Oleh: Abu Alya | November 26, 2010

PENGERTIAN NIKAH

Pendahuluan
Berpasang-pasangan merupakan salah satu sunatullah atas seluruh ciptaan-nya tidak terkecuali manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Allah swt berfirman:
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (Q.S. Adz-Dzariat: 49).
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”(Q.S. Yasin: 36)
Berpasang-pasangan merupakan pola hidup yang ditetapkan oleh Allah swt. Bagi ummat-Nya sebagai sarana untuk memperbanyak keturunan dan mempertahankan hidup setelah dia membekali dan mempersiapkan masing-masing pasangan agar dapat menjalankan peran mereka untuk mencapai tujuan tersebut dengan sebaik-baiknya. Allah swt berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.” (Q.S. Al-Hujuraat: 13)
Allah swt. Tidak menghendaki manusia untuk berperilaku seperti makhluknya yang lain yang mengumbar nafsu secara bebas, hubungan antara jantan dan betina berlangsung tanpa aturan dan tanpa ikatan. Allah swt. Telah menetapkan suatu aturan yang sesuai dengan fitrah mulia manusia yang dengan fitrah, terjaga harga diri dan kehormatan manusia. Oleh karena itu, Dia menjadikan hubungan laki-laki dan perempuan tercakup dalam sebuah ikatan sacara pernikahan yang terjalin berdasarkan ridho keduanya. Terucapnya ijab qabul sebagai bentuk keridhoan masing-masing pihak, dan kesaksian khalayak bahwa mereka telah sah untuk menjadi bagian satu sama lain. Dengan pernikahan manusia dapat menjalankan fitrahnya dengan cara yang baik, terhindar dari terputusnya garis keturunan, dan para perempuan terjaga dari peran sebagai pemuas nafsu bagi setiap laki-laki yang menginginkannya. Dengannya pula, terbentuk rumah tangga yang dibangun dengan kelembutan hati seorang ibu dan rengkuhan kasih seorang ayah, sehingga dapat menghasilkan keturunan yang baik dan berbobot. Pernikahan seperti itulah yang diridhoi oleh Allah swt. Dan disyariatkan oleh agama islam.

NIKAH
1. Pengertian Nikah
Nikah menurut bahasa, berarti penyatuan. Diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. Selain itu, ada juga yang mengartikannya dengan percampuran. Menurut Al-Azhari mengatakan: akar kata nikah dalam ungkapan bahasa arab berarti hubungan badan, sedangkan Al-farisi mengatakan:”Jika mereka mengatakan, bahwa si fulan atau anaknya si fulan menikah, maka yang dimaksud adalah mengadakan akad. Akan tetapi, jika dikatakan, bahwa ia menikahi isterinya, maka yang dimaksud adalah berhubungan badan.”
Adapun menurut syariat, nikah juga berarti akad. Sedangkan pengertian hubungan badan itu hanya merupakan metafora saja. Hujjah (argumentasi) atas pendapat ini adalah banyaknya pengertian nikah yang terdapat di dalam Al-qur,an maupun Al-Hadits sebagai akad. Bahkan dikatakan, bahwa nikah itu tidak disebutkan dalam Al-qur,an melainkan diartikan dengan akad.
Rasulullah shallallahu alaihi wassallam sendiri menerangkan, bahwa pada kenyataannya nikah itu tidak hanya sekedar akad, akan tetapi lebih dari itu, setelah pelaksanaan akad si pengantin harus merasakan nikmatnya akad tersebut. Sebagaimana dimungkinkan terjadinya proses perceraian setelah dinyatakan akad tersebut.
Abu Hasan Al-faris mengatakan: Nikah tidak disebutkan dalam Al-qur,an, melainkan dengan pengertian kawin. Seperti pada Firman Allah subhanahu wata’ala: “Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. “ (An-Nisa’:6).
Sebagian ulama yang lainnya sepakat bahwa pengertian jima’ merupakan kinayah yang mengarah pada pengertian yang kurang disenangi (tabu) sehingga cenderung dihindari penggunaannya. Kesimpulannya, nikah itu pada dasarnya berarti akad.
2. Hukum Nikah
Nikah merupakan amalan yang disyari’atkan. Hal ini didasarkan pada Firman Allah subhanahu wata’ala:
“maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (kawinilah) seorang saja , atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa : 3)
Demikian juga dengan firman Allah subhanahu wata’ala yang lain:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)
Para ulama menyebutkan bahwa nikah diperintahkan karena dapat mewujudkan maslahat; memelihara diri, kehormatan, mendapatkan pahala dan lain-lain. Oleh karena itu, apabila pernikahan justru membawa madharat maka nikahpun dilarang. Dari sini maka hukum nikah dapat dibagi menjadi lima:
a. Disunnahkan bagi orang yang memiliki syahwat (keinginan kepada wanita) tetapi tidak khawatir berzina atau terjatuh dalam hal yang haram jika tidak menikah, sementara dia mampu untuk menikah.
Karena Allah telah memerintahkan dan Rasulpun telah mengajarkannya. Bahkan di dalam nikah itu ada banyak kebaikan, berkah dan manfaat yang tidak mungkin diperoleh tanpa nikah, sampai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Dalam kemaluanmu ada sedekah.” Mereka bertanya:”Ya Rasulullah , apakah salah seorang kami melampiaskan syahwatnya lalu di dalamnya ada pahala?” Beliau bersabda:”Bagaimana menurut kalian, jika ia meletakkannya pada yang haram apakah ia menanggung dosa? Begitu pula jika ia meletakkannya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban)
Juga sunnah bagi orang yang mampu yang tidak takut zina dan tidak begitu membutuhkan kepada wanita tetapi menginginkan keturunan. Juga sunnah jika niatnya ingin menolong wanita atau ingin beribadah dengan infaqnya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Kamu tidak menafkahkan satu nafkah karena ingin wajah Allah melainkan Allah pasti memberinya pahala, hingga suapan yang kamu letakkan di mulut isterimu.”(HR. Bukhari dan Muslim)
“Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, dinar yang kamu nafkahkan untuk budak, dinar yang kamu sedekahkan pada orang miskin, dinar yang kamu nafkahkan pada isterimu maka yang terbesar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan pada isterumu.” (HR. Muslim)
b. Wajib bagi yang mampu nikah dan khawatir zina atau maksiat jika tidak menikah. Sebab menghindari yang haram adalah wajib. Qurthubi mengatakan, “orang yang mampu adalah orang yang takut dengan bahaya membujang atas diri dan agamanya dan bahaya itu hanya dapat terjaga dengan cara menikah. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban menikah atas mereka. Jika ia takut terjerumus, tapibelum mampu untuk memberi nafkah, Allah swt. Berfirman,
“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah member kemampuan kepada mereka dengan karunianya”. (Q.S. An-Nuur: 33)(Fiqih Sunnah Hal: 312)
c. Mubah bagi yang mampu dan aman dari fitnah, tetapi tidak membutuhkannya atau tidak memiliki syahwat sama sekali seperti orang yang impotent atau lanjut usia, atau yang tidak mampu menafkahi, sedangkan wanitanya rela dengan syarat wanita tersebut harus rasyidah (berakal).
Juga mubah bagi yang mampu menikah dengan tujuan hanya sekedar untuk memenuhi hajatnya atau bersenang-senang, tanpa ada niat ingin keturunan atau melindungi diri dari yang haram.
d. Haram nikah bagi orang yang tidak mampu menikah (nafkah lahir batin) dan ia tidak takut terjatuh dalam zina atau maksiat lainnya, atau jika yakin bahwa dengan menikah ia akan jatuh dalam hal-hal yang diharamkan.
Thabrani berkata, “ketika seseorang mengetahui secara pasti bahwa ia tidak akan mampu untuk mrmberi nafkah kepada istrinya, membayar maharnya, maupun menjalankan segala konsekuwensi pernikahan, maka haram baginya untuk menikah hingga ia benar-benar merasa mampu.” Pernikahan juga diharamkan jika ada penyakit yang menghalanginya untuk bersenggama seperti gila, kusta, dan penyakit kelamin, begitu pula bagi seorang laki-laki. Dan Juga haram nikah di darul harb (wilayah tempur) tanpa adanya faktor darurat, jika ia menjadi tawanan maka tidak diperbolehkan nikah sama sekali.
e. Makruh menikah jika tidak mampu karena dapat menzhalimi isteri, atau tidak minat terhadap wanita dan tidak mengharapkan keturunan.. Juga makruh jika nikah dapat menghalangi dari ibadah-ibadah sunnah yang lebih baik. Makruh berpoligami jika dikhawatirkan akan kehilangan maslahat yang lebih besar.
Ibnu Hazm berkata: diwajibkan nikah atas orang yang telah berkuasa mengumpuli istri, jika ia mampu memikul beban nikah. Jika tidak mampu sering-seringlah berpuasa. Demikian pendapat segolongan Ulama Salaf.
Ibnu Taimiyyah berkata. Di dalam al-Ikhtiyarat: tidak menginginkan berkeluarga dan berketurunan adalah sikap tidak disukai oleh Allah swt dan Rasulnya dan tidak berasal dari ajaran agama para Nabi, karena Allah swt. Berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan”.(Q.S. ar-Ra’d: 38)
Dan bagi orang tua tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak ia sukai agar anak itu tidak menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya sebagaimana memaksakan memakan apa yang ia tidak sukai. (Nailul Authar jld V, Hal: 2132-2133)

3. Anjuran menikah
Dari Abdullah bin Mas’ud, dia menceritakan, kami pernah bepergian bersama Rasulullah yang pada saat itu kami masih muda dan belum mempunyai kemampuan apapun. Maka beliau bersabda:

“Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluanBarangsiapa tidak mampu menikah maka berpuasalah, karena hal itu baginya adalah pelemah syahwat.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik r.a, ia menceritakan: “Ada sebagian shahabat Nabi saw. yang berkata. Aku tidak akan kawin; sebagian yang lain berkata: aku akan shalat terus-menerus dan tidak akan tidur; dan sebagian yang lain lagi berkata: aku akan berpuasa selama-lamanya, kemudian hal itu sampai kepada Nabi Muhammad saw, maka ia bersabda. “Bagaimanakah gerangan kaum yang berkata demikian dan demikian, padahal aku berpuasa, berbuka, shalat, tidur dan juga mengawini perempuan; Maka siapa yang tidak menyukai sunnahku, tidaklah ia dari golonganku”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan merupakan ibadah yang dengannya seseorang telah menyempunakan setengah dari agamanya serta menemui Allah dalam keadaan suci dan bersih. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
“Barang siapa telah diberi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka ia telah membantunya untuk menyempurnakan setengah dari agamanya, untuk itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah lainnya”(H.R. Tabrani dan Al-Hakim).
Menikah merupakan sunnah para nabi dan risalah para rasul. Sebagai ummat, kita berkewajiban untuk meneladani mereka. Allah SWT. Berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Q.S. Ar-Ra’d:38)
Terkadang seseorang dihinggapi perasaan ragu lalu enggan melaksanakan pernikahan.
Hal itu disebabkan oleh rsa takut jika nantinya harus mengambil alih tanggung jawab menghidupi keluarga, sehingga menjadikan dirinya terbebani. Karena itu islam selalu menekankanbahwa Allah swt. Menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk memperoleh kekayaan , mengurangi beban kehidupan, dan memberinya kekuatan yang dapat menghindarkan manusia dari kemiskinan.

Allah swt. Berfirman:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An-nur: 32)
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tiga golongan yang berhak mendapat perlindungan Allah swt.: (1) orang yang berjuang di jalan Allah, (2) orang yang berjanji untuk kemudian menepati, dan (3) orang yang menikah demi menjaga kehormatannya.” (H.R. Tirmidzi).
4. Beberapa Nikah yang Dilarang
a. Menikah dibawah umur
Laki-laki dan perempuan yang masih dibawah umur tidak diperbolehkan nikah sehingga kedua-duanya mencapai baligh dan persetujuan kedua orang tuanya. Demikian menurut pendapat ibnu syibrimah.
Hasan dan Ibrahim An-Nakha’I berpendapat: ‘diperbolehkan bagi orang tua menikahkan putrinya yang masih kecil dan juga yang sudah besar, baik gadis maupun janda, meskipun keduanya tidak menyukainya.
Disisi lain Abu Hanifah mengatakan: “Orang tua diperbolehkan menikahkan putrinya yang belum balig, baik ia masih gadis maupun sudah janda.
Ibnu Qoyyim al Jauziyah menyebutkan tentang perkawinan Nabi saw dengan Aisyah. Ia adalah seorang wanita yang disucikan dari langit ketujuh. Ia adalah kekasih Rasulullah saw yang disodorkan oleh para malaikat dengan tertutupi secarik kain sutera sebelum beliau saw menikahinya, dan malaikat itu mengatakan,”Ini adalah isterimu.” (HR. Bukhori dan Muslim). Beliau saw menikahinya pada bulan Syawal yang pada saat itu Aisyah berusia 6 tahun dan mulai digaulinya pada bulan syawal setahun setelah hijrah pada usianya 9 tahun. Rasulullah saw tidak menikahi seorang perawan pun selain dirinya, tidak ada wahyu yang turun kepada Rasulullah saw untuk menikahi seorang wanita pun kecuali Aisyah ra.” (Zaadul Ma’ad juz I hal 105 – 106)
Beberapa dalil lainnya tentang pernikahan Rasulullah saw dengan Aisyah telah dijelaskan dalam hadits-hadits shohih berikut :
1. Dari Aisyah ra bahwasanya Nabi saw berkata kepadanya, ”Aku telah melihat kamu di dalam mimpi sebanyak dua kali. Aku melihat kamu tertutupi secarik kain sutera. Dan Malaikat itu mengatakan, ’Inilah isterimu, singkaplah.” Dan ternyata dia adalah kamu, maka aku katakan, ’Bahwa ini adalah ketetapan dari Allah.” (HR. Bukhori)
2. Diceritakan oleh Ubaid bin Ismail, diceritakan oleh Abu Usamah dari Hisyam dari Ayahnya berkata, ”Khodijah ra telah meninggal dunia tiga tahun sebelum Rasulullah saw berhijrah ke Madinah. Kemudian beliau saw berdiam diri dua tahun atau seperti masa itu. Beliau saw menikah dengan Aisyah ra pada usia 6 tahun. Dan Rasulullah saw menggaulinya pada saat Aisyah berusia 9 tahun” (HR. Bukhori)
3. Dari Aisyah ra berkata, ”Rasulullah saw menikahiku di bulan syawal dan menggauliku juga di bulan syawal. Maka siapakah dari isteri-isteri Rasulullah saw yang lebih menyenangkan di sisinya dari diriku? Dia berkata, ’Sesungguhnya Aisyah menyukai jika ia digauli pada bulan syawal.” (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim serta pendapat para ahli sejarah islam, menunjukkan bahwa usia perkawinan Aisyah dengan Rasulullah saw adalah 6 tahun meskipun kemudian digauli pada usianya 9 tahun. Pernikahan beliau saw dengan Aisyah adalah dalam rangka menjalin kasih sayang dan menguatkan persaudaraan antara beliau saw dengan ayahnya, Abu Bakar ash Shiddiq, yang sudah berlangsung sejak masa sebelum kenabian.
Dan pernikahan Aisyah pada usia yang masih 6 tahun dan mulai digauli pada usia 9 tahun bukanlah hal yang aneh, karena bisa jadi para wanita di satu daerah berbeda batas usia balighnya dibanding dengan para wanita di daerah lainnya. Hal ini ditunjukan dengan terjadinya perbedaan di antara para ulama mengenai batas minimal usia wanita mendapatkan haidh sebagai tanda bahwa ia sudah baligh.
1. Imam Malik, al Laits, Ahmad,. Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa batas usia baligh adalah tumbuhnya bulu-bulu di sekitar kemaluan, sementara kebanyakan para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa batasan usia haidh untuk perempuan dan laki-laki adalah 17 tahun atau 18 tahun.
2. Abu Hanifah berpendapat bahwa usia baligh adalah 19 tahun atau 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi wanita.
3. Syafi’i, Ahmad, Ibnu Wahab dan jumhur berpendapat bahwa hal itu adalah pada usia sempurna 15 tahun. Bahkan Imam Syafi’i pernah bertemu dengan seorang wanita yang sudah mendapat monopouse pada usia 21 tahun dan dia mendapat haidh pada usia persis 9 tahun dan melahirkan seorang bayi perempuan pada usia persis 10 tahun. Dan hal seperti ini terjadi lagi pada anak perempuannya. (Disarikan dari Fathul Bari juz V hal 310)
Perbedaan para imam madzhab di atas mengenai usia baligh sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kultur di tempat mereka tinggal. Imam Abu Hanifah tinggal di Kufah, Iraq. Imam Malik tinggal di kota Rasulullah saw, Madinah. Imam Syafi’i tinggal berpindah-pindah mulai dari Madinah, Baghdad, Hijaz hingga Mesir dan ditempat terakhir inilah beliau meninggal. Sedangkan Imam Ahmad tinggal di Baghdad.
b. Nikah Syighar
Syighar didalam bahasa arab berarti kosong atau meninggalkan, maksud dari nikah syighar adalah seseorang menikahkan anak perempuannya dengan syarat; orang yang menikahi anaknya itu juga menikahkan putri yang ia miliki dengannya. Baik itu dengan memberikan maskawin bagi keduanya maupun salah satu darinya atau tidak memberikan maskawin sama sekali. Kesemuanya itu tidak dibenarkan dalam syari’at Islam. Dan bentuk pernikahan seperti ini cukup popular dikalangan masyarakat Arab jahiliyah.
“Dan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. melarang nikah syighar; sedang syighar yaitu, seorang laki-laki berkata: kawinkanlah aku dengan anak perempuanmu, dan aku akan mengawinkan engkau dengan anak perempuanku, atau: kawinkanlah aku dengan saudara perempuanmu dan aku akan mengawinkan engkau dengan saudara perempuanku. (H.R Muslim)
Syarih rahimahullah berkata: Syighar itu mempunyai dua bentuk, pertama yaitu tanpa adanya mahar bagi masing-masing pihak, sedang yang kedua yaitu masing-masing dari kedua wali itu membuat syarat kepada yang lain agar menikahkan kepada perempuan yang berada di bawah perwaliannya. Maka diantara para ulama ada yang menganggap pada bentuk pertama saja yang dilarang sedang yang kedua tidak.
Ibnu Abdil Bar berkata: Ulama telah sepakat, bahwa nikah syighar itu tidak boleh, tetapi mereka masih berbeda pendapat tentang kesahannya; jumhur berpendapat batal. Dan dari suatu riwayat dari Imam Malik, bahwa pernikahan itu difasakh sebelum bercampur, bukan sesudahnya. Sedang menurut golongan Hanafiyah, sah dan wajib membayar mahar.
Sedangkan Imam Syafi’I mengatakan: “Nikah ini menjadi batal jika mahar tidak disebutkan didalamnya. Jika mahar disebutkan didalamnya, baik itu dari kedua belah pihak maupun salah satu dari keduanya, maka ditetapkan sebagai pernikahan bersama dan mahar yang disebutkan menjadi batal. Untuk itu bagi masing-masing dari keduanya harus membayar mahar dalam jumlah yang sama.
c. Nikah Mut’ah
Para ulama sepakat atas haramnya pernikahan ini. Mereka menegaskan, apabila pernikahan ini dilaksanakan, maka pernikahan ini merupakan pernikahan yang tidak sah. Karena bentuk pernikahan seperti ini tidak memiliki kaitan dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan didalam Al-Quran, baik hokum yang berkenaan dengan pernikaha, talak, iddah, maupun waris sehingga pelaksanaan nikah dengan cara seperti itu tidak sah.
Ada beberapa hadits yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.
• Ibnu Hazm mengatakan: “Nikah mut’ah adalah nikah dengan batasan waktu tertentu dan hal ini dilarang dalam Islam.” Nikah mut’ah ini pernah diperbolehkan pada masa Rasulullah saw. dan kemudian Allah swt. menghapusnya melalui lisan beliau untuk selamanya, sampai hari kiamat kelak.
• Dari Ali r.a., ia berkata:” Rasulullah sallallahu alaihi wassallam melarang nikah mut’ah dan juga daging keledai peliharaan pada masa perang khaibar.”(Muttafaqun Alaih).
• Umar bin Khattab r.a. menegaskan larangan nikah mut’ah pada masa kekhalifahannya. Begitu pula para sahabat r.a. mereka menetapkan larangan nikah mut’ah yang sangat tidak mungkin lagi mereka untuk menetapkan sesuatu secara tidak benar jika memang larangan itu merupakan suatu kesalahan.
• Khaththabi berkata, para ulama mengharamkan nikah mut’ah secara ijma’, kecuali beberapa golongan dari kaum syi’ah.
Baihaqi meriwayatkan bahwa ja’far bin Muhammad pernah ditanya mengenai nikah mut’ah dan dia menjawab, “nikah mut’ah merupakan salah satu praktik zina.

d. Menikahi wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah
Tidak seorangpun diperbolehkan melamar wanita muslimah yang sedang menjalani masa ‘iddah, baik karena perceraian maupun karena kematian suaminya. Jika menikahinya sebelum masa ‘iddahnya selesai. Di samping itu tidak ada waris diantara keduanya dan tidak ada kewajiban memberi nafkah serta mahar bagi wanita tersebut.
Dalil yang menjadi landasan dalam hal ini firman Allah swt:
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(Q.S. Al-Baqarah: 235).
Ibnu hazm mengatakan: “mengenai sahnya bagi orang yang tidak mengetahui danya larangan menikah dengan wanita yang tengah berada dalam masa ‘iddah, maka hal ini tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi suatu kewajiban untuk memberlakukan had bagi orang yang mengetahui larangan tersebut, karena Allah swt berfirman:
“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”(Q.S. Al-Mukminun: 5-7).
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “anak itu bagi tempat tidur dan bagi yang berzina, rajam.(H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dalam hadits ini Rasulullah saw tidak menganggap sah seorang anak, melainkan dua katagori, yaitu dilahirkan dari pernikahan yang sah(tempat tidur) atau dari hasil perzinahan.
Karena orang yang melakukan perzinahan harus diberikan had. Akan tetapi, bagi orang yang tidak mengetahui atau karena factor kesalahan yang tidak disengaja, maka tidak berlaku baginya had. Sebagaimana firman Allah swt,
“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.S Al-Ahzab: 5).
5. Rukun dan Syarat Akad Nikah
Akad nikah mempunyai beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rukun dan syarat menentukan hukum suatu perbuatan, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan. Dalam pernikahan misalnya, rukun dan syaratnya tidak boleh tertinggal. Artinya, pernikahan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap.
Perbedaan rukun dan syarat adalah kalau rukun itu harus ada dalam satu amalan dan ia merupakan bagian yang hakiki dari amalan tersebut. Sementara syarat adalah sesuatu yang harus ada dalam satu amalan namun ia bukan bagian dari amalan tersebut. Sebagai misal adalah ruku’ termasuk rukun shalat. Ia harus ada dalam ibadah shalat dan merupakan bagian dari amalan/tata cara shalat. Adapun wudhu merupakan syarat shalat, ia harus dilakukan bila seseorang hendak shalat namun ia bukan bagian dari amalan/tata cara shalat.
Dalam masalah rukun dan syarat pernikahan ini kita dapati para ulama berselisih pandang ketika menempatkan mana yang rukun dan mana yang syarat. (Raddul Mukhtar, 4/68, Al-Hawil Kabir, 9/57-59, 152, Al-Mu’tamad fi Fiqhil Imam Ahmad, 2/154)
Akan tetapi karena perselisihan yang ada panjang dan lebar, sementara ruang yang ada terbatas, kita langsung pada kesimpulan akhir dalam permasalahan rukun dan syarat ini.
Rukun Nikah
Rukun nikah adalah sebagai berikut:
1. Adanya calon suami dan istri yang tidak terhalang dan terlarang secara syar’i untuk menikah. Di antara perkara syar’i yang menghalangi keabsahan suatu pernikahan misalnya si wanita yang akan dinikahi termasuk orang yang haram dinikahi oleh si lelaki karena adanya hubungan nasab atau hubungan penyusuan. Atau, si wanita sedang dalam masa iddahnya dan selainnya. Penghalang lainnya misalnya si lelaki adalah orang kafir, sementara wanita yang akan dinikahinya seorang muslimah.
2. Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali. Misalnya dengan si wali mengatakan, “Zawwajtuka Fulanah” (”Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah”) atau “Ankahtuka Fulanah” (”Aku nikahkan engkau dengan Fulanah”).
3. Adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya, dengan menyatakan, “Qabiltu Hadzan Nikah” atau “Qabiltu Hadzat Tazwij” (”Aku terima pernikahan ini”) atau “Qabiltuha.”

Dalam ijab dan qabul dipakai lafadz inkah dan tazwij karena dua lafadz ini yang datang dalam Al-Qur`an. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا
“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), zawwajnakaha1 (Kami nikahkan engkau dengan Zainab yang telah diceraikan Zaid).” (Al-Ahzab: 37)
Dan firman-Nya:
وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
“Janganlah kalian menikahi (tankihu2) wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri).” (An-Nisa`: 22)
Namun penyebutan dua lafadz ini dalam Al-Qur`an bukanlah sebagai pembatasan, yakni harus memakai lafadz ini dan tidak boleh lafadz yang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, demikian pula murid beliau Ibnul Qayyim rahimahullahu, memilih pendapat yang menyatakan akad nikah bisa terjalin dengan lafadz apa saja yang menunjukkan ke sana, tanpa pembatasan harus dengan lafadz tertentu. Bahkan bisa dengan menggunakan bahasa apa saja, selama yang diinginkan dengan lafadz tersebut adalah penetapan akad. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Malik, Abu Hanifah, dan salah satu perkataan dari mazhab Ahmad. Akad nikah seorang yang bisu tuli bisa dilakukan dengan menuliskan ijabqabul atau dengan isyarat yang dapat dipahami. (Al-Ikhtiyarat, hal. 203, I’lamul Muwaqqi’in, 2/4-5, Asy-Syarhul Mumti’, 12/38-44, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/283-284)
Adapun syarat nikah adalah sebagai berikut:
Syarat pertama: Kepastian siapa mempelai laki-laki dan siapa mempelai wanita dengan isyarat (menunjuk) atau menyebutkan nama atau sifatnya yang khusus/khas. Sehingga tidak cukup bila seorang wali hanya mengatakan, “Aku nikahkan engkau dengan putriku”, sementara ia memiliki beberapa orang putri.
Syarat kedua: Keridhaan dari masing-masing pihak, dengan dalil hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ
“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat, dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458)
Syarat ketiga: Adanya wali bagi calon mempelai wanita, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ
“Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali.”(HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1839)
Dari ‘Aisyah berkata, Rasulullah saw bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيْهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
“Wanita mana saja yang menikah tanpa izin wali-walinya maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil.” (HR. Abu Dawud no. 2083, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
Apabila seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali maka nikahnya batil, tidak sah. Demikian pula bila ia menikahkan wanita lain. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dan inilah pendapat yang rajih. Diriwayatkan hal ini dari ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Demikian pula pendapat yang dipegangi oleh Sa’id ibnul Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, ‘Umar bin Abdil ‘Aziz, Jabir bin Zaid, Ats-Tsauri, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubrumah, Ibnul Mubarak, Ubaidullah Al-’Anbari, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Abu ‘Ubaid rahimahumullah. Al-Imam Malik juga berpendapat seperti ini dalam riwayat Asyhab. Adapun Abu Hanifah menyelisihi pendapat yang ada, karena beliau berpandangan boleh bagi seorang wanita menikahkan dirinya sendiri ataupun menikahkan wanita lain, sebagaimana ia boleh menyerahkan urusan nikahnya kepada selain walinya. (Mausu’ah Masa`ilil Jumhur fil Fiqhil Islami, 2/673, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/284-285).

Penutup

Pernikahan merupakan ibadah yang dengannya seseorang telah menyempunakan setengah dari agamanya serta menemui Allah dalam keadaan suci dan bersih. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
“Barang siapa telah diberi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka ia telah membantunya untuk menyempurnakan setengah dari agamanya, untuk itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah lainnya”(H.R. Tabrani dan Al-Hakim).
Menikah merupakan sunnah para nabi dan risalah para rasul dan dibenci bagi orang yang meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, dan bahkan bukan termasuk golongan Ummat Nabi Muhammad saw.
Pernikahan adalah suatu amalan yang disyariatkan dalam agama islam bagi yang mampu, serta mendapatkan pahala dari Allah swt.Dan mengharamkan perbuatan zina. Dengan adanya nikah ini kehormatan seseorang bisa terjaga.
Tidaklah sah pernikahan seseorang tanpa ada wali, oleh karena itu hendaknya seseorang jika ingin menikah harus memperhatikan syarat dan rukun yang telah diatur oleh islam. Agar pernikahannya diridloi oleh Allah swt.

Daftar Pustaka.

Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita, Pustaka Al-Kautsar, jakarta, 1998.
Muhammad sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Darul Fath,Jakarta 2008
Syaikh Faishol bin Abdul Aziz Ali Mubarok, Nailul Author,Bina Ilmu, Surabaya,2001.
Majalah Asy Syari’ah, Vol. IV/No. 39/1429H/2008, kategori: Kajian Utama, hal. 23-27
Dr. ‘Abdul ‘Adzim Barawi, Al-Wajiz Fii Fiqhish-Shunnah walkitabil ‘Aziz, Ibnu Rajab, mesir, 2001


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: