Oleh: Abu Alya | Januari 18, 2011

MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MENDIDIK ANAK

Islam telah menggambarkan metode pendidikan yang lengkap dan mencakup semua aspek kehidupan manusia. Apabila metode ini diterapkan secara benar, maka akan bermunculan sosok muslim sempurna yang mampu merealisasikan tujuan pendidikan Islam. Karena, hanya Allah SWT yang menciptakan manusia, dan dzat-Nya lah yang maha mengetahui, kebutuhan-kebutuhan manusia, baik dari segi jasmani, rohani dan social. Adapun metode-metode yang kita dapati dari para pakar yang berkecimpung dalam pendidikan selama ini, ternyata itu semua telah didahului oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Adapun metode yang dianggap paling penting dan paling menonjol adalah:

1.    Metode Bil Hikmah, Mauizhah Hasanah.

Dalam mengajar, mendidik dan berdakwah Nabi SAW mengikuti metode yang telah digariskan oleh Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl 125)

Ayat diatas merupakan gambaran yang lengkap tentang metode menyampaikan ajaran Allah kepada manusia yang berbeda sifat, tabiat, dan pembawaannya. Ada manusia yang gandrung mencari kebenaran, ada pula golongan awam, disamping mereka apriori, menentang, dan menolak. Menghadapi kelompok-kelompok yang beraneka ragam itu tentunya perlu diterapkan metode yang sesuai dan tepat. Karena itu Rasulullah SAW dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai lebih dahulu tingkat kecerdasan setiap orang. Sebelum berbicara, beliau melihat kondisi, dan siapa yang dihadapi. Kepada setiap kelompok atau golongan, beliau menggunakan bahasa dan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami sebaik-baiknya.

Oleh karena itu metode ini sangat pantas ditiru oleh para pendidik sebelum ia menyampaikan pelajaran, hendaknya memahami seluruh karakter anak didiknya agar semua anak didiknya mampu memahami apa yang disampaikan gurunya.

2.    Mempersiapkan Murid untuk Menerima Ilmu yang Akan di Berikan.

Tidak ada yang menentang pendapat bahwa berpalingnya seorang murid dari penjelasan gurunya dan sibuk terhadap dirinya sendiri karena sebab apapun, dapat membuat murid tersebut tidak dapat menerima ilmu dengan baik. Hal itu juga menjadi sebab dirinya tidak dapat memahami ucapan gurunya. Terfokusnya perhatian seorang murid adalah hal yang penting untuk mendapatkan dan memahami ilmu dengan metode yang benar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memberikan perhatian pada setiap muridnya satu persatu.

Berikut ini ada tiga cara untuk dapat menarik perhatian sang murid.

a.         Meminta untuk diam. Yaitu memohon kepada para murid untuk diam dan menyimak penjelasan guru. Ini adalah teknik langsung yang sering kali dilakukan sebelum memulai menyampaikan pelajaran dan ketika teknik-teknik lain yang bersifat tidak langsung tidak dapat dilakukan. Untuk lebih jelasnya kita bisa menyimak hadits dari Jarir bin Abdullah Al Bajali bahwasannya Nabi saw pernah berkata ketika haji wada’

Artinya: Diamkanlah orang-orang! Beliau bersabda, “Setelah aku wafat, janganlah kalian kembali kufur sehingga sebagian kalian menyerang sebagian yang lain.”

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Khotbah itu beliau sampaikan pada haji wada’. Ketika itu manusia sangatlah banyak sekali. Mereka semua berkumpul untuk melontar jumroh dan melaksanakan berbagai rangkaian ibadah haji lainnya. Ketika Rasulullah SAW hendak mengkhotbahi  mereka untuk memberikan sesuatu kepada mereka, beliau meminta mereka untuk diam. Oleh karena itu tidaklah mungkin Nabi SAW. menyampaikan khotbah dan mengajarkan permaslahan agama kepada mereka sedangkan mereka dalam kondisi seperti itu. Beliau pun lalu memerintahkan kepada Jarir bin Abdullah Al Bajari r.a untuk meminta orang-orang diam.

b.        Perintah untuk menyimak dan diam dengan cara tidak langsung.

Teknik seperti ini adalah teknik yang baik untuk menarik perhatian murid karena jiwa seorang manusia biasanya tidak suka mendengar kata yang bernada perintah. Oleh karena itu tepat jika seorang guru sengaja tidak menggunakan perintah secara langsung untuk menarik perhatian murid. Sang guru pertama (Muhammad saw) pernah memberikan teladan kepada kita berkenaan dengan teknik seperti ini.

Ubadah Ibnu Samid r.a. berkata, “ Rasulullah saw pernah bersabda, ambillah dariku! Ambillah dariku! Allah telah memberikan jalan keluar bagi mereka (perzinaan) yang dilakukan antara seorang perjaka dengan seorang gadis, maka cambuklah sebanyak seratus kali cambukan dan diasingkan selama setahun. Adapun seorang duda dengan janda maka dicambuk sebanyak seratus kali dan dirajam.”

Jika kita perhatika ucapan “Ambillah dariku! Ambillah dariku!” terdapat ungkapan yang bernada permintaan dan pengulangan dalam berkata dan menarik perhatian untuk dapat mendengarkan apa yang akan beliau sampaikan.

3.    Adanya Interaksi Pendengaran dan Pandangan yang Baik antara Guru dengan Muridnya.

Jika interaksi pendengaran dan pandangan dimanfaatkan dengan baik, maka keduanya akan memberikan dampak yang sangat positif agar imformasi yang diberikan dapat sampai kepada murid. Berikut ini ada beberapa jenis interaksi pendengaran dan pandangan yang dapat membantu seorang guru ketika menerangkan pelajaran untuk menjalankan tugasnya dalam pendidikan dan pengajaran secara lebih sempurna. Cara ini diambil dari sunnah Rasulullah SAW dan dari keluarga serta shahabat beliau. Teknik berbicara (Presentasi dan Penjelasan)

Sifat Nabi di kala mengajar jelas dalam berbicara, sederhana dalam ungkapan, menyesuaikan dengan kemampuan peserta didiknya.

Kejelasan penjelasan Nabi di karenakan tiga hal:

Pertama: Bicaranya tertib, dan sistematik,

Diriwayatkan dari ‘Aisyah tentang sabda Rasul adalah jelas,

عن عائشة رضي الله عنها قا لت : كان كلام رسول الله صلي الله عليه وسلم كلامافصلا يفهمه كل من سمعه

Dari ‘Aisyah dia berkata, bahwa pembicaraan Rasulullah adalah jelas (sistematik) dapat di pahami orang yang mendengarnya. (H.R. Abu Dawud dan Baihaqi)

Hadits riwayat abu dawud tersebut telah di sahihkan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy.

Abu Dawud juga telah meriwayatkan hadits yang semakna dari jalan Jabir bin Abdullah dengan matan berbunyi:

كان في كلام رسول الله صلي الله عليه وسلم ترتيل اوترسيل

Adalah omongan Rasulullah SAW itu bagus (tertib), atau jelas (perlahan-lahan).

Riwayat al-Baihaqi juga berbunyi:

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لايسرد الكلام كسدكم هذا,كان كلامه فصلا بينا يحفظه كل من سمع

Aisyah r.a. berkata, “adalah Rasulullah SAW, ketika berbicara tidak seperti bicaramu, bicara beliau sistimatik, jelas dan dapat dipaham oleh siapapun yang mendengarnya”

Kedua: Sering di ulang-ulang

Hadits Anas bin Malik tentang pembicaraan Rasul sering di ulang-ulang.

عن أنس رضي الله عنه فال إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا تكلم بكلمة أعادهاثلاثاحتى تفهم عنه, وإذا أتى على قوم فسلم عليهم سلم ثلاثا

Dari Anas bin Malik berkata, bahwa sesungguhnya Nabi SAW, jika bersabda beliau ulang sampai tiga kali sehingga bisa dipahami, dan apa bila mendatangi sekelompok manusia beliau beri salam mereka sampai tiga kali. (H.R. Bukhari : no 95)

Ketiga: Berbicara sesuai dengan kemampuan peserta didik.

عن عائشة رضي الله عنها قالت:أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننزل الناس منازلهم

“Dari ‘Aisyah r.a., rasulullah saw memerintahkan kepada kita agar kita menempatkan manusia pada posisinya.” (H.R Muslim dan Abu Dawud: 4842)

Hadits ini memerintahkan kepada kita agar biasa menempatkan manusia pada kedudukannya. Murid bagaimanapun berbeda dengan guru, berbicara dengan murid sudah barang tentu dengan bahasa yang dapat diterima oleh murid.

Keempat: Kadang-kadang Nabi SAW berbicara dengan dialek lawan bicaranya.

عن عاصم الأشعري قال, سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ليس من امبر امصيام في امسفر

Dari ‘Asyim Al ‘Asy ‘ariy dia berkata, dia pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak termasuk suatu kebagusan siapapun yang berpuasa ketika dalam safar.”

Hadits diatas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi sebagai seorang guru berbicara dihadapan murid atau peserata didiknya atau lawan bicaranya, dengan gaya bahasa yang bisa dipahami oleh lawan bicaranya atau peserta didiknya

4.    Menggunakan Metode Praktikum dalam Mengajar

Tidak diragukan bahwa metode penyampaian pelajaran dengan cara ceramah merupakan metode yang baik  dalam belajar. Akan tetapi, metode ini akan lebih mendatangkan hasil yang baik jika digabungkan dengan metode lain, yaitu metode pratikum. Jika metode teoritis digabungkan dengan metode pratikum  dalam satu waktu dalam mengajar, maka akan menjadi metode yang tangguh untuk dapat menyampaikan ilmu pengetahuan kedalam otak seorang murid. Penggabungan kedua metode ini juga akan memperkokoh ingatan murid dan membuatnya tidak lekas lupa. Metode pratikum ini bisa dilakukan oleh seorang guru atau pun murid. Artinya,yang melakukannya bisa guru bisa murid. Berikut ini penjelasan lebih terperinci.

Sahal bin sa’ad menyampaikan hadits tentang shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. di atas mimbar. Ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di atas mimbar. Beliau bertakbir dan ruku’ di atasnya. Kemudian Beliau turun dengan cara mundur kebelakang. Beliau kemudian sujud pada tiang mimbar tersebut. Lalu kembali ketempat semula. Setelah mendirikan shalat beliau menghadap orang orang dan berkata, ’wahai sekalian manusia sesungguhnya aku melakukan shalat seperti ini agar kalian mengikuti cara shalatku ini dan agar kalian mengetahui cara shalatku.

( وفيه عن عثمان بن عفان رضي الله عنه توضأ ثم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من توضأ نحو وضوئي هذا ، ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه، غفر له ما تقدم من ذنبه )

Suatu ketika Utsman bin Affan r.a.berwudhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,”siap saja yang berwudhu seperti wudhuku ,lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat tanpa ada suatu hal yang mengganggu kekhusyuannya pada kedua rakaat itu ,maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Ibnu Hajar berkata,”Hadits tersebut adalah sebuah contoh perbuatan berupa praktik nyata. Cara seperti ini lebih tepat dan mudah dipahami oleh seorang murid. ”Ada hadits yang lain juga serupa dengan hadits yang diatas.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, ”ikutilah cara caraku melakukan manasik haji. ”Banyak sekali hadits hadits yang lain yang memberikan contoh yang sama. Hadits-hadits tersebut mungkin sudah cukup untuk mewakili penjelasan tentang hal ini. Seorang guru hendaknya memperhatikan metode seperti ini. Karena metode seperti ini sangatlah bermanfaat dan mendatangkan kesuksesan. Sebagai tambahan, metode seperti ini dapat mempersingkat waktu seorang dalam memberikan contoh. Ia juga dapat meminimalkan waktu dan tenaga yang diperlukan. Dibanding dengan murid harus menghafal sifat-sifat wudhu, maka dengan metode seperti ini waktu yang panjang dapat ditekan ketika mengajar mereka. Seorang guru cukup mengambil air dan memprektikannya dihadapan mereka. Kemudian memerintahkan mereka untuk mencobanya sesuai yang mereka lihat dari guru mereka. Demikian pula halnya dalam mengajarkan masalah shalat dan yang lainnya.

Seorang guru harus ingat metode pratikum seperti ini tidak selalu berlaku pada seluruh ilmu pengetahuan. Akan tetapi, hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan metode ini. Ketika menunaikan tugasnya dalam mengajar. Metode pratikum ini sudah teruji dan bermanfaat agar seorang murid dapat menghafal dan terus mengingat pelajaran dalam otaknya.

5.    Menggunakan Teknik Diskusi dan Penjelasan yang Mudah Dicerna Akal

Akal dan kecerdasan setiap orang berbeda-beda dalam memahami dan menjawab sesuatu. Begitu pula manusia berbeda-beda tingkat kepatuhan dan ketundukan mereka terhadap perintah dan larangan syariat Allah. Di antara mereka ada yang tidak puas hanya dengan ditunjukan dalil kepada mereka, kecali tampak hikmah dari apa yang disyariatkan kepada mereka. Dan di antara mereka juga ada yang cukup dengan ditunjukan dalil saja kepada mereka.

Pada umumnya para murid  juga sama. Di antara mereka ada yang tidak dapat begitu saja menerima kaidah dan dasar-dasar ajaran yang telah dirumuskan oleh para ulama, kecuali telah jelas bagi mereka hikmah di balik kaidah tersebut. Di antara mereka juga ada yang tidak dapat memahami dengan baik, kecuali telah disimpulkan kaidah atau permasalahan itu kepada mereka, kemudian didiskusikan. Kami memperjelas uraian di atas dengan penjelasan di bawah ini.

“Seorang pemuda mendatangi  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdan berkata,’Ya  Rasulullah, izinkan aku untuk melakukan zina.’Kemudian orang-orang memandangi dan menghardiknya. Mereka berkata, ’Pergilah!Pergilah!’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.”mendekatlah! pemuda itu lalu menghampiri Nabi dan duduk didekatnya kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ”Apakah engkau suka jika hal itu menimpa ibumu?”Ia menjawab,” Tidak,Allah telah menjadikanku sebagai penebusmu.” Beliau berkata,” Orang-orang juga tidak menginginkan hal itu menimpa ibu-ibu mereka. ,”Apakah engkau suka jika hal itu menimpa putrimu? ”Ia menjawab,” Tidak, Allah telah menjadikanku sebagai penebusmu. ” Beliau berkata, ” Orang-orang juga tidak menginginkan hal itu menimpa putri mereka. , ”Apakah engkau suka jika hal itu menimpa saudara perempuanmu? ” Ia menjawab, ”Tidak, Allah telah menjadikanku sebagai penebusmu.” Beliau berkata,” Orang-orang juga tidak menginginkan hal itu menimpa saudara perempuan mereka. , ”Apakah engkau suka jika hal itu menimpa bibimu (dari pihak bapak)?”Ia menjawab,” Tidak, Allah telah menjadikanku sebagai penebusmu.” Beliau berkata,” Orang-orang juga tidak menginginkan hal itu menimpa bibi mereka(dari pihak bapak).  ”Apakah engkau suka jika hal itu menimpa bibimu(dari pihak ibu)? ”Ia menjawab, ” Tidak, Allah telah menjadikanku sebagai penebusmu. ” Beliau berkata,” Orang-orang juga tidak menginginkan hal itu menimpa bibi  mereka (dari pihak ibu). Abu Umamah berkata. ”beliau lalu meletakan tangan beliau di atas kepalanya dan berkata,’Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya, setelah itu pemuda itu tidak pernah lagi mendekati perbuatan zina.

Dari hadits di atas kita dapatkan keagungan Rasulullah SAW dan bagusnya sikap yag diambil pada kondisi seperti itu. Pemuda itu sebenarnya mengetahui apa yang dimaksud dengan perbuatan zina. Oleh karena itu ia berkata,”wahai Rasulullah , izinkan aku untuk melakukan zina. ”Pada hadits di atas jelas sekali sikap para sahabat terhadap ucapan pemuda tersebut. Akan tetapi, Rasulullah SAW tidak memperlakukan pemuda tersebut dengan keras, sebagaimana sikap para sahabat. Beliau juga mengatakan ,” sesungguhnya  Allah telah mengharamkan perbuatan zina dan menjanjikan azab yang sangat pedih.” Sikap itu tidak diambil oleh Rasulullah SAW karena beliau mengetahui bahwa  hukum perbuatan zina sebenarnya telah diketahui oleh pemuda tersebut. Solusi berupa diskusi yang diambil oleh  Rasulullah SAW menjadi solusi yang berhasil dalam menghadapi kondisi seperti itu. Perhatikanlah sikap seperti itu jika diterapkan ketika mengajar, maka akan jelas baginda keagungan guru pertama(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).

6.    Metode Pendekatan Perumpamaan

Termasuk metode pendidikana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam liannya ialah mendekatkan pengertian suatu masalah dengan membuat permpamaan (tamsil).Perumpamaan merupakan cara yang tepat untuk lebih menggambarkan ,menjelaskan,dan mendekatkan hakikat masalah tertentu di hati pendengar.

Perumpamaan Orang Bakhil dan Dermawan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sseperti diriwayatka oleh Abu Hurairah,”Perumpamaan orang bakhil dan orang dermawan bagaikan dua orang yang memakai baju besi yang menutupi leher hingga dadanya.Adapun orang yang dermawan tidak mendermakan harta miliknya,kecuali baju besinya itu akan membesar hingga menutupi sekujur tubuhnya.Sampai jari-jari tangan dan jejak langkah kakinya pun tidak terlihat lagi.sementara orang yang kikir ,makin enggan berderma ,baju besinya  lekat menyempit hingga mencekik batang lehernya.Dia ingin bajunya melebar ,tetapi baju besi itu justru menyempit dan mencekik.(HR.Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits tersebut NAbi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan bagi orang bakhil dan orang yang dermawan .Diumpamkan keduanya sama-sama memakai dua baju besiuntuk menjaga diri dari senjata musuh.Ketika memakai baju besi biasanya memasukkan kepala terlebih dahulu hingga dada.Baru kedua tangannya dimasukkan kedalam lubang lengannya.Orang yang dermawan tampak memakai baju besi yang longgar semakin longgar sehingga dengan mudah baju besi itu menutupi seluruh tubuhnya .Sedangkan orang yang kikir tampak terbelenggu tangan sampai lehernya.Setiap kali hendak memakainya,baju besi hanya tercekatdi lehernya.Semakin berusahua memakainya,baju besi semakin mencekiknya.

Demikian pula orang-oarang yang dermawan ,setiap kali berinfak,setiap kali itu juga dadanya menjadi lapang dan lega hatinya.Sebaliknya orang yang kikir ketika dikatakan soal infak menjadi pelit.Karenanya,dadanya sempit dan kedua tangannya terbelenggu.Allah SWT berfirman

Dan siapa yang dipelihara d ari kekikiaran dirinya ,mereka adalah orang-orang yang beruntung.(Al-Hasyr:9)

Imam al-Mihlab berkata,”Maksud hadits itu adalah Allah menutupi segala cela orang yang dermawaan di dunia dan di akhirat,disamping diampuni dosanya.Sementara itu,orang yang bakhil malah tersingkap segala aib dan cacatnya yang melakukan.

Qadhi Iyazh memberi catatan,”Hadits tersebut merupakan tamsil, bukan berita atas suatu kejadian. Tamsil harta kalau disedekahkan akan bertambah- tambah. Dan, harta orang yang kikir malah sebaliknya.”

Perumpamaan Rumah yang Sunyi dari Dzikir

Dalam hadits lain,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah(dzikir) dan rumah yang di dalamnya sunyi dari sebutan nama Allah itu bagaikan orang hidup dan orang mati.

Dalam hadits tersebut,beliau memberikan perumpamaan rumah dengan orang hidup dan orang mati dari segi ada atau tidak adanya dzikir. Orang yang berdzikir diumpamakan seperti orang yang hidup karena lahiriyahnya dihias dengan cahaya kehidupan yang bersinar terang, dan dihias pula dengan kemauan yang bebas.Sementara batiniyahnya sendiri disinari oleh cahaya ilmu dan pemahaman. Orang yang berdzikir tidak ubahnya sebagai orang yang hidup. Dia menghiasi lahiriyahnya dengan cahaya beramal, sementara batiniahnya dihiasi dengan cahaya ilmu dan ma’rifat. Hatinya stabil di dalam dekapan Al-Quds(Zat yang Maha Suci)di tempat yang khusus .Semntara orang yang enggan berdzikir, lahiriyanya hampa dan batiniyanya rusak.

Ada pula yang berpendapat bahwa rumah pada hadits itu maksudnya adalah penghuni rumah.Tetapi, pendapat tersebut ditentang. Alasanya, penghuni rumah itu mesti hidup, bagaimana bisa disamakan dengan orang yang matia? Maka,sebagai jawabannya, yang diumpamakan sebagai orang yang hidup adalah orang yang benar-benar memanfaatkan kehidupannya dengan menyebut(dzikir) dan taat kepada-Nya.Itu serupa dengan perumpamaan orang mukmin dengan orang kafir bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati. Padahal keduanya masih hidup dan segar bugar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia kami hidupkan kembali dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang.(Q.S, al-An’am:122)

Pemberian perumpamaan kepada orang yang tidak menyebut nama Allah dengan orang yang mati karena dilihat dari segi lahiriyahnya  yang lumpuh dan batiniyanya yang hampa.Itu agaknya lebih sesuai daripada kalau perumpamaan itu pada rumahnya.

Dari semua metode yang diatas tidaklah cukup dan kurang menghasilkan pendidikan yang baik jika seorang pendidik tidak pernah mendoakan anak didiknya. Karena Rasulullah SAW selalu mendoakan anak didiknya agar menjadi anak yang baik dan menjadi orang-orang yang benar-benar paham dalam bidang agama. Rasulullah SAW bersabda,

عن ابن عباس رضي الله عنهما:أن انبي صلى الله عليه وسلم دخل الخلاء،قال فوضعتُ له وضوءا،فقال: من وضع هذا؟فأخبر،فقال:اللهم فقهه فى الدين (رواه البخاري)

Dari ibnu ‘Abbas r.a. “sesungguhnya Nabi SAW. pernah masuk ketempat buang hajat.”Ujarnya: “saya lalu membawakan untuk beliau tempat bersuci. Beliau bertanya: ‘siapa yang meletakkan ini disini?’ lalu diberitahukan kepada beliau (orang yang melakukannya). Beliau bersabda: ‘Ya Allah, semoga anak itu engkau jadikanorang yang paham benar urusan agamanya.” (H.R. Bukhari)

Hadits diatas menerangkan bahwa Rasulullah SAW, telah mendoakan Ibnu ‘Abbas yang waktu itu masih anak-anak agar kelak menjadi orang yang benar-benar ahli dalam bidang agama. Perbuatan Rasulullah SAW, ini merupakan contoh praktis bagia semua orang tua dan pendidik dalam mendo’akan anak-anaknya agar menjadi orang yang benar-benar paham dalam bidang agama. Sehingga menghasilkan ummat-ummat yang terbaik pada generasi tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: