Oleh: Abu Alya | November 26, 2010

Jual Beli Kontan dan Kredit

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Rob semesta alam yang dengan rahmat-Nyalah kita dapat memahami mana yang haq dan mana yang bathil melalui penjelasan-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’anul karim, Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi agung ushwah kita Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi panutan kita dan acuan kita dalam memecahkan berbagai permasalahan yang terjadi di dunia ini baik masalah Ibadah maupun muamalah.
Allah Swt berfirman:
واحل ا لله ا لبيع وحرم الربوا
Artinya : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baarah : 275)
Allah swt telah menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya, supaya mereka saling tolong menolong dalam segala urusan. Dan Allah menjadikan jual beli sebagai salah satu jalan yang haq bagi manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Allah Swt berfirman :
لا تأ كلواا موا لكم بينكم با لبا طل ا الا ان تكو ن تجا رة عن ترا ض منكم
Artinya :” Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” ( An-Nisa :29).
Transaksi jual beli yang terjadi di masyarakat beragam bentuknya, salah satunya yang banyak terjadi di masyarakat saat ini adalah jual beli kredit (al-bai’ bi taqsith). Jual beli dengan cara taqsith ini bisa menjadi jual beli yang halal atau sah tetapi bisa juga menjadi bentuk jual beli yang haram yaitu mengandung unsur riba. Minimnya pemahaman masyarakat tentang jual beli dengan cara ini, menjadikan banyak orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja terjerumus kedalam bentuk jual beli yang tidak sah menurut syari’at Islam.
Dari latar belakang tersebut diatas menunjukkan betapa pentingnya pemahaman masyarakat tentang jual beli khususnya dengan cara taqsith yang halal menurut syariat Islam.Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang Jual Beli secara kontan dan Taqsith (kredit) Dalam Islam.

Pembahasan
A. Jual Beli Kontan
1. Pengertian Jual Beli
Menurut etimologi, jual beli diartikan :

مقا بلة الشيء با لشيء
“ Pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain) “ .
Kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah, sebagaimana Allah SWT berfirman :
ير جو ن تجا رة لن تبو ر
“ Mereka mengharapkan tijarah (perdagangan) yang tidak akan rugi . (Fathir : 29).
Menurut istilah (terminologi) yang dimaksud jual beli adalah sebagai berikut :
a. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.
b. Menurut ulama hanafiyah:

مبا د لة ما ل بما ل على وجه مخصوص
“ Pertukaran harta benda dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)”.

1. مقا بلة ما ل قا بلين للتصرف بإيجاب وقبول عل الوجه المأ ذون فيه
“ Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab dan qabul, dengan cara yang sesuai dengan syara’.”

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
Sesuai dengan ketetapan hukum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jual beli sehingga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak syara’.
Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut syara’. Benda itu ada kalanya bergerak (dipindahkan) dan ada kalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi , ada kalanya tidak dapat dibagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (mitsli) dan tak ada yang menyerupainya (qimi) dan yang lain-lainnya. Penggunaan harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’.
Benda-benda seperti alcohol, babi, dan barang terlarang lainya haram diperjual belikan sehingga jual beli tersebut dipandang batal dan jika dijadikan harga penukar, maka jual beli tersebut dianggap fasid.

2. Landasan Syara’
Jual beli disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’, yakni :
a. Al-Qur’an, diantranya :
واحل ا لله ا لبيع وحرم ا لربوا
“ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
( Q.S. Al-Baqaroh :275)
وأ شهدوا إذا تبا يعتم
Artinya : Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ( Q.S. Al-Baqarah :282)
b. As-sunnah, di antaranya :

سئل النبي صلى الله عليه وسلم : أي الكسب أطيب ؟ فقال : عمل الرجل بيده وكلّ بيع مبرورٍ .
( رواه البزار وصححه الحا كم عن رفا عه ابن الرافع)
Artinya : “ Nabi Muhammad SAW ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik. Beliau menjawab, ‘Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur : “ (H.R. Bajjar, Hakim menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’)
Maksud mabrur dalam hadits diatas adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu – menipu dan merugikan orang lain.

c. Ijma’
Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.
3. Rukun dan Pelaksanaan Jual – Beli
Dalam menetapkan rukun jual beli,diantaranya para ulama terjadi perbedaan pendapat. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridlo,baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Adapun rukun jual – beli menurut jumhur ulama ada empat , yaitu:
a. Bai’ (penjual).
b. Musytari ( pembeli )
c. Shighat (ijab dan qabul ).
d. Ma’qud ‘alaih ( benda atau barang ).
A. Penjual dan Pembeli
Penjual dan pembeli mempunyai empat syarat :
a. Berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.
b. Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa).
Firman Allah SWT : “ janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu ( Q.S. An – Nisa’ : 29 )
c. Tidak mubadzir (pemboros), sebab harta orang yang mubadzir itu ditangan walinya
Firman Allah SWt : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupanmu. Berilah mereka belanja dan pakaian.
Maksud nya adalah orang-orang yang kurang sempurna akalnya tidak boleh mentasarrufkan hartanya karena usia yang bersangkutan usianya masih sangat muda.
d. Baligh (berumur 15 tahun keatas/dewasa).Anak kecil tidak sah jual belinya. Adapun anak-anak yang sudah mengerti tetapi belum sampai umur dewasa, menurut pendapat sebagian ulama,mereka dibolehkan berjual beli barang yang kecil – kecil; karena kalau tidak dibolehkan,sudah tentu menjadi kesulitan dan kesukaran.

B. Ijab Dan Qabul
Masalah ijab dan qabul ini para ulama fiqih berbeda pendapat, diataranya :
1. Menurut Ulama Syafi’iyah ijab dan qabul ialah:
لاينعقد البيع إلاّ با لصِّفة الكلا ميه
“Tidak sah akad jual beli kecuali dengan shighat (ijab qabul) yang diucapkan.”
2. Imam Malik berpendapat :

إنّ البيع قد وقع وقد لزم با لاستفها م
“ Bahwa jual beli itu telah sah dan dapat dilakukan secara dipahami saja”.

Ijab dan Qabul terdapat tiga syarat berikut ini:
a. Ahli akad
Menurut ulama Hanafiyah, seorang anak yang berakal dan mumayyiz (berumur tujuh tahun,tetapi belum baligh) dapat menjadi ahli akad. ) Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa akad anak mumayyiz bergantung pada izin walinya. Adapun menurut ulama Syafi’iyah, anak mumayyiz yang belum baligh tidak dibolehkan melakukan akad sebab ia belum dapat menjaga agama dan hartanya (masih bodoh).
b. Qabul harus sesuai dengan ijab
Maksudnya salah satu dari keduanya pantas menjadi jawaban dari yang lain dan belum berselang lama.
c. Ijab dan Qabul harus bersatu.
C. Ma’qud ‘alaih (benda Atau barang)
Ma’qud ‘alaih harus memenuhi empat syarat:
a. Ma’qud ‘alaih harus ada , tidak boleh akad atas barang-barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada, seperti jual beli hewan yang masih dalam kandungan. Rasulullah SAW melarang menjual janin yang masih didalam perut. ) Dan jual beli buah yang masih ada di tangkainya. Bersumber dari Imam Malik, sesungguhnya ia mendengar, bahwa Muhammad bin Sirrin pernah mengatakan: “ Janganlah kamu menjual biji-bijian yang masih ada ditangkainya sebelum ia memutih.” ) Secara umum dalil yang digunakan sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW. melarang jual beli buah yang belum tampak hasilnya.
b. Harta harus kuat, tetap, dan bernilai, yakni benda yang dapat dimanfaatkan dan disimpan.
c. Benda tersebut milik sendiri, oleh karena itu tidak boleh menjual barang sewaan atau barang gadai, sebab barang tersebut bukan miliknya sendiri, kecuali kalau diizinkan oleh pemilik sebenarnya.
d. Dapat diserahkan dan dapat dilihat wujudnya.

4. Hukum dan Sifat Jual Beli

Ditinjau dari hukum dan sifat jual beli, jumhur ulama membagi jual beli menjadi dua macam, yaitu jual beli yang dikategorikan sah (shahih) dan jual beli yang dikategorikan tidak sah. Jual beli sahih adalah jual beli yang memenuhi ketentuan Syara’, baik rukun maupun syaratnya, sedangkan jual beli tidak sah adalah jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukun sehingga jual beli menjadi rusak (fasid)atau batal.

5. Jual Beli yang Dilarang dalam Islam
Jual beli yang dilarang dalam Islam sangatlah banyak di antaranya :
a. Jual beli bersyarat dan jual beli plus peminjaman
Diantara dalilnya adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan ulama lain dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya , dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda : لايحلّ سلف وبيع , ولاشرطا ن في بيع, ولا ربح ما لم يضمن , ولا بيع ما ليس عندك
“Haram hukumnya melakukan jual beli bercampur pinjaman, haram menetapkan dua syarat dalam jual beli, haram menjual barang yang belum dimiliki atau menjual barang yang tidak ada pada penjual. ”
Ungkapan: “ haram menetapkan dua syarat dalam jual beli,” contohnya: “saya menjual pakaian ini kepada anda secara kontan seharga satu dinar dan secara berjangka seharga dua dinar.” Adapun jual beli bercampur pinjaman, seperti orang yang memberikan pinjaman kepada tetangganya sebanyak seratus dinar untuk dibayar selama satu tahun, kemudian ia menjual barang seharga lima puluh dinar dengan bayaran seratus dalam wujud hutangan tadi. Ia menjadikan jual beli itu sebagai trik meminjamkan uang berbunga yang seharusnya dibayar sesuai dengan jumlah yang dihutangkan. Kalau bukan karena jual beli itu. Ia tidak beniat memberikan pinjaman.
b. Jual Beli orang gila
Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli orang yang gila tidak sah. Begitu pula sejenisnya, seperti orang mabuk, sakalor, dan lain-lain.

c. Jual Beli anak kecil
Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli anak kecil (belum mumayyiz) dipandang tidak sah, kecuali apa yang telah dijelaskan diatas.

d. Jual beli orang buta
Jual beli orang buta dikategorikan sah menurut jumhur jika barang yang dibelinya diterangkan sifat-sifatnya. Adapun menurut ulama syafi’iah dan hana bilah, jual beli tersebut tidak sah sebab ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan yang baik.

e. Jual beli terpaksa
Menurut ulama syafi’iyah dan hanabilah , jual beli dengan paksa tidak sah sebab tidak ada keridlo’an ketika akad.

f. Jual beli fudhul
Jual beli fudhul adalah jual beli milik orang tanpa seizin pemiliknya, menurut ulama syafi’iyah dan hanabilah, jual beli fudhul tidak sah.
g. Jual beli gharar
Jual beli gharar adalah jual beli barang yang mengandung kesamaran. Hal itu dilarang dalam Isalam. Rasulullah SAW bersabda :
لا تشترواا لسمك فى الماء فإ نّه غرور ( رواه أحمد )
“ Janganlah kamu membeli ikan didalam air karena jual beli seperti itu termasuk gharar ( menipu ). (H.R. Ahmad )
h. Jual Beli waktu Adzan Jum’at
Yakni bagi laki-laki yang berkewajiban yang melaksanakan shalat jum’at. Menurut ulama Hanafiyah pada waktu adzan pertama, sedangkan menurut ulama lainnya , adzan ketika khatib sudah berada dimimbar. Ulama Hanafiyah menghukumi makruh tahrim, sedangkan Ulama Syafi’iyah menghukumi Shaih haram. Tidak jadi pendapat yang masyhur dikalangan Ulama Malikiyah, dan tidak sah menurut Ulama Hanabilah. Dan masih banyak lagi yang lainnya bentuk jual beli yang dilarang dalam Islam.

6. Macam – macam Jual Beli
Jual beli dapat ditinjau dari beberapa segi. Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek ,jual beli dapat dikemukakan oleh pendapat Imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga macam :
البيوع ثلا ثة بيع عين مشا هدة وبيع شيئ موصوف في الذّ مة وبيع عين غا ئبة لم تشاهد
“ Jual beli itu ada tiga macam : 1. Jual beli benda yang kelihatan, 2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji, 3. Jual beli benda yang tidak ada.”
Jual beli benda yang kelihatan ialah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang diperjual belikan ada didepan penjual dan pembeli hal ini lazim dilakukan oleh masyarakat banyak bahkan cara ini yang lebih baik.
Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian jual beli salam (pesanan). Maksudnya ialah perjanjian yang menyerahkan barang barangnya ditangguhkan hingga masa masa tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.
Jual beli benda yang tidak ada serta tidak dapat dilihat ialah jual beli yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya tidak tentu atau masih gelap sehingga dikhawatirkan barang tersebut diperoleh dari curian atau titipan yang akibatnya dapat menimbulkan keru
ian salah satu pihak
B. JUAL BELI KREDIT
1. Definisi Jual Beli Kredit ( taqsith)
Definisi Kredit secara bahasa ialah pembagian dan pembelahan sesuatu menjadi beberapa bagian secara terpisah.

Kata qisth , sama dengan iqsath, yakni bagian atau jatah. Mengkredit sesuatu, artinya membagi baginya. Kata taqsieth (kredit) artinya adalah pembagi-bagian
Ibnu Manzhur menjelaskan : “Kata qisth atau kredit artinya adalah bagian atau jatah. Seperti contohnya : “Masing-masing dari pihak yang bekerja sama itu mengambil qisth atau bagiannya.
Sementara dalam Al-Mu’jamul Wasith disebutkan; “Mengkredit hutang, artinya membayar hutang tersebut dengan cicilan yang sama pada beberapa waktu yang ditentukan. ‘Mereka saling melakukan kredit’, artinya saling membagi-bagi sesuatu secara adil dan sama rata .

Pengertian terminologis : Menjual sesuatu dengan pembayaran tertunda, dengan memberikan cicilan dalam jumlah-jumlah tertentu dalam beberapa waktu secara tertentu, lebih mahal dari harga kontan.
Dr. Muhammad Aqlah Ibrahim berpendapat, “Ada beberapa pedoman yang dapat dijadikan pegangan dalam memahami maksud bai’ bit-taqsith (jual beli secara kredit) secara syar’i:
Pertama, seorang pedagang menjual barang dagangannya secara mu-ajjalah (kredit) dengan ketentuan harga lebih tinggi daripada secara tunai.
Kedua, taqsith (Kredit) ialah membayar hutang dengan berangsur-angsur pada waktu yang telah ditentukan.
Ketiga, pembayaran yang diangsur ialah sesuatu yang pembayarannya dipersyaratkan diangsur dengan cicilan tertentu dan pada waktu tertentu.

2. Pendapat para Ulama tentang hukum Bai’ Bit- Taqsith
Pendapat yang mengatakan bahwa jual beli kredit diperbolehkan, di antara yang berpendapat demikian dikalangan para ulama adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Al Jibrin dan lainnya. Namun kebolehan jual beli ini menurut para Ulama yang membolehkannya harus memenuhi Syarat yang telah ditentukan oleh Islam.
Di zaman ini Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hukum jual-beli secara kredit:
a. Jaiz ‘boleh’ lagi halal, inilah pendapat jumhur fuqaha;
b. Haram;

3. Jual Beli Kredit yang di bolehkan

Masing-masing pendapat tersebut memiliki alasan dan dasar tertentu.
Dalil-dalil yang membolehkan jual beli Bit-Taqsith ini mengemukakan banyak dalil yang diambil dari Al Qur’an, Sunnah, dan Qiyas.
Firman Allah SWT : “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (Q.S. Al-Baqarah: 282)
Ibnu Abbas R.A menjelaskan :”Ayat ini diturunkan khusus berkaitan dengan jual beli As-Salam saja.”

Al-Qurtubi menjelaskan:” Artinya, kebiasaan masyarakat Al-Madinah melakukan jual beli As-Salam adalah penyebab turunnya ayat tersebut. Namun kemudian ayat tersebut berlaku untuk segala bentuk pinjam meminjam berdasarkan ijma’ Ulama”.
Hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari Aisyah bahwa ia menceritakan:
أ ن رسول الله صلى الله عليه وسلم إشترى من يهودي طعاما إلى أجل ورهنه درعا من حديد
Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran tertunda. Beliau memberikan baju besi beliau kepada lelaki tersebut sebagai boroh atau gadai.(H.R. Bukhari 2068, Muslim 1603).

Sementara dalam lafald hadits muslim disebutkan bahwa RasulullahSAW pernah membeli makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran tertunda. Baliau menggadaikan baju besi beliau kepada lelaki tersebut.

Dalil-dalil Yang Menunjukkan Dibolehkannya Memberikan Tambahan Harga Karena Penundaan Pembayaran Atau Karena Penyicilan:

Firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (Q.S. An-Nisa’ :29)
Jual beli kredit termasuk jenis perdagangan yang dilakukan suka sama suka sehingga diperbolehkan.
Syaikh Bin Baaz saat menjawab pertanyaan tentang hokum menjual karung gula dan sejenisnya seharga 150 real secara kredit, yang nilainya sama dengan 100 real tunai. Maka beliau menjawab, “Transaksi seperti ini boleh-boleh saja, karena jual beli kontan tidak sama dengan jual beli berjangka. Pada waktu itu kaum muslimin sudah terbiasa melakukannya sehingga menjadi Ijma’ dari mereka atas di bolehkannya jual beli seperti ini.
Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin. Beliau berkata dalam Al Mudayanah hal.4, “Macam-Macam hutang piutang; Seseorang membutuhkan untuk membeli barang namun tidak mempunyai uang kontan, maka ia membelinya dengan pembayaran tertunda dalam tempo tertenntu namun dengan adanya tambahan harga dari harga kontan. Ini diperbolehkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim memilih pendapat yang membolehkannya. Begitu juga pendapat dari Imam Syafi’i
Ibnu Taimiyyah menandaskan: “Putaran waktu memang memiliki jatah harga .”
Ibnul Qayyim menyatakan: “Kalau harga kontan dan kredit sama, maka lebih baik membeli kontan.”
Asy-Syaukani menyatakan:”boleh saja menjual sesuatu dengan harga lebih mahal dari harga tunai karena pembayarannya dilakukan tertunda.”
Diriwayatkan juga oleh sebagian ulama adanya Ijma’ terhadap sahnya jenis transaksi ini.
Duqiyaskan dengan jual beli As-Salam. Yakni dalam kontek kebutuhan masyarakat terhadap jenis transaksi ini yang sangat mendesak, seperti halnya kebutuhan mereka terhadap jual beli As-Salam.
Cara ini adalah untuk mempermudah masyarakat dan untuk melariskan barang dagangan sehingga menyebabkan iklim bisnis semakin menggeliat.

4. Jual beli kredit di haramkan
Diantara yang berpendapat demikian dari kalangan ulama kontemporer adalah imam Al Bani yang beliau cantumkan dalam banyak kitabnya, diantaranya silsilah Ahadits Ash Shohihah 5/419-427 juga murid beliau syaikh Salim Al Hilali, dalam mausu’ah Al Manahi Asy Syar’iyah 2/221 dan juga lainnya. Mereka berhujjah dengan beberapa dalil berikut: “Dari Abu Hurairoh dari Rasulullah saw bahwasanya beliau melarang dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli. (H.R. Turmudzi 1331, Nasa’i 17/29, Ahmad 2/432, Ibnu Hibban 4973 dengan sanad hasan).
Dalam riwayat lainnya dengan lafadl, “Barang siapa yang melakukan dua transaksi jual beli, maka dia harus mengambil harga yang lebih rendah, kalau tidak akan terjerumus dalam riba.” (H.R. Abu Dawud 3461, Hakim 2/45 dengan sanad hasan)
Tafsir dari larangan Rasulullah saw “Dua transaksi jual beli dalam satu transaksi” adalah ucapan seorang penjual atau pembeli, “Barang ini kalau tunai harganya segini sedangkan kalau kredit maka harganya segitu.” Penafsiran ini datang dari banyak ulama, yaitu; Sammak bin Harb (salah seorang perowi hadits ini), Abdul Wahhab bin Atho’, Ibnu Sirrin,Thowus, Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’I, Ibnu Qutaibah, Nasa’I dan Ibnu Hibban.

Kesimpulan
Melalui pemaparan berbagai dalil dari kitabullah dan Sunnah Rasul serta kiyas dan pendapat para ulama dari berbagai pendapat yang berbeda-beda, kita bisa memetik kesimpulan tentang dibolehkannya jual beli secara kontan dan jual beli secara kredit atau menambah harga dari pembayaran tertunda dalam jual beli, serta bila semua syarat sahnya jual beli dan soal harga yang sudah disepakati.Maka semua bentuk jual beli dibolehkan.
Kita berharap mudah-mudahan segala bentuk muamalah kita,baik dalam muamalah terhadap sesama maupun muamalah dalam jual beli yang pernah kita lakukan,sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan sesuai dengan apa yang sudah dianjurkan serta dicontohkan oleh Rasulullah saw, serta mampu kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.
Makalah ini tentunya jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pemahaman penulis, oleh karena itu saran, kritikan dan masukan yang sesuai dengan Al-qur’an dan Sunnah dari para pembaca masih sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan sedikit tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. DR. H. Rachmat Syafei, MA., Fiqih Muamalah, Pustaka Setia, Bandung, 2000.
2. Alaudin Al-Kasyani, Bada’I Ash-Shna’I fi Tartib Syara’I, Syirkah Al-Mathbu’ah, mesir.
3. Ibn Abidin, Radd Al-Mukhtar Syarh Tanwir Al-Abshar, Al-Munirah,mesir.
4. Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, Kifayah Al-Akhyar, Dar Al-Fikr,Beirut.
5. H. Sulaiman Rasjid,Fiqh Islam, Sinar Baru Algensido, Bandung, 2007.
6. Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,Tafsir Ibnu kasir, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006.
7. Al-Jazairi, Abdurrahman, t.th. Al-Fiqh Ala Madzahib al-Arrba’ah. Beirut: Dar al-Qalam.
8. Al-Kasani, Abu bakar Ibn Mas’ud. Al-Bada’I wasana’I fitartib as-sara’I Edisi 2 Bol.VI. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.
9. K.H. Adib Bisri Musthofa,Tarjamah Muwaththa’ Al-Imam Malik r.a.Asyifa’ Semarang 1992.
10. Jalaluddin As-Suyuthi, Sunan Nasa’I jld IV, Beirut: Dar Al-Kitab al-Arabi.
11. Hisyam bin Muhammad Said Ali Barghasy, Jual Beli Secara Kredit, At-Tibyan-solo
12. DR. Al-Amien Ahmad, Jual Beli Kredit, Gema Insani,Jakarta 1998.
13. Dr.H.Hendi Suhendi, M.Si, Fiqh Muamalah, Raja Grafindo Persada, Jakarta 2002.
14. Majalah Al-furqon, Edisi 4, Tahun IV Dzulqa’dah 1425 hal 31.


Responses

  1. saya nak tau hukum jual beli bagi orang buta dengan lebih lanjut…
    lebih penerangan…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: