun sudah bisa bicara, melihat dan mendengar, akan tetapi akal mereka belum sempurna. Mereka belum mampu memilih mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Mereka perlu mendapat bimbingan dan pengarahan selama 24 jam, terutama bimbingan ibu. Karena ibu yang paling dekat dengannya. Jauhkan anak dari suara dan pandangan yang menakutkan, agar tidak terganggu pikirannya. Terutama pada saat anak baru mulai merangkak atau berjalan. Karena tidak mustahil mereka mengambil dan makan benda yang sangat berbahaya.
Jauhkan benda-benda rumah Anda dari jangkaun anak, seperti : racun pembasmi serangga, obat-obatan, benda tajam dan api, peralatan listrik, permaian yang berbahaya (seperti bermain dengan tali, karena bisa tercekik lehernya), bermain di tangga, bermain kelereng atau benda lain. Tutuplah pintu rumah, jangan sampai buah hati keluar tanpa sepengetahuan kita.

Istri Teladan Menyayangi Suami Walau Hidup Serba Kurang
Asma` binti Abu Bakr s berkata, “az-Zubair bin Awwam menikahiku. Saat itu, ia tidak memiliki harta, budak serta tidak memiliki apapun kecuali alat penyiram lahan dan seekor kuda. Maka akulah yang memberi makan dan minum kudanya, menjahit timbanya serta membuatkan adonan roti. Padahal aku bukanlah seorang yang mahir membuat roti. Karena itu, para tetanggaku dari kaum Ansharlah yang membuatkan roti. Aku memindahkan biji kurma dari kebun az-Zubair yang telah diberikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas kepalaku. Jarak kebun itu dari rumah dua sepertiga Farsakh. Suatu hari aku pulang (dari kebun), sementara biji kurma di atas kepalaku. Lalu aku berjumpa dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang tengah bersama beberapa sahabat Anshar. Kemudian beliau memanggilku seraya berkata, ‘Hei! Hei!’, rupanya beliau ingin menaikkanku di atas kendaraan, di belakangnya. Namun, aku malu untuk berjalan bersama para lelaki, dan aku ingat akan kecemburuan az Zubair. Ia adalah orang yang paling pencemburu. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tahu bahwa aku malu, hingga beliau berlalu. Setelah itu, kutemui az-Zubair, kataku, ‘Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menemuiku sementara di atas kepalaku ada biji kurma. Sedangkan beliau sedang bersama beberapa orang Anshar. Beliau mempersilakan agar aku naik kendaraan, namun aku malu dan juga tahu akan kecemburuanmu.’ Maka az-Zubair berkata, ‘Demi Allah, (aku melihat) kamu membawa biji kurma itu adalah lebih besar (berat) bagiku daripada engkau naik kendaraan bersama beliau.’ Akhirnya Abu Bakr pun memberi seorang khadim yang dapat membantu pekerjaanku untuk mengurusi kuda. Dan seolah-olah ia telah membebaskanku.” (HR. al-Bukhari: 4823)
Begitulah indahnya hidup pasutri yang didasari iman dan amal shalih. Berbeda dengan wanita yang pengejar karir, mereka mengira kebahagiaan dengan harta yang banyak, namun fakta justru menyelisihinya. Ya Allah, lindungi keluarga kami dari kemurkaan-Mu, belas kasihanilah kami dengan mengikuti sunnah Nabi-Mu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: