Oleh: Abu Alya | Februari 10, 2012

PERNAHKAH KITA MERASA KEHILANGAN MUKA?

Worried ReflectionMungkin anda pernah kehilangan muka? Atau mungkin anda pernah melihat orang kehilangan muka? Perlu kita ingat, bahwa kita sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup dengan sendiri bahkan kita sangat butuh berinteraksi dengan sesama, dan mungkin anda pernah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, contoh, bayangkan perasaan anda saat tidak bisa memenuhi janji yang telah ditepati, atau tidak mau datang kemasjid karena punya hutang dengan beberapa orang jamaah yang ada di masjid, bahkan tidak mau bertemu dengan seseorang karena takut ditagih hutangnya, dan bahkan penulis yang termasuk yang kesekian orang yang pernah menjadi korban terhadap orang yang tidak punya muka, yang sampai sekarang orang tersebut penulis dan bahkan tetangganya tidak tau keberadaannya. Nah mungkin karena dominasi rasa malu inilah sampai-sampai orang merasa kehilangan muka, dan terkadang juga sebisa mungkin menghindarkan diri dari orang yang mengetahui masalah pribadinya seperti contoh diatas. Perasaan ini hendaknya muncul dalam hati anda dengan tujuan. Pertama: bertaubat kepada Allah, kedua: meminta maaf kepada orang yang terkait dengan persoalannya, ketiga: bersungguh-sungguh dengan tidak mengulangi perbuatan tersebut. Firman Allah SWT:
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian){Q.S. Huud:3}
Apabila anda tidak memenuhi tiga persyaratan diatas, maka tidak akan diterima taubatnya. Dan ingat apabila perbuatan ini menyangkut dengan sesama manusia maka harus memenuhi empat syarat yaitu tiga syarat seperti yang tersebut diatas ditambah dengan satu syarat yaitu harus menyelesaikan urusannya itu kepada yang bersangkutan. Jika itu ada kaitannya dengan barang atau harta maka ia harus mengembalikannya. Seseorang yang berbuat dosa harus segera bertaubat, bila ia bertaubat hanya dari sebagian dosa saja maka yang diampuni juga hanya sebagian dari dosanya saja dan dosa yang lain masih tetap tidak diampuni.
Setelah semua syarat diatas itu kita lakukan, maka hendaknya kita memiliki kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan sesama tanpa harus merasa kehilangan muka terus-menerus. Dan biasakan keseharian kita dengan perilaku yang baik, agar orang-orang di sekitar kita senang terhadap perilaku kita yang baik.
Namun ada juga pelakunya tetap merasa kehilangan muka walaupun telah melakukan langkah-langkah diatas. Dan bahkan dia memilih mencari lingkungan yang baru, teman yang baru yang tidak mengetahui masa lalunya yang suram.
Perasaan kehilangan muka Allah hadirkan agar kita tidak terperosok kedalam perbuatan dosa yang lebih besar, oleh karena itu jika timbul perasaan yang tidak baik maka segeralah untuk ingat kepada Allah, dan jika perasaan ini biasa anda abaikan maka kelak ia akan cepat terjerumus dalam perbuatan dosa. Lihatlah, betapa banyak orang yang terbiasa dengan kebohongannya, para pemimpin yang mengkhianati amanah rakyatnya, para koruptor yang memakan uang rakyatnya, para pelajar yang memakan jajanan yang di kantin dengan tidak membayar, para pegawai yang mengabaikan tugasnya, para laki-laki dan perempuan yang mengumbar syahwatnya dan berbagai macam perilaku manusia yang buruk lainnya yang tetap merasa bersih dan nyaman dengan segala bentuk kemaksiatannya, ini semua adalah akibat rasa malunya tidak lagi ia miliki.
Dan mungkin perilaku yang seperti inilah yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dari Rabi’i bin Hirasy, ia berkata telah bercerita kepada kami Abu Mas’ud, ia berkata, Nabi SAW bersabda: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Jika engkau tidak mempunyai rasa malu maka perbuatlah apa yang engkau mau (H.R. Bukhari)
Ketahuilah malu adalah salah satu sifat akhlak yang utama dan ia adalah perhiasan manusia. Dengan hilangnya rasa malu maka akan diperbuatlah semua kejelekan dan berbagai macam perbuatan keji seperti contoh yang diatas.
Berkata Al-Fudhail bin Iyadh: “Lima tanda-tanda kesengsaraan: hati yang keras, sempitnya pandangan, sedikitnya rasa malu, cinta dunia, panjang angan-angan.”
Dan perlu kita ketahui bahwa malu itu bisa mendatangkan kebaikan? Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ يُحَدِّثُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ {متفق عليه}
وفي روا ية لمسلم:الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ
Dari imran bin husain radliyallahu’anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda: malu itu akan mendatangkan kebaikan. {H.R. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat muslim dikatakan: semua malu itu adalah baik.
Memang malu itu ada dua macam sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Rajab Rahimahullah
Pertama: Rasa malu yang memang merupakan perangai asli tanpa diusahakan. Ini merupakan semulia-mulianya akhlak yang Allah anugerahkan kepada hambanya dan Dia ciptakan hamba itu di atasnya sebagai mana hadist tersebut diatas. Maksudnya rasa malu itu akan mencegah seseorang dari melakukan hal-hal yang buruk serta mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang mengandung akhlak yang mulia.
Kedua: Rasa malu yang diperoleh melalui ma’rifatullah, kedekatannya terhadap hambanya, pengawasan Allah kepada mereka terhadap setiap mata yang berkhianat dan apa yang di sembunyikan di dalam dada.
Oleh karena itu marilah kita pelihara rasa malu yang ada pada diri kita, sehingga kita mempunyai akhlak yang baik dan tidak merasa kehilangan muka. Wallahu a’lam bishowab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: