Oleh: Abu Alya | Maret 16, 2010

Islam dan Pelestarian Lingkungan

Islam adalah Agama kasih sayang dan agama yang Sempurna, yang mengatur semua bentuk kehidupan manusia baik kehidupan dalam berumah tangga, maupun kehidupan bermasyarakat. Dan agama ini agama yang diridloi oleh Allah yang maha mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT :

“Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu.” (QS. Al-Maidah : 3).

Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah swt:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Q.S Al-Baqarah: 30).

Arti khalifah di sini adalah: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”.

Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi ini untuk mengatur kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata, namun sebaliknya  justru saat ini manusia telah membuat kerusakan di muka bumi. Lingkungan hidup yang seharusnya membawa keberkahan bagi manusia, kini malah menjadi bencana bagi manusia itu sendiri.

I. Landasan-Landasan pelestarian Lingkungan Hidup menurut Al-Qur’an dan Hadits

sebagai muslim kita seharusnya memahami landasan-landasan dari pelestarian lingkungan hidup. Pelestarian lingkungan hidup tak terlepas
dari manusia sebagai khalifah di bumi ini. Landasan itu menurut Al Qur’an dan hadits antara lain :

  1. Pengakuan akan keesaan Allah

Manusia mengakui keesaan Allah dalam penciptaan alam semesta ini. Pengakuan inilah yang merupakan kunci memahami  masalah lingkungan hidup. Firman Allah swt:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan Bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan  Tuhan” (Al An’aam 79).

2. Memahami Allah yang Maha mengatur kehidupan alam semesta

Keteraturan yang ditata dengan baik dan sempurna adalah karena Allah yang telah mengatur kehidupan dan segala di alam semesta ini. Surat yang ada dalam Al-An’aam disebutkan ”

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan membuat gelap dan terang”. (Q.S. Al-An’am: 1)

3. Memahami maksud dan tujuan penciptaan alam semesta

Alam semesta ini diciptakan agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

Firman Allah swt:

“ Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,dan adalah singgasananya diatas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya “ (Surat Hud:7).

4. Kewajiban manusia untuk tunduk kepada Allah

Diwajibkan kepada manusia untuk tunduk kepada Allah yang Maha Memelihara alam semesta ini. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah Allah ciptakan di dalam kitab suci Al Qur’an bagaimana seharusnya manusia memelihara alam semesta ini.

Firman Allah swt:

” Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu ”(Q.S. Al-An’am: 102)

5. Memahami tugas menjaga keseimbangan  lingkungan hidup

Menjadi tugas bagi manusia sebagai khalifah di bumi ini untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup  untuk kesejahteraan hidup manusia di bumi ini :

Allah swt berfirman:

” Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala seuatu menurut ukuran “ (AL Hijr 19)

6. Kebersihan rohani dan jasmani

Manusia sebagai khalifah, sudah tentu harus bersih rohani dan jasmaninya. Kebersihan jasmani adalah bagian integral daripada kebersihan rohani.

“Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri” (Al-Baqarah 222).”

dan bersihkanlah pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa” (Al-Mudatsir 4-5).

Karena hanya orang-orang yang bersih secara rohani dan jasmani yang mampu memelihara semesta alam sebagai khalifah di bumi ini.

Sementara orang-orang yang penuh dengan dosa dan pikiran, dan perbuatan kotor yang hidupnya hanya merusak dan mengotori lingkungan hidup ini, maka mengakibatkan kerusakan di muka bumi. Orang-orang seperti inilah yang tidak memahami landasan-landasan penciptaan langit dan bumi (alam semesta ini ). Namun bagi kaum muslimin yang selalu berpegang pada Al Qur’an dan Hadits Rasulullah dan terus membaca, belajar, dan mengerti isi perintah-perintah Allah ini akan memahami dan memenuhi perintah Allah yang menciptakan manusia ini sebagai khalifah di muka bumi untuk beribadah kepada Allah.

Alam diciptakan Allah untuk manusia dalam rangka memenuhi hajat hidupnya. Namun tanpa disadari, manusia menjadi makhluk yang menjadikan alam sebagai mesin yang sempurna untuk diekploitasi sebesar-besarnya demi kesejahteraan hidup. Tak ada etika di sana, tak ada kasih sayang terhadap sesama maupun alam. Akhirnya unsur-unsur alam yang sangat erat dengan kehidupan mansuia, yakni air, udara dan tanah mengalami polusi sedemikian rupa. Sehingga organisme yang menempati, termasuk manusia, bermigrasi, atau bahkan terancam kepunahan

Kerusakan lingkungan alam tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia. Terbukti, bahwa sebagian besar bencana-bencana yang terjadi bukanlah karena faktor alam semata, tetapi karena ulah dan perilaku manusia sendiri, seperti banjir dan pencemaran lingkungan.

Firman Allah swt :

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

II. Pelestarian Alam dan Lingkungan dalam al-Quran

Dalam al-Quran, dijelaskan mengenai dimensi alam semesta yang secara makro berpusat pada dua tempat, bumi dan langit, dan menyatakan bahwa semua yang diciptakan adalah untuk manusia. Allah telah menggariskan takdirnya atas bumi, yaitu: Pertama kalinya, Allah memberikan fasilitas terbaik bagi semua penghuni bumi.

Dan Allah swt ciptakan lautan yang maha luas dengan segala kekayaan di dalamnya

Allah swt berfirman:

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging  yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. an-Nahl : 14)

Dan air hujan yang menghidupkan bumi setelah masa-masa keringnya.

Allah swt berfirman:

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-An’am : 99)

Dan dalam surat Ibrahim Allah swt berfirman:

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

(QS. Ibrahim : 32).

Tak sekedar itu, Allah memperindah polesan bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin dan awan di angkasa, sebagai teman hidup manusia. Setelah selesai dengan penciptaannya, Allah hanya memberikan sebuah amanat kepada manusia untuk mengelola dan memeliharanya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dalam surat  Al-A’raf  ayat 56.

Firman Allah swt:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.(Q.S.Al-A’raf 56)

Larangan pada ayat di atas adalah larangan untuk berbuat kerusakan di atas bumi. Kerusakan yang dimaksud adalah berhubungan dengan berbagai bentuk kerusakan, seperti pembunuhan, perusakan keturunan, akal, dan agama. Sedangkan yang dimaksud dengan kata ”Ba’da Islahiha” adalah setelah Allah memperbaiki penciptaannya sesuai dengan peruntukkannya bagi kemanfaatan makhluk dan kemaslahatan orang-orang mukallaf.[1]

Hal di atas senada dengan penafsiran yang disampaikan oleh Syihabuddin,[2] bahwa Allah melarang berbagai bentuk kerusakan seperti merusak jiwa (pembunuhan), harta, keturunan, akal dan agama setelah Allah memperbaiki semuanya dan menciptakannya untuk dimanfaatkan oleh makhluk serta untuk kemaslahatan orang-orang mukallaf dengan cara Allah mengutus seorang rasul di atas bumi dengan membawa syari’at dan hukum-hukum Allah.

Abu al-Fida yang ber’alam Kunyah ”Ibnu Katsir”[3] mengatakan, firman Allah swt.

”.وَلاَ تُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ إلخ” mengandung pengertian bahwa Allah swt. melarang kepada hambanya berbuat kerusakan di atas bumi dan berbuat apa yang dapat merugikannya setelah adanya perbaikan. Karena sesungguhnya jika segala sesuatu berjalan di atas kebaikan, kemudian terjadi sebuah kerusakan maka akan menjadikan sebuah kerugian bagi manusia. Oleh karenanya Allah melarang perbuatan tersebut dan memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah, berdo’a, tawaddlu dan merendahkan diri kepada-Nya.

Ketiga penafsir di atas memberikan interpretasi, bahwa kerusakan yang dikandung dalam ayat di atas adalah berbagai kerusakan lingkungan. Menurut Fuad Amsyari,[4] lingkungan dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, lingkungan fisik, yakni segala ”benda mati” yang ada di sekitar kita, seperti rumah, kendaraan, gunung, udara, air, sinar matahari, dan lain-lain. Kedua, lingkungan biologis, yakni segala organisme yang hidup di sekitar manusia, baik berupa tumbuhan maupun binatang. Ketiga, lingkungan sosial, yakni manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya, tetangga, teman, atau orang lain yang belum dikenal.

Seluruh kategori lingkungan di atas disebut sebagai lingkungan hidup, yakni segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati, dan mempengaruhi hal-hal yang hidup, termasuk kehidupan manusia.

Dalam kenyataan abad sekarang ini, seluruh kategori lingkungan tersebut benar-benar mengalami gangguan pencemaran yang dahsyat. Seakan-akan pencemaran yang terjadi semakin kompleks. Bukan saja kerusakan alam, tapi sudah menjalar pada kerusakan lingkungan sosial. Sebab, antara lingkungan fisik dan perilaku organisme saling mempengaruhi.

Selain sebagai amanat, tindakan memelihara alam (tidak membuat kerusakan di bumi) merupakan manifestasi perintah syukur kepada Tuhan. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai syukur, maka dari awal kelahirannya, sudah mengajarkan pentingnya memelihara alam. Bahkan, ketika perang pun Islam masih mengagungkan titah itu. Tersebut dalam sejarah, para khalifah Islam, seperti Abu Bakar dan Umar, setiap kali akan melepas laskar ke medan perang tak pernah lupa memperingatkan: Jangan tebang pohon atau rambah tanaman, kecuali jika akan dipergunakan atau dimakan, dan janganlah membunuh binatang kecuali untuk dimakan, hormati dan lindungi semua rumah ibadah manapun, serta jangan sekali-kali mengusik mereka yang sedang beribadah menurut agama mereka masing-masing. Janganlah membunuh orang-orang yang tidak bersenjata (yang tidak terlibat langsung dalam peperangan).[5]

Sebagai implementasi titah di atas, ada sebuah riwayat yang mengatakan: ”Sesaat setelah Amr bin Ash menaklukan mesir, seekor burug merpati membuat sarang di atas tendanya. Padahal, mereka segera berangkat meninggalkan Mesir. Sebenarnya, Amr bin Ash dapat memerintahkan para prajurit membongkar tendanya. Namun hal itu tidak dilakukan. Sebab ia tidak ingin mengusik sang merpati yang sedang mengerami telurnya.[6]

Tidak ditemukan dalam sejarah bahwa umat Islam adalah sebagai ”perusak lingkungan”, sekalipun dalam peperangan. Pertempuran yang berlangsung di zaman Nabi tak pernah menyebabkan kerusakan alam yang mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi, sebagaimana peperangan pada abad-abad mutakhir. Ketika itu perang tidak menjadi penyebab kerusakan alam, hanya menghancurkan musuh.[7] Demikian implementasi Islam dalam memelihara alam, meski dalam peperangan.

Tidak hanya dalam medan pertempuran, ketika beribadah pun nuansa Islam dalam mengkonversi alam masih sangat kental. Terbukti, ketika haji, orang yang ihram dilarang membunuh binatang, dan mencabut pohon. Bahkan, jika melanggar akan dikenakan sangsi.

Lebih lanjut, Islam juga memberikan kabar gembira bagi mereka yang mau melestarikan alam

III. Keutamaan Menanam Pohon

Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits pernah besabada,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh

Dalam sabdanya juga:

Barangsiapa yang menanam sebuah pohon, dan pohon itu berbuah, Allah akan memberikan pahala kepada orang itu sebanyak buah yang tumbuh dari pohon tersebut.”

Nabi juga pernah bersabda, ”Memakan setiap binatang buas yang bertaring adalah haram.” Hadits ini oleh Fuqaha (para ahli fiqh) dijadikan dasar atas diharamkannya binatang yang bertaring dan bercakar, seperti harimau, serigala, beruang, kucing, gajah, badak, macan tutul dan rajawali.

Memang, pada mulanya, pelarangan tersebut bersifat tekstual-normatif, karena diambil berdasarkan sabda nabi semata. Namun, pada perkembangan berikutnya, setelah dikontekskan dengan realitas kekinian, pengharaman itu membawa hikmah yang begitu besar. Binatang-binatang yang diharamkan tergolong spesies binatang yang langka yang dilindungi. Sebut saja misalnya rajawali. Semua jenis hewan ini, di belahan dunia manapun dilindungi.[8] Bukti ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Islam ternyata ikut andil dalam pelestarian hewan langka yang berperan aktif sebagai penjaga ekosistem alam.

Karena pengharaman tersebut didasari teks keagamaan, maka melaksanakannya adalah sebuah kewajiban bagi setiap umatnya. Bahkan, bukan sekedar kewajiban, tapi kebutuhan manusiawi, sehingga ekosistem tetap terjaga.

Pelestarian alam dalam Islam sifatnya konservatif, yang melindungi nilai-nilai yang telah ada. Baik kondisi alami, estetika maupun kekayaan alam yang telah terbentuk sejak awalnya. Alam, sebagaimana disinggung dalam QS. Al-A’raf : 56, mengalami perubahan menuju pada ekosistem yang seimbang setelah mencapai ratusan bahkan jutaan tahun. Maka, mempertahankan alam yang telah menjalani proses tersebut adalah sebuah keharusan dan kebutuhan manusia.

Mengingat pentingya pelestarian alam itulah, Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw. telah memperkenalkan kawasan lindung (hima’), yakni suatu kawasan yang khusus dilindungi pemerintah atas dasar syari’at guna melestarikan kehidupan liar di hutan. Nabi pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’ guna melindungi lembah, padang rumput dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Lahan yang beliau lindungi luasnya sekitar enam mil atau lebih dari 2049 hektar. Selain hima’, Islam juga memperkenalkan konsep ihya’ul mawat, yakni usaha mengelola lahan yang masih belum bermanfaat menjadi berguna bagi manusia.

Dua konsep di atas, menunjukkan kepada kita bahwa Islam adalah telah sedini mungkin ikut melestarikan alam, sebagaimana juga telah ikut aktif dalam memelihara keberlangsungan hewan langka melalui pelarangan konsumsi. Inilah makna konsep Rabbil ’alamin (pemelihara seluruh alam), yakni sifat Tuhan yang direalisasikan pada tugas kekhalifahan manusia. Artinya, segenap makna yang terkandung dalam kata itu harus tercermin dalam setiap tindakan dan perilaku manusia dengan alam, karena ia menempatinya dan bertanggung jawab terhadap eksistensinya.

Penutup

Allah swt telah menciptakan bumi dan langit serta semua yang ada didalamnya ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah swt. Dan hendaknya manusia berfikir dan bersyukur atas apa yang Allah telah ciptakan, kemudian hendaknya selalu menjaga kelestariannya, sehingga tidak terjadi kerusakan yang menimbulkan bencana.

Al-Quran surat al-A’raf  ayat 56 merupakan bentuk kontribusi Islam yang paling mendasar dalam ikut serta memelihara lingkungan alam. Kesimpulan yang penulis berikan, ada dua sisi dalam Islam yang menunjukkan hal itu. Pertama, dari sisi teologis. Islam menganjurkan manusia untuk memelihara alam dengan jaminan pahala bagi yang melaksanakannya. Bahkan dalam ibadah pun Islam masih memberikan ruang untuk itu. Ini akan mendorong jiwa seseorang untuk selalu memelihara alam. Kedua, dari sisi aplikatif. Sejak zaman Nabi saw., telah diperkenalkan konsep hima’ dan ihyau al-mawat. Dua konsep ini yang sampai sekarang tetap butuh diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA

al-Alusy, Syihabuddin Mahmud bin Abdillah al-Husainy. Ruhu al-Ma’any fii Tafsiiri al-Quranu al-’Adhiim wa as-Sab’u al-Matsani. Beirut; Dar al-Fikr.

al-Dimasyqy, Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr bin Katsir al-Quraisy. 1999. Tafsir al-Quranul ’Adhim Juz 3. Dar at-Thayyibah li an-Nasyr wa al-Tauzi.

Amsyar, Fuad. 1981. Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Jakarta; Ghalia Indonesia.

Badri, M. Abdullah. 2007. Membangun Lingkungan Berbasis Kasih Sayang. dalam Erlangga Husada, dkk., Kajian Islam Kontemporer. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah.

Hayyan, Ibnu. tt. al-Bahru al-Muhiath. Beirut; Dar al-Fikr.

Rahim, Ahmad Imadudin Abdul, Dr., Ir., M.Sc. 2002: Islam Sistem Nilai Terpadu, Jakarta: Geman Insani Press.


[1] . Ibnu Hayyan, al-Bahru al-Muhiath, Juz 5, (Beirut; Dar al-Fikr, tt.), hal. 526

[2].  Syihabuddin Mahmud bin Abdillah al-Husainy al-Alusy, Ruhu al-Ma’any fii Tafsiiri al-Quranu al-’Adhiim wa as-Sab’u al-Matsani, Juz 6, (Beirut; Dar al-Fikr, tt.), hal. 202

[3] . Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr bin Katsir al-Quraisy al-Dimasyqy, Tafsir al-Quranul ’Adhim, Juz 3, (Dar at-Thayyibah li an-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999). hal. 429

[4] . Fuad Amsyari, Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, cet. 2, (Jakarta; Ghalia Indonesia, 1981), hal. 12

[5] . M. Abdullah Badri, Membangun Lingkungan Berbasis Kasih Sayang, dalam Erlangga Husada, dkk., Kajian Islam Kontemporer, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2007), hal. 133-134.

[6].  Ibid, hal. 134

[7] . Dr. Ir. Ahmad Imadudin Abdul Rahim, M.Sc., Islam Sistem Nilai Terpadu, cet. 1 (Jakarta: Geman Insani Press, 2002), hal. 35

[8] . Lihat Fahrudin M. Mangunjaya, Konservasi Alam dalam Islam, hal. 78.


Responses

  1. minta ijin download ini yah,, buat referensi makalah.. terimakasih..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: