Oleh: Abu Alya | Januari 29, 2010

Nikah yang dilarang

Beberapa Nikah yang dilarang diantaranya:

a. Nikah diBawah Umur

Laki-laki dan perempuan yang masih dibawah umur tidak diperbolehkan nikah sehingga kedua-duanya mencapai baligh dan persetujuan kedua orang tuanya. Demikian menurut pendapat ibnu syibrimah.

Hasan dan Ibrahim An-Nakha’I berpendapat: ‘diperbolehkan bagi orang tua menikahkan putrinya yang masih kecil dan juga yang sudah besar, baik gadis maupun janda, meskipun keduanya tidak menyukainya.

Disisi lain Abu Hanifah mengatakan: “Orang tua diperbolehkan menikahkan putrinya yang belum balig, baik ia masih gadis maupun sudah janda.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah menyebutkan tentang perkawinan Nabi saw dengan Aisyah. Ia adalah seorang wanita yang disucikan dari langit ketujuh. Ia adalah kekasih Rasulullah saw yang disodorkan oleh para malaikat dengan tertutupi secarik kain sutera sebelum beliau saw menikahinya, dan malaikat itu mengatakan,”Ini adalah isterimu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau saw menikahinya pada bulan Syawal yang pada saat itu Aisyah berusia 6 tahun dan mulai digaulinya pada bulan syawal setahun setelah hijrah pada usianya 9 tahun. Rasulullah saw tidak menikahi seorang perawan pun selain dirinya, tidak ada wahyu yang turun kepada Rasulullah saw untuk menikahi seorang wanita pun kecuali Aisyah ra.” (Zaadul Ma’ad juz I hal 105 – 106)

Beberapa dalil lainnya tentang pernikahan Rasulullah saw dengan Aisyah telah dijelaskan dalam hadits-hadits shohih berikut :

  1. Dari Aisyah ra bahwasanya Nabi saw berkata kepadanya, ”Aku telah melihat kamu di dalam mimpi sebanyak dua kali. Aku melihat kamu tertutupi secarik kain sutera. Dan Malaikat itu mengatakan, ’Inilah isterimu, singkaplah.” Dan ternyata dia adalah kamu, maka aku katakan, ’Bahwa ini adalah ketetapan dari Allah.” (HR. Bukhori)
  2. Diceritakan oleh Ubaid bin Ismail, diceritakan oleh Abu Usamah dari Hisyam dari Ayahnya berkata, ”Khodijah ra telah meninggal dunia tiga tahun sebelum Rasulullah saw berhijrah ke Madinah. Kemudian beliau saw berdiam diri dua tahun atau seperti masa itu. Beliau saw menikah dengan Aisyah ra pada usia 6 tahun. Dan Rasulullah saw menggaulinya pada saat Aisyah berusia 9 tahun” (HR. Bukhori)
  3. Dari Aisyah ra berkata, ”Rasulullah saw menikahiku di bulan syawal dan menggauliku juga di bulan syawal. Maka siapakah dari isteri-isteri Rasulullah saw yang lebih menyenangkan di sisinya dari diriku? Dia berkata, ’Sesungguhnya Aisyah menyukai jika ia digauli pada bulan syawal.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim serta pendapat para ahli sejarah islam, menunjukkan bahwa usia perkawinan Aisyah dengan Rasulullah saw adalah 6 tahun meskipun kemudian digauli pada usianya 9 tahun. Pernikahan beliau saw dengan Aisyah adalah dalam rangka menjalin kasih sayang dan menguatkan persaudaraan antara beliau saw dengan ayahnya, Abu Bakar ash Shiddiq, yang sudah berlangsung sejak masa sebelum kenabian.

Dan pernikahan Aisyah pada usia yang masih 6 tahun dan mulai digauli pada usia 9 tahun bukanlah hal yang aneh, karena bisa jadi para wanita di satu daerah berbeda batas usia balighnya dibanding dengan para wanita di daerah lainnya. Hal ini ditunjukan dengan terjadinya perbedaan di antara para ulama mengenai batas minimal usia wanita mendapatkan haidh sebagai tanda bahwa ia sudah baligh.

  1. Imam Malik, al Laits, Ahmad,. Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa batas usia baligh adalah tumbuhnya bulu-bulu di sekitar kemaluan, sementara kebanyakan para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa batasan usia haidh untuk perempuan dan laki-laki adalah 17 tahun atau 18 tahun.
  2. Abu Hanifah berpendapat bahwa usia baligh adalah 19 tahun atau 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi wanita.
  3. Syafi’i, Ahmad, Ibnu Wahab dan jumhur berpendapat bahwa hal itu adalah pada usia sempurna 15 tahun. Bahkan Imam Syafi’i pernah bertemu dengan seorang wanita yang sudah mendapat monopouse pada usia 21 tahun dan dia mendapat haidh pada usia persis 9 tahun dan melahirkan seorang bayi perempuan pada usia persis 10 tahun. Dan hal seperti ini terjadi lagi pada anak perempuannya. (Disarikan dari Fathul Bari juz V hal 310)

Perbedaan para imam madzhab di atas mengenai usia baligh sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kultur di tempat mereka tinggal. Imam Abu Hanifah tinggal di Kufah, Iraq. Imam Malik tinggal di kota Rasulullah saw, Madinah. Imam Syafi’i tinggal berpindah-pindah mulai dari Madinah, Baghdad, Hijaz hingga Mesir dan ditempat terakhir inilah beliau meninggal. Sedangkan Imam Ahmad tinggal di Baghdad.

b. Nikah Syighar

Syighar didalam bahasa arab berarti kosong atau meninggalkan, maksud dari nikah syighar adalah seseorang menikahkan anak perempuannya dengan syarat; orang yang menikahi anaknya itu juga menikahkan putri yang ia miliki dengannya. Baik itu dengan memberikan maskawin bagi keduanya maupun salah satu darinya atau tidak memberikan maskawin sama sekali. Kesemuanya itu tidak dibenarkan dalam syari’at Islam. Dan bentuk pernikahan seperti ini cukup popular dikalangan masyarakat Arab jahiliyah.

“Dan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. melarang nikah syighar; sedang syighar yaitu, seorang laki-laki berkata: kawinkanlah aku dengan anak perempuanmu, dan aku akan mengawinkan engkau dengan anak perempuanku, atau: kawinkanlah aku dengan saudara perempuanmu dan aku akan mengawinkan engkau dengan saudara perempuanku. (H.R Muslim)

Syarih rahimahullah berkata: Syighar itu mempunyai dua bentuk, pertama yaitu tanpa adanya mahar bagi masing-masing pihak, sedang yang kedua yaitu masing-masing dari kedua wali itu membuat syarat kepada yang lain agar menikahkan kepada perempuan yang berada di bawah perwaliannya. Maka diantara para ulama ada yang menganggap pada bentuk pertama saja yang dilarang sedang yang kedua tidak.

Ibnu Abdil Bar berkata: Ulama telah sepakat, bahwa nikah syighar itu tidak boleh, tetapi mereka masih berbeda pendapat tentang kesahannya; jumhur berpendapat batal. Dan dari suatu riwayat dari Imam Malik, bahwa pernikahan itu difasakh sebelum bercampur, bukan sesudahnya. Sedang menurut golongan Hanafiyah, sah dan wajib membayar mahar.

Sedangkan Imam Syafi’I mengatakan: “Nikah ini menjadi batal jika mahar tidak disebutkan didalamnya. Jika mahar disebutkan didalamnya, baik itu dari kedua belah pihak maupun salah satu dari keduanya, maka ditetapkan sebagai pernikahan bersama dan mahar yang disebutkan menjadi batal. Untuk itu bagi masing-masing dari keduanya harus membayar mahar dalam jumlah yang sama.

c. Nikah Mut’ah

Para ulama sepakat atas haramnya pernikahan ini. Mereka menegaskan, apabila pernikahan ini dilaksanakan, maka pernikahan ini merupakan pernikahan yang tidak sah. Karena bentuk pernikahan seperti ini tidak memiliki kaitan dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan didalam Al-Quran, baik hokum yang berkenaan dengan pernikaha, talak, iddah, maupun waris sehingga pelaksanaan nikah dengan cara seperti itu tidak sah.

Ada beberapa hadits yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

  • Ibnu Hazm mengatakan: “Nikah mut’ah adalah nikah dengan batasan waktu tertentu   dan hal ini dilarang dalam Islam.” Nikah mut’ah ini pernah diperbolehkan pada masa Rasulullah saw. dan kemudian Allah swt. menghapusnya melalui lisan beliau untuk selamanya, sampai hari kiamat kelak.
  • Dari Ali r.a., ia berkata:” Rasulullah sallallahu alaihi wassallam melarang nikah mut’ah dan juga daging keledai peliharaan pada masa perang khaibar.”(Muttafaqun Alaih).
  • Umar bin Khattab r.a. menegaskan larangan nikah mut’ah pada masa kekhalifahannya. Begitu pula para sahabat r.a. mereka menetapkan larangan  nikah mut’ah yang sangat tidak mungkin lagi mereka untuk menetapkan sesuatu secara tidak benar jika memang larangan itu merupakan suatu kesalahan.
  • Khaththabi berkata, para ulama mengharamkan nikah mut’ah secara ijma’, kecuali beberapa golongan dari kaum syi’ah.

Baihaqi meriwayatkan bahwa ja’far bin Muhammad pernah ditanya mengenai nikah mut’ah dan dia menjawab, “nikah mut’ah merupakan salah satu praktik zina.

d. Menikahi wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah

Tidak seorangpun diperbolehkan melamar wanita muslimah yang sedang     menjalani masa ‘iddah, baik karena perceraian maupun karena kematian suaminya. Jika menikahinya sebelum masa ‘iddahnya selesai. Di samping itu tidak ada waris diantara keduanya dan tidak ada kewajiban memberi nafkah serta mahar bagi wanita tersebut.

Dalil yang menjadi landasan dalam hal ini firman Allah swt;

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu[1] dengan sindiran[2] atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(Q.S. Al-Baqarah: 235).

Ibnu hazm mengatakan: “mengenai sahnya bagi orang yang tidak mengetahui adanya larangan menikah dengan wanita yang tengah berada dalam masa ‘iddah, maka hal ini tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi suatu kewajiban untuk memberlakukan had bagi orang yang mengetahui larangan tersebut, karena Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Barang siapa mencari yang di balik itu[3] maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”(Q.S. Al-Mukminun: 5-7).

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “anak itu bagi tempat tidur dan bagi yang berzina, rajam.(H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam hadits ini Rasulullah saw tidak menganggap sah seorang anak, melainkan dua katagori, yaitu dilahirkan dari pernikahan yang sah(tempat tidur) atau dari hasil perzinahan.

Karena orang yang melakukan perzinahan harus diberikan had. Akan tetapi, bagi orang yang tidak mengetahui atau karena factor kesalahan yang tidak disengaja, maka tidak berlaku baginya had. Sebagaimana firman Allah swt,

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.S Al-Ahzab: 5).


[1] ) yang suaminya meninggal dan masih dalam keadaan iddah.

[2] ) wanita yang boleh dipinang secara sindiran adalah wanita yang berada dalam masa ‘iddah karena suaminya meninggal atau krena thalak ba’in(thalak tiga). Sedang wanita yang dalam masa ‘iddah thalak raji’ (thalak satu dan dua) tidak boleh dipinang, meskipun dengan sindiran.

[3] ) Maksudnya, zina, homoseksual dan sebagainya.


Responses

  1. Tulisannya bagus, kita jadi lebih tahu tentang hukum agama khususnya tentang pernikahan ini. Tulisan selanjutnya ditunggu ya? kalau bisa tentang masalah muamalah, biar orang lebih paham lagi ok?!

  2. tulisan ini bagus saya minta bwt reperensi

  3. sukron ya akhi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: