Masa anak-anak masa penuh aktivitas. Anak-anak seolah tak berhenti bergerak, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Lebih-lebih lagi bermain, sebuah aktivitas yang menjadi favorit dalam dunia anak. Kadang karena asyik bermain atau melakukan aktivitas yang lain, anak jadi susah diminta tidur siang. Bahkan tidur siang menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena memutuskannya dari kegembiraan aktivitas yang dilakukannya. Ternyata faktor yang menghalangi anak-anak istirahat di siang hari bukan hanya datang dari diri mereka sendiri. Bahkan terkadang, ada orangtua yang justru menghasung anak-anak untuk menyibukkan waktunya dengan segudang kegiatan, tanpa istirahat siang. Les ini, les itu, kegiatan ini dan itu, bersiap menyongsong ini dan itu, sehingga anak tak berhenti dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain. Kita –orangtua– seyogianya tidak membiarkan anak-anak tanpa tidur siang ataupun sekadar beristirahat di siang hari. Dari sisi kesehatan, tentu hal ini banyak manfaatnya, mengistirahatkan tubuh sejenak dari aktivitas agar bugar kembali untuk menyambut aktivitas berikutnya. Tak hanya dari sisi kesehatan tinjauannya. Jauh lebih penting lagi, tidur siang adalah sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)
Apa yang dilakukan dan dihasung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ
Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)
Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:
كَانَ عُمَرُ رضي الله عنه يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ
Biasanya ’Umar radhiyallahu ‘anhu bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)
Begitulah kebiasaan para sahabat g. Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika datang pengharaman khamr, para sahabat sedang duduk-duduk minum khamr di rumah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Dengan segera mereka menuangkan isi bejana khamr, lalu mereka istirahat siang di rumah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, istri Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan:
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ شَرَابٌ– حَيْثُ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ –أَعْجَبُ إِلَيْهِمْ مِنَ التَّمْرِ وَالْبُسْرِ، فَإِنِّي لَأُسْقِي أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُمْ عِنْدَ أَبِي طَلْحَةَ، مَرَّ رَجُلٌ قَالَ: إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. فَمَا قَالُوا: مَتَى؟ أَوْ حَتَّى نَنْظُرَ. قَالُوا: يَا أَنَسُ، أَهْرِقْهَا، ثُمَّ قَالُوا عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ حَتَّى أَبْرَدُوا وَاغْتَسَلُوا، ثُمَّ طَيَّبَتْهُمْ أُمُّ سُلَيْمٍ ثُمَّ رَاحُوا إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا الْخَبَرُ كَمَا قَالَ الرَّجُلُ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا طَعِمُوهَا بَعْدُ
“Tidak ada minuman yang paling disukai penduduk Madinah tatkala diharamkannya khamr, selain (khamr dari) rendaman kurma. Sungguh waktu itu aku sedang menghidangkan minuman itu kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berada di rumah Abu Thalhah. Tiba-tiba lewat seseorang, dia mengatakan, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan!” Sama sekali para sahabat tidak menanyakan, “Kapan?” atau “Kami lihat dulu.” Mereka justru langsung mengatakan, “Wahai Anas, tumpahkan khamr itu!” Lalu mereka pun beristirahat siang di rumah Ummu Sulaim sampai hari agak dingin, setelah itu mereka mandi. Kemudian Ummu Sulaim memberi mereka minyak wangi. Setelah itu mereka beranjak menuju ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beritanya memang seperti yang dikatakan orang tadi. Maka mereka tak pernah lagi meminumnya setelah itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1241, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 940: shahihul isnad)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulunya:
كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ
“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad)
Jika para sahabat saja bersemangat mengikuti perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengajak yang lainnya melakukan kebaikan ini, tentu kita tak pantas meninggalkannya. Kita melakukan dan kita ajak anak-anak kita untuk melakukannya pula. Manfaat yang besar akan mereka dapatkan; tubuh akan terasa segar untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menyelisihi kebiasaan setan yang tak pernah istirahat di siang hari. Lebih penting lagi, membiasakan diri mereka untuk meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
ونومة القيلولة مستحبة عند جمهور العلماء، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: قيلوا فإن الشياطين لا تقيل. والحديث حسنه الألباني في صحيح الجامع برقم4431.
قال الخطيب الشربيني: يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم.
وقالوا في الفتاوى الهندية: ويستحب التنعم بنوم القيلولة. انتهى.
وقال في كشاف القناع: ويستحب النوم نصف النهار،
Tidur siang atau qoilulah itu hukumnya dianjurkan menurut mayoritas ulama mengingat sabda Nabi, “Hendaknya kalian tidur siang karena setan itu tidak tidur siang” [Dinilai hasan oleh al Albani dalam Shahih Jami Shaghir no 4431].
Khathib as Syarbini as Syafii mengatakan, “Dianjurkan qoilulah bagi yang hendak melaksanakan shalat tahajud. Qoilulah adalah tidur sebelum zhuhur. Qoilulah itu seperti makan sahur bagi orang yang berpuasa”. Dalam kitab Fatawa Hindiyah [mazhab Hanafi] disebutkan, “Dianjurkan untuk tidur siang”.
Dalam Kassyaf al Qana’ [kitab fikih Hanbali], “Dianjurkan tidur di pertengahan siang”.
Waktu Tidur Siang
وقد اختلفت عبارات الفقهاء في تحديد وقت نصف النهار المقصود بالقيلولة، فذهب بعضهم إلى أنها قبل الزوال وذهب بعضهم إلى أنها بعده، قال الشربيني الخطيب: هي النوم قبل الزوال. انتهى.
وقال المناوي: القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد. انتهى.
وقال البدر العيني: القيلولة معناها النوم في الظهيرة. انتهى.
Para ahli fikih berselisih pendapat tentang pertengahan siang yang menjadi waktu istirahat siang (qoilulah). Sebagian ulama berpendapat sebelum zawal (gesernya matahari ke arah barat, pent) dan ada yang berpendapat sesudah zawal. As Syarbini al Khathib mengatakan “Qoilulah adalah tidur sebelum zawal”. Al Munawi mengatakan, “Qoilulah adalah tidur di pertengahan siang, saat zawal dan sedikit sebelum dan sesudahnya”. Al Badr al Aini mengatakan, “Qoilulah adalah tidur di tengah siang”.
والذي يُرجح أن القيلولة هي الراحة بعد الزوال -يعني بعد الظهر- ما رواه البخاري ومسلم عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم. واللفظ لمسلم.
Dalil yang menunjukkan bahwa yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa qoilulah adalah istirahat setelah zawal alias setelah shalat zhuhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Saad, “Tidaklah kami melakukan qoilulah dan menyantap makan siang kecuali setelah selesai shalat Jumat di masa Nabi”
Dalam Kamus Lisanul Arab dijelaskan makna qailulah secara bahasa,
القيلولة نومة نصف النهار
“Qailulah adalah tidur pada pertengahan siang”[1]
Karena diterjemahkan qailulah dengan “tidur siang” maka banyak yang menyangka qailulah mesti harus tidur. Yang benar, qailulah tidak mesti harus tidur, istirahat pada siang hari sudah termasuk qailulah.
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata,
والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم
“Qailulah adalah istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur.”[2]
Kapan Waktu qailulah
Terdapat ikhtilaf ulama kapan waktu qailulah, apakah sebelum dzuhur atau sesudah dzuhur atau keduanya.
Syarbini rahimahullah berkata,
هي النوم قبل الزوال
“tidur sebelum zawal (waktu dzhur)”
Al-Munawi rahimahullah berkata,
القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد
“Qailulah adalah tidur di pertengahan siang ketika zawal atau mendekati waktu zawal sebelum atau sesudahnya.”
Al-Badri Al-Aini berkata,
القيلولة معناها النوم في الظهيرة
“Qailulah maknanya: tidur di waktu dhuzur (petengahan siang).”[3]
Dan yang rajih adalah qailulah itu waktunya setelah zawal (dzuhur) sebagaimana hadits.
عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم. واللفظ لمسلم.
Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata,
“kami (dahulunya) tidaklah melakukan qailulah dan makan kecuali setelah shalat jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[4]

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ
“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang ( qailulah).” [5]

Sunnah qailulah
Tidur siang disebutkan dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (Ar-Ruum :23)
Demikian juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” [6]
Demikian juga perbuatan para sahabat.

رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ
“Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang), Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.”[7]
Di riwayat yang lain,

كَانَ عُمَرُ يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ
“Dahulunya ’Umar bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.”[8]
Al-Khalal berkata,

قال الخلال استحباب القائلة نصف النهار قال عبد الله كان أبي ينام نصف النهار شتاء كان أو صيفا لا يدعها
“Disunnahkan qailulah pada pertengahan siang, Abdullah (bin Ahmad) berkata, “Ayahku tidur siang pada musim panas dan dingin, ia tidak meninggalkannya.”[9]

Manfaat tidur siang
Tidur siang sangat bermanfaat dan terasa bagi mereka yang terbiasa. Terasa segar jika bangun dari tidur siang yang walaupun sebentar tetapi berkualitas.
Berikut manfaat tidur siang bagi kesehatan:
1. Meningkatkan daya ingat
Sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa tidur siang selama 45 menit bisa membantu meningkatkan daya ingat. Peningkatan ini terjadi dalam fase slow-wave sleep atau tidur gelombang pendek sebagaimana biasa terjadi saat tidur siang. Peningkatan aktivitas otak saat sedang tidur juga diyakini bermanfaat untuk mempelajari bahasa asing. Kata-kata atau istilah baru akan lebih mudah diingat jika sering diperdengarkan saat sedang tidur.
2. Meningkatkan produktivitas
Tidur siang dapat melindungi otak dari pengolahan informasi yang terjadi secara berlebihan dan membantu mengkonsolidasikan informasi yang baru dipelajari. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan konsentrasi dan produktifitas di tempat kerja. Bahkan penelitian sebelumnya menemukan tidur siang dapat menurunkan tekanan darah.
3. Mengobati insomnia
Penelitian telah menemukan bahwa orang yang tidur siang selama 15 menit merasa lebih waspada dan kurang mengantuk, bahkan ketika malam hari sebelumnya kurang tidur. Efeknya memang bisa bervariasi pada setiap individu, namun sebuah penelitian tahun 2011 menegaskan tidur siang membuat penderita insomnia jadi lebih bugar karena total waktu istirahatnya jadi lebih panjang.
4. Menurunkan stress
Ingin memotong hormon stres kortisol sebanyak separuh? Penelitian menunjukkan bahwa hormon stres secara dramatis mengalami penurunan setelah tidur siang, terutama jika semalam tidurnya kurang begitu nyenyak. Sebuah penelitian di Jerman menemukan bahwa ketika sekelompok pilot tidur kurang dari 7 jam semalam sebelum bertugas, kadar kortisolnya meningkat secara signifikan dan bertahan selama 2 hari. Namun ketika berhasil tidur siang barang sebentar, kadar kortisol berkurang separuhnya.
5. Mencegah penyakit jantung
Tidur siang yang pendek selama 20-40 menit bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke. Kesimpulan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Yunani. Peneliti menemukan bahwa orang yang setidaknya tidur siang 30 menit selama 3 kali dalam seminggu dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 37 persen. Menurut penelitian ini, tidur siang yang sehat sebaiknya dilakukan antara pukul 1-3 siang selama tak lebih dari 55 menit. Jika berlebih, justru menyebabkan terbangun dengan ‘kepala berat’.[10]

[1] Lisanul Arab 11/557, Dar Shadir, Beirut, cet.III, 1414 H, syamilah
[2] Subulus Salam 1/398, darul Hadits, syamilah
[3] Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=31661
[4] Muttafaq alaihi, lafadz Muslim
[5] HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad
[6] HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih
[7] HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)
[8] HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)
[9] Al-Adab Asy-Syar’iyyah wal minahil mar’iyyah hal 161, sumber: http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=448&idto=448&bk_no=43&ID=343
[10] Sumber: http://health.detik.com/read/2012/11/14/135734/2091581/766/5-manfaat-luar-biasa-tidur-siang

Oleh: Abu Alya | Agustus 15, 2015

Haji Mabrur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وفي الصحيحين أيضا عن أبي هريرة – رضي الله عنه -أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :(العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة).

”Dari satu umrah ke umrah yang lain adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannnya melainkan Surga.” (HR. Malik (767), Ahmad (9949), al-Bukhari (1683), Muslim (1349), at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan selain mereka rahimahumullah. Lihat Jam’ul Jawaami’ karya Imam as-Suyuthi rahimahullah)

Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang lima, ia termasuk salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam yang agung, yang jiwa-jiwa kaum Muslimin condong kepadanya dan hati-hati mereka rindu untuk mengunjunginya. Dan dalam bulan-bulan haji tersebut jiwa-jiwa mereka berharap untuk dapat mengunjungi negeri yang suci tersebut, sebagai perwujudan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا)

”Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.“ (QS. Al-Baqarah: 125)

Dan firman-Nya:

(وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ، لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ).

”Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfa’at bagi mereka.“ (QS. Al-Hajj: 27-28)

Dengan didorong rasa kerinduan, para jama’ah haji setiap tahun berbondong-bondong menuju ke negeri yang suci tersebut. Dan setiap mereka berharap semoga bisa kembali bersih dari dosa seperti saat mereka dilahirkan oleh ibu mereka. Maka haji menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

”Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan apa-apa (dosa) yang telah lalu? Dan bahwasanya Hijrah menghapuskan apa-apa yang telah lalu? Dan bahwasanya haji menghapuskan apa-apa yang telah lalu?” (HR. Muslim 1/112, no. 121 dalam kitab Shahihnya dan Ibnu Khuzaimah no. 2515. Lihat Jam’ul Jawaami’)

Demikian juga Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merowayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

« مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّه »

”Barang siapa berhaji ke Baitullah kemudian ia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik maka ia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Baththal rahimahullah dalam Syarh Shahih al-Bukhari berkata:” Mereka (para Ulama) rahimahumullah berbeda pendapat dalam menafsirkan kata rafats. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata:’Rafats dalam haji adalah perkataan yang dengannya wanita diajak (rayuan dan sejenisnya).’ Dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah meriwayatkan hal yang serupa. Dan diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas bahwa rafats adalah jima’ (hubungan suami isteri). Dan ini adalah pendapat Mujahid dan Az-Zuhri.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:”Fasik adalah celaan (cacian).” Mujahid dan Az-Zuhri rahimahumallah berkata:”Kefasikan adalah kemaksiatan.” dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:”Perdebatan, yaitu engkau mendebat temanmu sehingga membuat dia marah.” Thawus rahimahullah berkata:”Ia adalah mendebat manusia.”

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تابعوا بين الحج والعمرة فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفى الكير خبث الحديد والذهب والفضة وليس للحجة المبرورة ثواب إلا الجنة

”Dekatkanlah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan bagi haji mabrur tidak ada pahala selain Surga.” (HR. Ahmad, Ibnu Zanjawaih, at-Tirmidzi –hadits hasan gharib-, an-Nasa’i, Ibnu Hibban, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Lihat Jam’ul Jawaami’ karya Imam as-Suyuthi rahimahullah)

Al-Mubarkafuri rahimahullah mengatakan dalam TuhfatulAhwadzi:”Maknanya adalah dekatkan tenggang waktu keduanya (haji dan umrah), bisa jadi dengan haji Qiran, atau dengan melakukan salah satu hal tersebut bersamaan dengan yang lainnya. Ath-Thayyibi rahimahullah berkata:’Jika kalian umrah maka berhajilan, dan jika kalian berhaji maka umrahlah.’ Karena keduanya, yaitu haji dan umrah menghilangkan, kemiskinan. Dan kemiskinan yang dhilangkan yang dimaksud bisa jadi kemiskinan lahiriyah (hakiki) yaitu dengan dijadikannya dia kaya harta. Dan bisa jadi kemiskinan tersebut adalah kemiskinan batiniah dan ia dihilangkan dengan kaya hati. Dan keduanya juga menghapuskan dosa, ada yang mengatakan bahwa dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, namun penafsiran ini tertolak dengan sabda Nabi ”Sebagaimana Api pandai besi menghilangkan kotoran besi.” yaitu api yang ditiup oleh tukang pandai besi.”

Dan mereka yang tidak diberikan taufik dan kemudahan oleh Allah untuk melakukan haji dan tidak mampu melakukan perjalanan haji, maka mereka hanya bisa mengantarkan kepergian mereka (dan mendo’akan mereka). Seolah-olah lisan mereka mengatakan:
( يا سائرين إلى البيت العتيق لقد … سرتم جسوما و سرنا نحن أرواحا )
( إنا أقمنا على عذر و قد رحلوا … و من أقام على عذر كمن راحا )

Wahai orang-orang yang berjalan menuju Baitil ‘Atiq (Ka’bah), kalian telah

Melakukan perjalanan jasad sedang kami melakukannya dengan jiwa-jiwa kami

Sungguh kami tinggal di sini karea ada halangan sementara mereka telah pergi

Dan barang siapa yang tinggal karena halangan maka seprti mereka yang pergi

Namun ada hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu kesungguhan dan keseriusan agar haji kita menjadi haji mabrur, diampuni dosanya dengan ibadah haji, dan masuk ke dalam Surga yang Allah janjikan bagi yang hajinya mabrur.

Beberapa hadits telah mengisyaratkan kepada hal itu, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dari haidts Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

سُئِل رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- :« أيُّ العمل أفْضَل ؟ قال : إيمان بالله ورسوله ، قيل : ثم ماذا ؟ قال : الجهادُ في سبيل الله ، قيل: ثم ماذا ؟ قال:حَجّ مبرور ».أخرجه البخاري ومسلم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya:”Amal ibadah apakah yang paling utama?” Beliau bersabda:”Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Dikatakan (kepadanya):”Kemudian apa?” Beliau bersabda:”Jihad dijalan Allah”. Dikatakan (kepadanya):”Kemudian apa?” Beliau bersabda:”Haji yang mabrur””( HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih Jaami’ul Ushuul, Imam as-Suyuthi)

Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

”Dari satu umrah ke umrah yang lain adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannnya melainkan Surga.” (HR. Malik (767), Ahmad (9949), al-Bukhari (1683), Muslim (1349), at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan selain mereka rahimahumullah. Lihat Jam’ul Jawaami’ karya Imam as-Suyuthi rahimahullah)

Lalu apa haji mabrur itu?

Para Ulama mengatakan bahwa sebuah ibadah haji bisa dikatakan mabrur jiak terkumpul di dalamnya beberapa perkara, di antaranya:

Terpenuhinya Syarat Dan Rukun Haji.

Maksudnya adalah pelakunya melakukan haji dengan cara yang sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan tata cara manasik haji ini kepada ummatnya, baik lewat ucapan beliau maupun lewat perbuatan beliau dalam haji Wada’ (haji perpisahan). Di sana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خُذُوا عَني مَناسِكَكُمْ ، لا أدري لَعَلَّي لا أَحُجُّ بعد حَجَّتي هذه ». أخرجه مسلم وأبو داود.

Ambillah dariku (tata cara) Manasik haji kalian, aku tidak tahu mungkin saja aku tidak bisa berhaji lagi setelah hajiku ini.”

Mengisi Hajinya Dengan Amalan-Amalan Kebajikan

Maksudnya, dengan melakukan ketaatan seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menafsirkan kata ”al-Birr” (kebajikan) dalam al-Qur’an dengan hal tersebut, Dia berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقاَمَ الصَّلَوةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
{177}

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Imam Ibnu Rajab dalam kitab Latha’iful Ma’arif berkata:”Sesungguhnya macam-macam kebajikan (al-Birr) ada enam, yang barang siapa menyempurnakan keenamnya maka ia telah menyempurnakan kebajikan tersebut. Pertama; Beriman dengan rukun Iman yang lima (maksudnya yang disebutkan dalam ayat di atas), Kedua; Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta dan membebaskan budak. Ketiga; Menegakkan shalat.Keempat; Memberikan zakat Kelima; Menepati janji.Keenam; Bersabar karena kemiskinan , sakit dan ketika di medan peperangan.”

Dan keenam hal di atas dubutuhkan oleh orang yang melakukan haji, karena haji tidak sah tanpa iman, haji tidak sempurna dan tidak mabrur jika tidak menegakkan sholat, membayar zakat. Karena rukun Islam yang satu dengan yang lain saling berkaitan, dan tidak sempurna Iman dan Islam sebelum ia melakukan keseluruhannya. Dan juga tidak sempurna haji seseorang jika tidak menepati janji-janjinya dalam kesepakatan-kesepakatan yang dibutuhkan oleh jama’ah haji dalam perjalan hajinyanya. Tidak sempurna juga sebelum membelanjakan hartanya pada hal-hal yang dicintai oleh Allah. Dan disampaing itu semua ia jugamembutuhkan kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan (kesusahan) yang dia rasakan di perjalanan hajinya tersebut. Maka inilah cabang-cabang dari al-Birr (kebajikan) itu.

Bergaul Dengan Manusia Dengan Baik Dan Berhias Dengan Akhlak Mulia

Berbuat baik dengan manusia termasuk al-Birr (kebajikan). Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang al-Birr, maka beliau menjawab:

[البر حسن الخلق ]

”AL-Birr (kebajikan) adalah akhlak yang baik.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

إن البر شيء هين : وجه طليق و كلام لين.

”Sesungguhnya al-Birr itu hal yang mudah, yaitu wajah yang berseri dan perkataan yang lembut.” (Latha’iful Ma’arif)

Memperbanyak Dzikir Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Dalam Ibadah Hajinya

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memeritahkan untuk memperbanyak dzikir di dalam menunaikan manasik haji, secara berkali-kali, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (198) ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (199) فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا )

”Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allahsebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafat) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (denga menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 198-200)

Dan secara khusus adalah memperbanyak dzikir ketika ihram yaitu dengan memperbanyak Talbiyah dan Takbir. Di dalam Sunan at-Tirmidzi dan Ibnu Majah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

[ أفضل الحج العج و الثج ] والعج: هو رفع الصوت بالتكبير والتلبية ، والثج: هو إراقة دماء الهدايا و النسك .

Menjauhi Amalan-amalan Yang Menyebabkan Dosa

Yaitu meninggalkan amalan-amalan seperi rafats, kefasikan dan kemaksisatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ}
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal .” (QS. Al-Baqarah: 198-200)

Dan juga dalam hadits shahih disebutkan:

« مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّه »

”Barang siapa berhaji ke Baitullah kemudian ia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik maka ia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Al-Bukhari)

Menunaikannya Dengan Harta Yang Halal, Bukan Dari Yang Haram

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Menunaikannya Hanya Karena Allah

Ia tidak menunaikan ibadah haji tersebut karena riya, sum’ah, sombong, berbangga-bangga, sombong dang yang lainnya.

Al-Mabrur = Al-Maqbul (Yang diterima)

Ada yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima dan ciri-cirinya adalah seseorang kembali dari hajinya dalam kondisi yang lebih baik, bukan kembali kepada perbuatan maksiat.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Dia mengkaruniakan kepada kita haji yang mabrur, dan ibadah yang diterima, sesungguhnya Dia Mahakuasa terhdadap segala sesuatu.

(Sumber:الحج المبرور karya ‘Abdul Mahmud Yusuf ‘Abdullah as-Sudani, di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/213.htm. Dengan tambahan dan pengubahan dari Tuhfatul Ahwadzi dan kitab lainnya.

Oleh: Abu Alya | April 23, 2013

Amalan Dan Hukum Sekitar Romadhon

Bulan Romadhon hampir tiba, kaum musliminpun menyambutnya dengan penuh harap dan kebahagian. Bagaimana tidak?! Bulan yang penuh barokah dan keutamaan. Bulan diturunkannya Al Qur’an yang menunjuki manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akherat. Maka tak heran kaum muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Demikianlah Allah memberikan keutamaan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.

1. Keutamaan Bulan Ramadhan[1]

Sangat jelas dan gamblang keutamaan Romadhon dibanding bulan lainnya, namun kiranya masih perlu dipaparkan secara ringkas keutamaannya sebagai motivator semangat kaum muslimin beramal sholeh padanya. Diantara keutamaan tersebut adalah:

a. Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran karena Alquran diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana firman Allah ::

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa.” (Surat Albaqarah ayat 185)

Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan turunnya Alquran, lalu pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf –yang berfungsi menunjukkan makna ‘alasan dan sebab’– dalam firmanNya: . Hal itu menunjukkan bahwa sebab pemilihan bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena Alquran diturunkan pada bulan tersebut.

b. Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka sebagaimana sabda Rasulullah ,

« إِذَا جَاءَ رَمَضانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النِيْرَانِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ »

“Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan.” [2]

Oleh karena itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerusakan di bumi karena sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Alquran serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut.

c. Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan lailatul qadar, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr.

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Surat Al Qadr ayat:1-3)

Melihat keutamaan-keutamaan ini tentunya membuat seorang muslim lebih bersemangat dalam menyambutnya dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang datangnya bulan tersebut.

2. Persiapan Menghadapi Ramadhan

Diantara yang harus dipersiapkan seorang muslim dalam menyambut kedatangan bulan yang mulia ini adalah:

a. Menghitung bulan sya’ban

Salah satu bentuk persiapan dalam menghadapi Ramadhan yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah menghitung bulan Sya’ban, karena satu bulan dalam hitungan Islam adalah 29 hari atau 30 hari sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam hadits Ibnu Umar, beliau bersabda:
« الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً، فَلا َتَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ »

“Satu bulan itu 29 malam. Maka jangan berpuasa sampai kalian melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka genapkanlah 30 hari.”[3]

Maka tidaklah berpuasa sampai kita melihat hilal (tanda masuknya bulan). Oleh karena itu, untuk menentukan kapan masuknya Ramadhan diperlukan pengetahuan hitungan bulan Syaban.

b. Melihat hilal Ramadhan (Ru’yah)

Untuk menentukan permulaan bulan Ramadhan diperintahkan untuk melihat hilal, dan itulah satu-satunya cara yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ (6/289-290) dan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (3/27). Dan ini merupakan pendapat Ibnu Taimiyah yang berkata, “Kita sudah tahu secara pasti, Agama Islam beramal dengan melihat hilal dalam berpuasa, haji, atau iddah (masa menunggu), atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berhubungan dengan hilal. Adapun pengambilannya dengan cara mengambil berita orang yang menghitungnya dengan hisab, baik dia melihatnya atau tidak, maka tidak boleh.” [4]Demikian juga Ibnu daqiqil ‘Ied menyatakan: “Tidak boleh bersandar kepada hisab dalam menentukan puasa (Romadhon)”.[5]

Kemudian perkataan beliau ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Sedang munculnya masalah bersandar dengan hisab dalam hal ini baru terjadi pada sebagian ulama setelah tahun 300-an. Mereka mengatakan bahwa jikalau terjadi mendung (sehingga hilal tertutup ) boleh bagi yang mampu menghitung hisab beramal dengan hisabnya, namun itu hanya untuk dirinya sendiri. Jika hisab itu menunjukkan ru’yah, maka dia berpuasa, dan jika tidak, maka tidak boleh.[6] Lalu, bagaimana keadaan kita sekarang?

Adapun dalil tentang kewajiban menentukan permulaan bulan Ramadhan dengan melihat hilal sangat banyak, di antaranya adalah:

1. Hadits Ibnu Umar terdahulu.

2. Hadits Abu Hurairah. Beliau berkata, “Rasulullah bersabda,
« صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ »

“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian (untuk idul fithri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Syakban 30 hari.” (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

3. Hadits ‘Adi bin Hatim, beliau berkata, “Rasulullah bersabda,
« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا الْهِلاَلَ قَبْلَ ذَلِكَ »

“Jika datang Ramadhan maka berpuasalah 30 hari kecuali kalian telah melihat hilal sebelumnya.” [7]

Penentuan bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal dapat ditetapkan dengan persaksian seorang Muslim yang adil sebagaimana yang dikatakan Ibnu Umar:

تَرَاءَى النَّاسُ اْلِهلاَلَ فأَخْبَرْتُ النَّبي أَنِّيْ رَأَيْتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Manusia sedang mencari hilal, lalu aku khabarkan Nabi bahwa aku telah melihatnya maka beliau berpuasa dan memerintahkan manuasia untuk berpuasa.” [8]

c. Tidak berpuasa pada hari yang diragukan

Berpuasa pada hari yang diragukan, apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, adalah terlarang sebagaimana di sebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
« لاَ تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلاً يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ »

“Janganlah mendahului puasa Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari (sebelumnya), kecuali orang yang (sudah biasa) berpuasa satu puasa (yang tertentu), maka hendaklah dia berpuasa.” [9]

3. Amalan Di Bulan Romadhon.

Setelah terlihat hilal atau sempurna bulan sa’ban, maka masuk dan datanglah bulan romadhon. Kaum muslimin mulai melakukan kegiatan dan amal sholehnya dimalam dan siang romadhan. Diantara amalan yang dilakukan seorang muslim adalah:

1. Qiyam romadhon ( Sholat tarawih).

Sholat taraweh disyariatkan dalam malam romadhon baik secara berjamaah atau tidak berjamaah. Disamping itu juga memiliki keutamaan besar yang dapat memotivasi seorang muslim melaksanakannya.

1.1. Keutamaannya

Qiyam Ramadhan adalah menegakkan malam Ramadhan dengan ibadah solat. Amalan ini memiliki keutamaan-keutamaan bagi pelakunya, yaitu:

a. Mendapat pengampunan dari Allah sebagaimana sabda Rasulullah e:

« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

“Barangsiapa yang menegakkan (malam-malam) bulan Ramadhan dengan keimanan dan mencari keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”[10]

Lalu Rasulullah meninggal sedang perintah tersebut (meninggalkan jamaah taraweh) masih berlaku, demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan pertengahan kekhalifahan Umar sebagaimana riwayat Muslim.

b. Mendapat keutamaan shiddiqin dan syuhada sebagaimana hadits Amr bin Murroh yang berbunyi:

جَاءَ رَسُوْلَ اللهِ رَجُلٌ مِنْ قُضَاعَةَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ وَصَلَيْتُ صَلَوَاتِ الْخَمْسَ وَصُمْتُ الشَّهْرَ وَقُمْتُ رَمَضَانَ وَآتَيْتُ الزَّكَاةَ؟ فَقاَلَ النَّبِيُّ : « مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا كَانَ مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ »

“Datang kepada Rasulullah seorang laki-laki Bani Qudhaah, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku telah bersyahadat tiada sesembahan yang hak, kecuali Allah, dan bersyahadat bahwa engkau adalah utusan-Nya, aku solat lima waktu, puasa satu bulan (Ramadhan), dan aku telah menegakkan (malam-malam) Ramadhan serta aku tunaikan zakat?’ Maka Rasulullah e bersabda, ‘Barangsiapa yang mati atas hal ini, dia termasuk dalam (kelompok) shiddiqin dan orang-orang yang syahid.’” [11]

1.2. Persyariatan qiyam ramadhan (sholat taraweh) dengan berjamaah

Disyariatkan berjamaah dalam pelaksanaan qiyam Ramadhan. Bahkan berjamaah itu lebih utama disbanding tidak berjamaah, karena Rasulullah telah melakukan hal tersebut dan menjelaskan keutamaannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar:

صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةَ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةَ قَامَ بِناَ حَتىَّ ذَهَبَ شَطْرُ الَّليْلِ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوْ نَفَلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ الَّليْلَةِ، فَقَالَ: « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »، فَلَمَّا كَانَتِ الرَّاِبِعَةَ لَمْ يَقُمْ، فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةَ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهَ وَالنَّاسُ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوْتًنَا الْفَلاَحُ. قَالَ: قُلْتُ: مَا الْفَلاَحُ؟ قَالَ: السَّحُوْرُ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بَقِيَةَ الشَّهْرِ

“Kami berpuasa bersama Rasulullah Ramadhan. Beliau tidak melaksanakan qiyam (solat taraweh) bersama kami selama bulan itu kecuali sampai tinggal tujuh hari. Saat itu, beliau tegak (solat taraweh) bersama kami sampai berlalu sepertiga malam. Pada hari keenam (tanggal 24) beliau tidak solat bersama kami. Baru kemudian pada hari kelima (tanggal 25) beliau solat lagi (solat taraweh) bersama kami sampai berlalu 1/2 malam. Saat itu aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, seandainya engkau menambah solat pada malam ini.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya jika seseorang solat bersama imamnya sampai selesai, niscaya ditulis baginya amalan Qiyamul Lail.’ Lalu pada malam keempat (tanggal 26) kembali beliau tidak solat bersama kami. Dan pada malam ketiga (tanggal 27), beliau kumpulkan keluarga dan istri-istrinya serta manusia, lalu menegakkan (malam tersebut) bersama kami sampai kami takut kehilangan kemenangan.” Berkata (rawi dari Abu Dzar), “Aku bertanya, ‘Apa kemenangan itu?’ Beliau (Abu Dzar) menjawab, ‘Sahur. Kemudian beliau e tidak menegakkannya setelah itu.” [12]

Sedangkan Rasulullah tidak melakukannya secara berjamaah terus menerus disebabkan takut hal itu diwajibkan kepada kaum muslimin. Lalu tidak mampu mengerjakannya, sebagaimana jelas dalam hadits Aisyah (yang diriwayatkan dalam shahihain):

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ خَرَجَ لَيْلَةً فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِيْ الْمَسْجِدِ وَ صَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوْا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلُّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فتَحَدَّثُوْا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ،فَلَمَّا كَانَتِ الَّليْلَةُ الرَّاِبعَةُ عَجِزَ اْلمَسْجِدِ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّىخَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ،فَلَمَّا قَضَىالْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ :”أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَ لَكِنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوْا عَنْهَا”. فَتُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ وَ الأََمْرُ عَلَى ذَلِكَ.

Bahwasanya Rasululloh keluar pada suatu malam lalu sholat di masjid,dan sholat bersamanya beberapa orang dengan sholatnya,lalu pada pagi harinya manusia membicarakan hal itu,maka berkumpullah orang lebih banyak dari mereka,lalu (Rasulullah) sholat dan sholat bersamanya orang-orang tersebut. lalu keesokan harinya manusia membicarakan hal itu,maka banyaklah ahli masjid pada malam ke tiga,lalu Rasululloh keluar dan sholat bersama mereka. Ketika malam ke empat masjid tidak dapat menampung ahlinya sehingga beliau keluar untuk sholat shubuh, ketika selesai shubuh,beliau menghadap manusia,lalu bertsyahud dan berkata:”Adapun kemudian, sudah jelas bagiku kukedudukan kalian,akan tetapi aku takut diwajibkan hal ini atas kalian lalu kalian tidak mampu melaksanakannya”.Lalu Rasululloh meninggal dan perkara tersebut tetap dalam keadaan tidak berjamaah[13]

Sebab qiyam Romadhon (sholat tarawih) tidak dilakukan secara berjamaah ini hilang dengan wafatnya Rasululloh. Hal ini karena dengan wafatnya beliau agama ini telah sempurna.

Dengan demikian amalan ini telah disyariat namun tidak dikerjakan Rasululloh lantaran kekhawatiran beliau, kemudian amalan ini dihidupkan kembali oleh Umar bin al-Khaththab pada kekhalifaannya.

Pensyariatan berjamaah ini juga untuk wanita, bahkan boleh menjadikan imam khusus untuk mereka, sebagaimana dilakukan kholifah Umar. Beliau mengangkat Ubai bin Kaab sebagai Imam untuk laki-laki dan Sulaiman bin Abu Hatsmah untuk wanita. Demikian juga kholifah Ali bin Abu Thalib memerintahkan kamu muslimin sholat tarawih berjamaah dan mengangkat seorang imam untuk laki-laki dan urfuzah ats-Tsaqafi untuk imam bagi wanita [14]

1.3. Jumlah rakaatnya

Adapun jumlah rakaatnya adalah 11 rakaat menurut yang rajih insyallah dan boleh kurang dan lebih darinya, karena Rasulullah tidak menentukan banyaknya dan panjang bacaannya.

1.4. Waktunya

Waktunya dimulai dari setelah sholat ‘Isya’ sampai munculnya fajar shubuh, dengan dalil sabda Rasululloh :

إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً ،وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَىصَلاَةِ اْلفَجْرِ

Sesungguhnya Allah telah menambah kalian satu sholat dan dia adalah witir maka sholatlah kalian antara sholat ‘Isya sampai shlat Fajar. [15]

Dan sholat malam diakhir malam lebih utama bagi yang mampu untuk bangun diakhir malam, dengan dalil sabda Rasululloh :

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ أَخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِراللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ الَّليْلِ مَشْهُوْدَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Barang siapa yang takut tidak bangun di akhir malam,maka berwitirlah di awalnya,dan barang siapa yang tamak untuk biasa bangun di akhirnya,maka hendaklan berwitir di akhir malam,karena sholat di akhir malam itu dipersaksikan,dan itu lebih utama. [16]

Tetapi kalau terdapat sholat teraweh berjamaah di awal malam maka itu lebih utama dari sholat taraweh di akhir malam sendirian.

1.5. Rincian Rakaat Sholat Taraweh.

Adapun sholat taraweh yang dilakukan Rasululloh adalah dengan perincian sebagai berikut:

1. 13 Rakaat dengan perincian:2 rakaat-2 rakaat dan dengan satu witir.

2. 13 Rakaat dengan perincian : 8 rakaat ditutuyp dengan salam pada setiap dua rakaat,ditambah 5 rakaat witir dengan tidak duduk dan salam kecuali di rakaat yang kelima.

3. 11 rakaat dengan perincian: dua-dua rakaat dan ditutup dengan satu witir.

4. 11 Rakaat dengan perincian: 8 rakaat tanpa duduk kecuali di rakaat yang kedelapan,lalu bertasyahud dan sholawat serta berdiri tanpa salam,lalu berwitir serakaat dan salam dan ditambah 2 rakaat dilakukan dalam posisi duduk.

5. 9 Rakaat dengan perinciaan : 6 rakaat dilakukan tanpa duduk kecuali di rakaat keenam,lalu bertasyahut dan bersholawat tanpa salam,kemudian berdiri untuk witir serakaat lalu salam,kemudian sholat 2 rakaat dengan duduk.

1.6. Qunut.

Setelah selesai dari membaca surat dan sebelum ruku’ kadang-kadang beliau berqunut,dan boleh dilakukan setelah ruku’

1.7. Bacaan Setelah Witir.

Apabila telah selesai dari witir maka hendaklah membaca:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْس سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْس سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْس

dengan memanjangkan suara dan meninggikannya pada yang ketiga.

2. Puasa.

Setelah melakukan sholat taraweh dimalam hari, seorang muslim bersiap melakukan amalan puasa dibulan romadhon.

1 Definisi Puasa

1.1. Definisi Secara Bahasa

Ash-Shiyam (puasa) dalam bahasa Arab bermakna ‘menahan diri’, seperti firman Allah :

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا

“Aku telah bernazar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara)” (Maryam, 19::26).

1.2. Definisi Secara Istilah Syari

Adapun secara istilah syari adalah ‘menahan diri dengan niat ibadah dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat’.[17]

1.2. Kewajiban Berpuasa di Bulan Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang mukmin dan merupakan salah satu dari Rukun Islam yang Lima, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam Alquran dan as-Sunnah serta ijmak kaum muslimin.

a. Dalil dari Alquran:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah, 2:183).

b. Dalil dari as-Sunnah:

1. Hadits Thalhah bin Ubaidullah, Beliau berkata,

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ثَائِرَ الرَّأْسِ – وفيه – فَقَالَ:أَخْبِرْنِيْ بِمَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِن َالصِّيَامِ، فقال: « رَمَضَان إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا »

“Seorang arab pedalaman datang kepada Nabi  dalam keadaan kusut rambutnya – dan terdapat – laki-laki itu, ‘Beritahulah aku apa yang diwajibkan atasku dari puasa.’ Rasulullah menjawab, ‘Ramadhan, kecuali kalau engkau ingin tambahan.’” [18]

2. Hadits Ibnu Umar. Beliau berkata, “Rasulullah bersabda,

« بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَاْلحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَان »

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu: syhadatain, menegakkan solat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan.” (Riwayat al-Bukhariy).

c. Dalil dari Ijmak kaum muslimin:

Kaum muslimin telah menyepakati kewajiban puasa Ramadhan sejak dahulu sampai sekarang.

1.3. Keutamaan Puasa[19]

Telah ada perintah yang menunjukkan bahwa puasa merupakan satu ibadah yang dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Di samping itu, telah dijelaskan keutamaan-keutamaannya, di antaranya adalah yang terkandung dalam firman Allah :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab, 33:35).

Dan juga firman Allah:

وَأَن تَصُومُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (Al-Baqarah, 2:184).

Rasulullah sendiri telah menjelaskan keutamaan puasa dalam hadits-haditsnya yang sahih, antara lain adalah:

a. Puasa merupakan benteng atau perisai sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah :

« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ لَهُ وِجَاءً »

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaknya dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang tidak mampu, maka seharusnya dia berpuasa karena puasa itu adalah benteng atau perisai baginya[20].

Hadits ini menjelaskan bahwa puasa dapat mengekang syahwat dan memperlemahnya, sehingga dia bisa menjadi perisai seorang muslim dari syahwat dan hawa nafsu – dua hal yang selalu menggiring manusia ke neraka Jahannam. Oleh karena itu, Nabi bersabda dalam hadits yang lain,

« مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ الله إِلاََّ باَعَدَ الله بذَلِكَ وَجْهَهُ عَنِ الَّنارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا »

“Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasanya itu dari api neraka (sepanjang perjalanan) tujuh puluh tahun.” [21]

b. Puasa dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga, sebagaimana hadits Abu Umamah bahwa beliau pernah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga.” Beliau menjawab,

« عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ، لاَ مِثْلَ لَهُ »

“Berpuasalah, tidak ada yang seperti puasa.” [22]

c. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kebahagiaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits
Abu Hurairah, beliau berkata, “Rasulullah bersabda:

« قَالَ الله: كُلُّ عَمَلِ بني آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب، فإن سابه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤٌ صائم، والذي نفس محمدٍ بيده لخُلوف فم الصائم أطيبُ عند اللّه من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح وإذا لقي ربَّه فرح بصومه »

“Allah berfirman, ‘Semua amalan Bani Adam untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.’ Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada satu hari, maka janganlah berkata-kata kotor dan keji. Jika ada orang yang mencelanya dan menyakitinya, hendaklah dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’ Demi Zat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan yang membahagiakannya, yaitu jika berbuka, dia berbahagia, dan jika berjumpa dengan Rabnya dia berbahagia dengan puasanya.” [23]

Dalam hadits inipun terdapat dua keutamaan yang lain, yaitu:

d. Pahala orang yang berpuasa dilipatgandakan, dan

e. Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik di sisi Allah daripada wangi misik.

f. Orang-orang yang berpuasa diberikan pintu khusus di surga yang diberi nama ar-Rayyan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah,

« إِنَّ فِيْ الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ: الرّيَّان، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ أَحَدٌ مِنْهُ،]فَاِذَا دَخَلَ اَّخِرُهُمْ أُغْلِقَ، وَمَنْ دَخَلَ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا] »

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang dinamakan ar-Rayyan. Masuk dari pintu itu orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat; tidak masuk dari pintu itu seorangpun selain mereka. Kalau mereka semua telah masuk (ke dalam surga), maka pintu itu ditutup sehingga tidak dapat lagi seorangpun masuk melaluinya. Maka jika telah masuk orang yang terakhir dari mereka, pintu itupun ditutup. Barangsiapa yang masuk, akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan haus selamanya.” [24]

1.4. Amalan -Amalan Yang Berhubungan Dengan Puasa

1. Niat

Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib atas setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya karena Rasulullah bersabda,

« مَنْ لَمْ ُيْجِمِع الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ ف‍ََلاَ صِيَامَ لَهُ »

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu.” [25]

Niat tempatnya di hati sedang melafalkannya itu termasuk kebidahan. Kewajiban berniat puasa pada malam hari khusus untuk puasa wajib saja.

2. Waktu Puasa

Adapun waktu puasa dimulai dari terbit fajar subuh sampai terbenam matahari dengan dalil firman Allah,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar.”(Al-Baqarah, 2:186).

Dan perlu diketahui bahwa Rasulullah telah menjelaskan bahwa fajar ada dua:

a. Fajar kazib (fajar awal). dalam waktu ini belum boleh dilakukan solat subuh dan dibolehkan untuk makan dan minum bagi yang berpuasa.

b. Fazar shodiq (fajar yang kedua/subuh) sebagaimana hadits Ibnu Abbas , Rasulullah bersabda,

«الفَجْرُ فَجْرَانِ: فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يَحْرُمُ الطَّعَامُ وَلاَ يَحِلُّ الصَّلاَة ُوأَمَّا الثَّانِيْ فإِنّ‍َهُ يَحْرُمُ الطَّعَامُ وَ يَحِلُّ الصَّلاَةَ »

“Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka dibolehkan makan dan tidak boleh melakukan solat, sedang yang kedua, maka diharamkam makan dan dibolehkan solat.” [26]

Untuk mengenal keduanya dapat dilihat dari bentuknya. Fajar yang pertama, bentuknya putih memanjang vertikal seperti ekor serigala. Sedangkan fajar yang kedua, berwarna merah menyebar horisontal (melintang) di atas lembah-lembah dan gunung-gunung dan merata di jalanan dan rumah-rumah, dan jenis ini yang ada hubungannya dengan puasa.

Jika tanda-tanda tersebut telah tampak, maka hentikanlah makan dan minum serta bersetubuh. Sedangkan adat yang ada dan berkembang saat ini – yang dikenal dengan nama imsak – merupakan satu kebidahan yang seharusnya ditinggalkan. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar – seorang ulama besar dan ahli hadits yang bermazhab Syafi’i yang meninggal tahun 852 H – berkata dalam kitabnya yang terkenal Fath al-Bary Syarh al-Jami’ ash-Shohih (4/199), “Termasuk kebidahan yang mungkar adalah apa yang terjadi pada masa ini, yaitu mengadakan azan yang kedua kira-kira sepertiga jam sebelum fajar dalam bulan Ramadhan dan mematikan lentera-lentera sebagai alamat untuk menghentikan makan dan minum bagi yang ingin berpuasa, dengan persangkaan bahwa apa yang mereka perbuat itu demi kehati-hatian dalam beribadah. Hal seperti itu tidak diketahui, kecuali dari segelintir orang saja. Hal tersebut membawa mereka untuk tidak azan, kecuali setelah terbenam beberapa waktu (lamanya) untuk memastikan (masuknya) waktu-menurut persangkaan mereka- lalu mengakhirkan buka puasa dan mempercepat sahur. Maka mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah. Oleh karena itu, sedikit sekali kebaikan mereka dan lebih banyak kejelekan pada diri mereka. الله المستعان .”

Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar bahwa Rasulullah bersabda,

« إِذَا أَقْبَلَ الَّليْلُ مٍنْ هَهُنَا وَ أَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ »

“Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” [27]

Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya.

3. Sahur

3.1. Hikmahnya

Setelah mewajibkan berpuasa dengan waktu dan hukum yang sama dengan yang berlaku bagi orang-orang sebelum mereka, maka Allah mensyariatkan sahur atas kaum muslimin dalam rangka membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Abu Sa‘id al-Khudriy:

« فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ »

“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” [28]

3.2. Keutamaannya

Keutamaan sahur antara lain:

1. Sahur adalah berkah sebagaimana sabda Rasulullah :

« إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ الله إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوْهُ »

“Sesungguhnya dia adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, jangan kalian meninggalkannya.” [29].

Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas karena sahur itu mengikuti sunnah dan menguatkan orang yang berpuasa serta menambah semangat untuk menambah puasa dan juga mengandung nilai menyelisihi ahli kitab.

2. Salawat dari Allah dan malaikat bagi orang yang bersahur, sebagaimana yang ada dalam hadits Abu Sa‘id al-Khudry bahwa Rasulullah bersabda,

« السَحُوْر أَكْلَةُ اْلْبَرَكَةِ، فَلاَ تَدَعُوْهُ ولَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ َماءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّْونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ »

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.” [30]

3.3. Sunnah Mengakhirkannya

Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati subuh (fajar) sebagaimana yang dilakukan Rasulullah di dalam hadits Ibnu Abbas dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

تَسَحَرْنَا مَعَ النَّبِيْ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسُّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِيْنَ آية

“Kami bersahur bersama Rasulullah, kemudian beliau pergi untuk solat.” Aku (Ibnu Abbas) bertanya, “Berapa lama antara azan dan sahur?” Beliau menjawab, “Sekitar 50 ayat.”[31].

3.4. Hukumnya

Sahur merupakan sunnah yang muakkad dengan dalil:

a. Perintah dari Rasulullah  untuk itu sebagaimana hadits yang terdahulu dan juga sabda beliau :

« تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ »

“Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah.” [32]

b. Larangan beliau dari meninggalkannya sebagaimana hadits Abu Sa’id yang terdahulu. Oleh karena itu, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (3/139) menukilkan ijmak atas kesunahannya.

4. Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Di dalam puasa ada perkara-perkara yang merusaknya, yang harus dijauhi oleh seorang yang berpuasa pada siang harinya. Perkara-perkara tersebut adalah:

a. Makan dan minum dengan sengaja sebagaimana yang difirmankan Allah:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makanlah dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih siang dari benang hitam malam dari fajar.” (Al-Baqarah, 2:186).

b. Sengaja untuk muntah ( muntah dengan sengaja).

c. Haid dan nifas.

d. Injeksi yang berisi makanan (infus).

e. Bersetubuh.

Kemudian ada perkara-perkara lain yang harus ditinggalkan oleh seorang yang berpuasa ,yaitu:

1.Berkata bohong sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

« مَنْ لَمْ َيدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِللهِ  حَاجَةٌ أَنْ َيدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ »

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan berkata bohong dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum.” (Riwayat al-Bukhariy).

2.Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan) sebagaimana disebutkan dalam hadits
Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

« لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّراَبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ »

“Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum. Puasa itu hanyalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah, ‘Saya sedang puasa. Saya sedang puasa.’” [33]

5. Perkara-Perkara yang Dibolehkan

Ada beberapa perkara yang dianggap tidak boleh padahal dibolehkan, di antaranya:

a. Orang yang junub sampai datang waktu fajar sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata:

كَانَ رَسُلُ الله يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ اغْتَسَلَ و يَصُوْمُ

“Sesungguhnya Nabi mendapatkan fajar (subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya kemudian mandi dan berpuasa.” [34]

b. Bersiwak.

c. Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika bersuci.

d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda.

e. Injeksi yang bukan berupa makanan.

f. Berbekam.

g. Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.

h. Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.

i. Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.

6. Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah. Oleh karena itu, ia memberikan kemudahan dalam puasa ini kepada orang-orang tertentu yang tidak mampu atau sangat sulit untuk berpuasa. Mereka itu adalah sebagai berikut:

1. Musafir (orang yang sedang dalam perjalanan/bepergian ke luar kota).

Musafir diperkenankan untuk berpuasa dan berbuka sebagai rahmat dari Allah, sebagaimana firmanNya:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Surat Al Baqorah. 2:185). Demikian pula Rasululloh ditanya tentang puasa musafir sebagaimana dalam hadits Hamzah bin Amru Al Aslamiy:

أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Sesungguhnya Hamzah bin Amru Al Aslamiy bertanya kepada Rasululoh: “Apakah saya berpuasa dalam perjalanan?” Hamzah adalah seorang yang banyak berpuasa, Lalu Rasululloh menjawab: “Jika kamu suka berpuasalah dan jika suka berbukalah”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

2. Orang yang sakit.

Dibolehkan berbuka bagi orang sakit sebagai rahmat dari Allah. Namun dengan ketentuan sakitnya tersebut akan memerikan kemudhoratan kepada dirinya atau bertambah parah atau dikhawatirkan memperlambat kesembuhannya bila berpuasa[35] .

3. Wanita yang sedang haid atau nifas.

Para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa orang yang haidh dan nifas dilarang berpuasa dan keduanya harus mengqadha puasanya dihari yang lain.

4. Orang yang sudah tua dan wanita yang sudah tua dan lemah.

Orang yang sudah tua dan lemah diperbolehkan berbuka dengan kewajiban memberi makan setiap hari seorang miskin, sebagaimana disampaikan Ibnu Abas: “orang yang sudah tua baik laki-laki atau perempuan yang tidak mampu berpuasa maka keduanya harus memberi makan setiap harinya seorang miskin”.[36]

5. Wanita yang hamil atau menyusui.

7. Berbuka Puasa

7.1. Waktu berbuka

Berbuka puasa dilakukan pada waktu terbenam matahari dan telah lalu penjelasannya pada pembahasan waktu puasa. Rasululloh berbuka sebelum sholat maghrib sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik.

7.2. Mempercepat Buka Puasa

Termasuk dalam sunnah puasa adalah mempercepat waktu berbuka dalam rangka mengikuti contoh Rasulullah dan para sahabatnya sebagaimana yang dikatakan oleh Amr bin Maimun al-Audy bahwa sahabat-sahabat Muhammad adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. [37]

Adapun manfaatnya adalah:

1. Mendapatkan kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Saàd bahwa Rasulullah bersabda,

« لَا يَزَالُ النَّاسَ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ »

“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.” [38]

2. Merupakan sunnah Nabi .

3. Dalam rangka menyelisihi ahli kitab sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

« لاَ يَزَالُ الدَّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَهُ »

“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum muslimin) mempercepat buka puasanya karena orang-orang Yahudi dan Kristen (Nashrani) mengakhirkannya.” [39]

Buka puasa dilakukan sebelum solat maghrib karena itu merupakan akhlak para nabi. Sedangkan Rasulullah memotivasi kita untuk berbuka dengan kurma dan kalau tidak ada kurma, maka memakai air. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian beliau terhadap umatnya. Setelah berbuka, beliau melakukan sholat maghrib

7.3. Makanan berbuka

Memang tidak ketentuan jenis makanan yang harus dimakan ketika berbuka puasa, namun Rasululloh mendahulukan Ruthob ketika berbuka, sebagaimana dikisahkan Anas bin Malik:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Nabi berbuka sebelum sholat dengan Ruthob jika tidak ada maka dengan kurma dan jika tidak ada maka meinum seteguk air.(Riwayat Ahmad 3/163, Abu Daud 2/306 dan At Tirmidziy 3/70).

7.4. Bacaan orang yang berbuka.

Disyariatkan seorang yang berpuasa ketika berbuka membaca do’a, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amru bin Al Ash:

“Sesungguhnya seorang yang berpuasa ketika berbuka memiliki do’a yang tidak tertolak”.

Sedangkan doa yang utama adalah do’a yang ma’tsur dari nabi :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Nabi jika berbuka membaca: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ . [40]

8. Adab Orang yang Berpuasa.

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk beradab dengan adab-adab yang syari, di antaranya:

1. Memperlambat sahur. (telah lalu penjelasannya)

2. Mempercepat berbuka puasa.(telah lalu penjelasannya)

3. Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka . (telah lalu penjelasannya)

4. Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa. (telah lalu penjelasannya)

5. Bersiwak.

6. Berderma dan tadarus Alquran.

7. Bersungguh-sungguh dalam beribadah khususnya pada sepuluh hari terakhir.

9. I’tikaf

9.1.Makna I’tikaf

I’tikaf berasal dari bahasa Arab yang bermakna berdiam diri pada sesuatu. Kata ini dipakai juga untuk ibadah dengan tinggal dan menetap dimasjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pelaku ibadah ini dinamakan Mu’takif atau ‘Aakif.
9.2. Hikmah I’tikaf

Adapun hikmahnya berkata ibnul Qayim: “Ketika perbaikan dan keistiqomahan hati dalam berjalan menuju Allah tergantung konsentrasinya terhadap Allah dan kesatuan kekuatannya dalam menghadap Allah secara penuh. Lalu jika hati terpecah tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah, padahal kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan manusia, banyak ngomong dan tidur menambah hati berantakan dan memporak porandakannya serta memutus atau melemahkan atau mengganggu dan menghentikan hati dari jalan kepada Allah. Maka rahmat Allah kepada hambaNya menuntut disyariatkan puasa untuk mereka. Puasa yang dapat menghilangkan kelebihan makan dan minum dan mengosongkan hati dari campuran syahwatyang menghalangi jalan kepada Allah. Allah mensyariatkannya sesuai dengan kemaslahatan yang dapat bermanfaat bagi hamba didunia dan akheratnya. Tentunya hal ini tidka merugikan dan memutus kemaslahatan dunia dan akheratnya seorang hamba.

Kemudian mensyariatkan mereka I’tikaf yang tujuan dan intinya adalah hati tinggal menghadap Allah, menyatukan kekuatannya, berkholwat dengan Nya, menghilangkan kesebukan dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap Allah saja.

9.3. Pensyariatannya

I’tikaf disyariatkan Allah dalam firmanNya:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسُُ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسُُ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْئَانَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari shiyam bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah shiyam itu sampai malam,(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa. (Al Baqoroh 187)

Demikian juga hal ini dilakukan Rasululloh sebagaimana dikisahkan oleh hadits dibawah ini.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Nabi beri’tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya[41].

I’tikaf adalah ibadah yang disunnahkan untuk dilakukan pada bulan Romadhon dan selainnya, baik didahului dengan puasa atau tidak, akan tetapi yang paling utama di bulan Ramadhon dan disepuluh hari terakhir sebagaimama dijelaskan hadits-hadits berikut ini.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ فَاعْتَكَفَ عَامًا حَتَّى إِذَا كَانَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ مِنْ صَبِيحَتِهَا مِنْ اعْتِكَافِهِ قَالَ مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

Sesungguhnya Rasululloh n telah beri’tikaf disepuluh hari pertengahanromadhon lalu I’tikaf pada tahun tersebut sampai pada malam keduapuluh satu yaitu malam beliau keluar I’tikaf dipaginya beliau berkata barang siapa yang beri’tikaf bersamaku maka hendaklah beri’tikaf di sepuluh terakhir[42]. dan perintah dan persetujuan beliau kepada Umar dalam hadits :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْفِ نَذْرَكَ فَاعْتَكَفَ لَيْلَةً

Dari Umar bin Khothab beliau berkata: wahai Rasululloh saya pernah bernazar dizaman jahiliyah untuk I’tikaf satu malam di masjid haram. Lalu beliau menjawab: tunaikan nazarmu. Lalu Umar beri’tikaf semalam.

9.4. Syarat Dan tempatnya

I’tikaf hanya boleh dilakukan dimasjid dan tidak keluar darinya kecuali hajat dan darurat. Tidak boleh dilakukan pada selain masjid. Sebagaimana firman Allah:
وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. (Al Baqoroh 187)

9.5. Hal-hal Yang Diperbolehkan Dalam I’tikaf.

Boleh keluar masjid karena hajat dan boleh juga mengeluarkan kepalanya keluar masjid untuk dicuci atau disisiri. Aisyah berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Nabi jika beri’tikaf mengeluarkan kepalanya kepada saya lalu saya sisiri, dan beliau tidak keluar kecuali untuk hajat (kebutuhan)[43].

Dibolehkan berwudhu dimasjid.
Boleh membuat kemah kecil atau kamar kecil dengan kain di bagian belakang masjid sebagai tempat beri’tikaf, sebagaimana Aisyah membuat kemah kecil untuk Nabi beri’tikaf.
Dibolehkan meletakkan kasur atau dipan dalam I’tikaf, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi, bahwa beliau jika beri’tikaf disiapkan atau diletakkan kasur atau dipan dibelakang tiang taubah.[44]
Boleh mengantar istrinya yang mengunjungunya dimasjid sampai pintu masjid. Dengan dalil:

أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ بَابَ الْمَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ سَلَمَةَ مَرَّ رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَبُرَ عَلَيْهِمَا

Shofiyah berkata bahwa beliau dating menziarahi nabi dalam I’tikaf beliau di sepuluh akhir romadhon lalu berbincang-bincang dengan beliau beberapa saat, kemudian bangkit pulang. Rasulullohpun bangkit bersamanya mengantar sampai ketika di pintu masjid didekat pintu rumah Ummu Salamah, lewatlah dua orang anshor, lalu keduanya memberi salam kepada Nabi dan beliau berkata kepada keduanya: “perlahan, sesungguhnya dia adalah shofiuyah bintu Huyaiy. Lalu keduanya berkata: “Subhanallah, wahai Rasululloh” dan keduanya menganggap hal yang besar.( Bukhori).

Wanita boleh beri’tikaf dimasjid selama aman dari fitnah, dengan dalil:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Nabi beri’tikaf di sepuluh akhir dari romadhon sampai wafat kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.[45]

10. Malam Qadar (Lailatul Qadr)

10.1. Sebab Penamaannya.

Para Ulama berselisih tentang sebab penamaan Lailatul qadr dalam dua pendapat:

Pertama: Sebabnya adalah karena keagungan dan kemuliaannya. Keagungan dan kemuliaan ini karena Al Qur’an diturunkan seluruhnya kelangit dunia pada malam tersebut, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Qadr.

Kedua: Sebabnya karena pada malam tersebut Allah menulis seluruh taqdir, rezeki dan ajal kepada para malaikat untuk tahun tersebut, sebagaimana firman Allah :

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (Surat Addukhon. 44:4)[46]

10.2. Keutamaannya.

Cukuplah keutamaan malam tersebut dengan dua hal:

Pertama: Malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firmanNya:

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Surat Al Qadr ayat:1-3)

Kedua: Pada malam tersebut Allah menuliskan seluruh taqdir tahun tersebut kepada para malaikat, sebagaimana firman Allah:

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (Surat Ad Dukhon 44:3-6)

10.3. Waktunya.

Para Ulama bersepakat menyatakan bahwa malam qadr terus ada setiap tahunnya sampai hari kiamat nanti.[47] Mereka berselisih dalam penentuan malam tersebut menjadi lima belas pendapat[48]. Namun yang rojih ada dimalam-malam ganjil sepuluh hari terakhir romadhan.

10.4. Tanda-tandanya.

Rasululloh memberikan tanda-tanda malam qadar agar dapat diketahui umatnya, diantara tanda-tandanya adalah:

Pagi harinya matahari terbit tidak terik (menyilaukan mata) sampai meninggi. Hal ini diisyaratkan dalam hadits ٌRozzi bin Hubaisy yang bertanya kepada Ubai bin Ka’ab:

قُلْتُ بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْعَلَامَةِ أَوْ بِالْآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا

Aku bertanya: Apa dalilnya engkau menegaskan hal tersebut wahai Abul Mundzir? Beliau menjawab dengan alamat atau tanda yang Rasululloh khabarkan yaitu matahari terbit waktu itu tidak terik. [49] Dalam riwayat Abu Daud:

تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِثْلَ الطَّسْتِ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ حَتَّى تَرْتَفِع

Matahari dipagi hari malam tersebut seperti bejana besar tidak memiliki cahaya yang terik sampai meninggi.[50]

Malam harinya cerah dan terang, tidak dingin dan tidak pula panas, sebagaimana sabda Rasululloh:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلِقَةٌ لا حَارَةَ وَلاَ بَارِدَةَ تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتِهَا ضَعِيْفَةً حَمْرَاءَ

Malam qadr adalah malam yang cerah dan terang, tidak panas dan tidak pula dingin, pagi harinya matahari terbit lemah kemerahan.[51] Sedangkan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah[52] tanpa tambahan kata (سَمْحَةٌ ) dan (صَبِيْحَتِهَا ) diganti (يوْمِهَا)

10.5. Hikmah disembunyikan waktunya.

Hikmah disembunyikan waktu malam ini adalah agar manusia bersungguh-sungguh mencarinya dengan harapan dapat menjumpainya. Hal ini seperti waktu terjadinya kiamat dan kematian.[53]

11. Zakat Fithroh.

Zakat fithroh merupakan zakat yang disyari’atkan dalam islam berupa satu sho’ dari makanan yang dikeluarkan seorang muslim di akhir Romadhon,dalam rangka menampakkan rasa syukur atas nikmat Allah dalam berbuka dari Romadhon dan penyempurnaannya, oleh karena itu dinamakan shodaqah fithroh atau zakat fithroh.[54]

11.1. Hukumnya

Zakat fithroh merupakan salah satu dari kewajiban -kewajiban yang dibebani kepada kaum muslimin dan diwajbkan untuk dikeluarkan oleh seorang muslim baik laki-laki atau perempuan,besar,kecil,budak atau merdeka.

Dalilnya adalah :

a. Hadits Ibnu Umar :

فَرَضَ رَسُوْلُ الله زَكَاةَ اْلفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَ الأنُثْىَ وَ الصَّغِيْرِ وَ الْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ،وَ أَمَرَ بِهَا قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسُ إِلَى الصَّلاَةِ

Rasululloh telah mewajibkan zakat fithroh satu sho’ dari korma atau satu sho’ dari gandum atas hamba sahaya ,orang merdeka,perempuan,laki-laki dan anak kecil dan besar.dan memerintahkan untuk menunaikannya sebelum keluarnya manusia menuju sholat.

b. Hadits Abi Said Al Khudry :

كُنَّا نُعْطِيهَا فِيْ َزمَانِ النَّبِي صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ.

Kami dahulu pada zaman Nabi memberikanya(zakat fithroh) satu sho’ dari makanan atau satu saho’ dari korma atau satu sho’ darigandum atau kismis(anggur kering).

c.. Perkataan Said bin Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz dalam menafsirkan firman Allah :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya.(Al A’la :14) dengan zakat fithroh.

e. Ijma’ yang dinukil Ibnbu Qudamah dari Ibnul Munzir,beliau berkata: Telah bersepakat setiap ahli ilmu bahwa zakat fithroh adalah wajib.(lihat Al Mughny 3/80)

11.2. Hikmahnya

Zakat fithroh memiliki hikmah yang banyak,diantaranya:

1. Dia merupakan zakat untuk tubuh yang telah diberikan kehidupan tahun tersebut.

2. Terdapat padanya kemudahan-kemudahan terhadap kaum muslimin baik yang kaya maupun yang miskin.

3. Dia merupakan ungkapan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan kepada orang yang berpuasa.

4. Dengannya sempurna kebhagiaan kaum muslimin pada hari ied dan dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bulan Romadhon.

5. Dia menjadi makanan bagi para fakir miskin,dan pembersih bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya pada bulan Romadhon. (lihat Fatawa Romadhon 2/909-911) dengan dalil sabda Rasululloh :

فَرَضَ رَسُوْلُ الله زَكَاةَ اْلفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِيْنَ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنَ.

Rasululloh telah mewajibkan zakat fitroh sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta memberi makan orang yang miskin.[55]

11.3. Jenis Yang Boleh dikeluarkan Untuk Zakat Fitroh Dan Yang Berhak Menerima.

Jenis yang dibolehkan dalam pengeluaran zakat fitroh adalah semua makanan pokok penduduk negeri tersebut menurut pendapat yang rojih[56] dengan kesepakatan para ulama pada jenis-jenis yang ada dalam Nash hadits. Sedang mengeluarkan harga zakat tersebut tidak diperbolehkan para ulama baik dengan uang atau daging atau yang lainnya.[57]

Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya asal dalam shodaqoh,bahwasanya diwajibkan atas dasar persamaan terhadap para orang faqir,sebagaimana firman Allah :

مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ أَهْلِيْكُمْ

Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,(surat Al Maidah : 89)

Dan Nabi telah mewajibkan zakat fithroh satu sho’ dari korma atau gandum, karena itulah makanan pokk penduduk Madinah,dan seandainya itu bukan makanan pokoknya,bahkan makan makanan pokok yang lainnya,maka beliau tidak membebani mereka untuk mengeluarkan dari makanan yang bukan merupakan makanan pokok mereka,sebagaimana tidak memerintahkan dengan hal itu dalan kafarot. Dan shodaqoh fithroh termasuk dari jenis kafarot, karena hal ini (zakat fithroh) berhubungan dengan badan dan ini (kafarot) juga berhubungan dengan badan,berbeda dengan shodaqoh harta(mal),karena dia diwajibkan dengan sebab harta dari jenis yang Allah telah berikan.

Sedangkan orang yang berhak menerima adalah fakir miskin saja, dengan dalil hadits Nabi:

فَرَضَ رَسُوْلُ الله زَكَاةَ اْلفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِيْنَ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنَ.

Rasululloh telah mewajibkan zakat fitroh sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta memberi makan orang yang miskin.

11.4. Ukuran Zakat Fithroh.

Sebagaimana ada dalam hadits-hadits terdahulu bahwa ukuran yang dikeluarkan adalah 1 sho’ yang setara kurang lebih 3 kg beras,menurut hitungan Syeikh Ibnu Baz (lihat Fatawa Romadhon 2:915 dan 2 :926).sedangkan menurut ukuran sebagian ulama setara dengan 2.275 Kg dan menurut Syeikh Ibnu Utsaimin 2,45 Kg dan dinegeri kita berlaku 2,5 Kg. Mengambil yang lebih banyak lebih baik.

11.5. Waktu Mengeluarkannya.

Waktu mengeluarkannya yang utama adalah sebelum manusia keluar menuju sholat Ied dan boleh dipercepat satu atau dua hari sebelumnya sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar .dan tidak boleh setelah sholat Ied,dengan dalil hadits Ibnu Abbas marfu’:

فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ فَزَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَ مَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَصَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَةِ.

Maka barang siapa yang menunaikannya sebelum keluar manusia menuju sholat,maka zakat yang diterima,dan barang siapa yang menunaikan setelah sholat,maka dia adalah shodaqoh dari shodaqoh-shodaqoh.(HR Abi Daud).

Demikianlah waktu mengeluarkannya, namun bila ada udzur seperti lupa atau yang lainnya maka ditunaikan ketika ingat walaupun setelah selesai sholat ‘ied[58]. Dan yang rojih dari pendapat para ulama tentang menunaikan zakat fithroh di awal Romadhon adalah tidak boleh, sebagaimana dinyatakan Syeikh Muhammad Ibnu Utsaimin.[59]

Demikian makalah ini dibuat, mudah-mudahan bermanfaat.
——————————————————————————————-
[1] Diringkas dari Sifat Saum An Nabi karya Syeikh Saalim bin ‘Ied Al Hilaliy dan Syeikh Ali Hasan Ali Abdilhamid, cetakan keenam tahun 1417 H –1997 M, penerbit Al Maktabah Al Islamiyah, Amaan, Yordania. hal 18-20.

[2] Riwayat al-Bukhariy dan Muslim

[3] Riwayat al-Bukhariy

[4] Lihat: Majmu’ al-Fatawa 25/132.

[5] Ihkamul Ahkaam dinukil dari AL I’laam Bi Fawaaid Umdatul Ahkam karya Ibnu Mulaqqin 5/179.

[6] Lihat: Majmu’ al-Fatawa 25/133

[7] Riwayat ath-Thahawy dan ath-Thabrany dalam al-Kabir 17/171, dan dihasankan Syaikh al-Albany dalam Irwa’ al-Ghalil nomor hadits 901.

[8] Riwayat Abu Dawud, ad-Darimy, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqy

[9] Riwayat Muslim

[10] Riwayat al-Bukhari dan Muslim

[11] Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih keduanya dan oleh selainnya dengan sanad yang sahih

[12] Riwayat Ashhabus Sunan

[13] .HR Al Bukhory dan Muslim

[14] diriwayatkan oleh al-Baihaqiy

[15] (HR Ahmad dari Abi Bashroh,dan dishohihkan Al Albany dalam Qiyamur Romadhon 26).

[16] (HR Muslim).

[17] Lihat Taisirul Fiqh karya Dr. Sholih bin Ghanim As Sadlaan , cetakan kedua tahun 1417 H-1997M. tanpa penerbit. Hal 79

[18] (Riwayat Bukhariy dan Muslim).

[19] Diringkas dari Sifat Saum An Nabi n Hal 11-17

[20] Riwayat al-Bukhariy 3/106 dan Muslim no. 1400 dari hadits Ibnu Masud.

[21] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abu Sa’id al-Khudriy).

[22] (Riwayat an-Nasaiy, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dengan sanad yang sahih).

[23] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

[24] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy).

[25](Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqy dari Hafshah binti Umar).

[26] (Riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruqutny, dan al-Baihaqy dengan sanad yang sahih)

[27] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim)

[28] (Riwayat Muslim).

[29] Riwayat an-Nasai dan Ahmad dengan sanad yang sahih)

[30] (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

[31] (Riwayat Bukhariy dan Muslim)

[32] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

[33] (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

[34] (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

[35] Lihat Sifat Shaum Nabi karya Syeikh Saalim dan Ali Hasan hal 59

[36] Riowayat Al Bukhori 4505

[37] Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Musannaf no 7591 dengan sanad yang disahihkan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary 4/199.

[38](Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

[39] (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan).

[40] riwayat Abu daud 2/306 dengan sanad yang hasan.

[41] Riwayat Bukhori No.1886

[42] Riwayat Bukhori No. 1887

[43] Riwayat Muslim

[44] Hadits ini sanadnya hasan, diriwayatkan Ibnu najah dalam Zawaaid sunannya.

[45] Riwayat Bukhori No. 1886

[46] Lihat Al I’lam Bi Fawa’id Umdatil Ahkam karya Ibnu Al Mulaqqin 5/391-392

[47] ibid 5/397.

[48] Ibid 5/398-404

[49] riwayat Muslim 1999

[50] riwayat Abu Daud 1170.

[51] Riwayat Ath Thoyalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/331 dan Al bazzar dengan sanad yang hasan. (lihat Sifat saum nabi hal 90.).

[52] Shohih Ibnu Khuzaimah 3/331-332

[53] lihat Al I’lam 5/407.

[54] (lihat Fatawa Romadhon ,2/901).

[55] ( HR Abu Daud,Ibnu Majah,Ad Daruquthny,Al Hakim dan Al Baihaqy , dan dishasankan oleh Imam An Nawawy dalam Al Majmu’ (6/126),Ibnu Qudamah dalam Al Mughny (3/50) dan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam Irwa’ Al Gholil (3/333)

[56] lihat Fatawa Romadhon 2/914

[57] ibid 2/916-927.

[58] Lihat Fataw Romadhon 2/931-935

[59] ibid 2/935

Oleh: Abu Alya | April 23, 2013

Berbakti Kepada Orang Tua

Berbicara tentang berbakti kepada orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan ditelaah,sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat, dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat.

Pola berpikir seperti itu, jelas tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya, (yang artinya) :

“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

Penghambaan diri kepada Allah, jelas harus lebih diutamakan. Karena manusia diciptakan memang hanya untuk tujuan itu. Namun, ketika Allah ‘menggandengkan’ antara kewajibanmenghamba kepada-Nya, dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, hal itu menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat urgensi yang demikian tinggi, dalam Islam. Kewajiban itu demikian ditekankan, sampai-sampai Allah menggandengkannya dengan kewajiban menyempurnakan ibadah kepada-Nya.

Urgensi Berbakti kepada Dua orang Tua

Ada setumpuk bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama, dalam jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah sudah cukup mengentalkan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dalam banyak sabdanya, dengan memberikan ‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih saksama. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut:

1. Allah ‘menggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua:

“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir:

“Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..[1]“

3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad.

Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim)

Beliau juga pernah bersabda:

“Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani.) Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik.

5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua.

“Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua[2].”

6. Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa.

Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.”

Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama.

7. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah.

Hal itu dapat dipahami melalui kisah ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

8. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya.

9. Doa orang tua selalu lebih mustajab.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.”

10. Harta anak adalah milik orang tuanya.

Saat ada seorang anak mengadu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah! Ayahku telah merampas hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan juga hartamu, kesemuanya adalah milik ayahmu[3].”

11. Jasa orang tua, tidak mungkin terbalas.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.” (Dikeluarkan oleh Muslim)

12. Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.

Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim)

13. Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat[4].

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua[5].”

Alhamdulillah. Kesemua bukti tersebut –dan masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya, termasuk konsensus umat Islam terhadap urgensi berbakti kepada orang tua yang sama sekali tidak boleh terabaikan–, kesemuanya, menunjukkan betapa bakti kepada orang tua adalah kebajikan maha penting, bahkan yang terpenting dari sekian banyak perbuatan baik yang diperuntukkan terhadap sesama makhluk ciptaan Allah. Sedemikian pentingnya, hingga riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya, bertaburan dalam banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahkan juga dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Memuliakan Orang Tua

Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Wujud pemuliaan itu sudah beberapa langkah mendahului gemuruh propaganda sejenis, yang baru-baru saja muncul belakangan ini, dari kalangan Barat. Sebut saja contohnya: jaminan untuk kaum manula, perhatian terhadap kaum jompo dan lain sebagainya. Kenapa demikian? Karena Islam sudah jauh-jauh hari langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

“Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (Al-Ahqaaf : 15)

Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka[6].”

“Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisaa : 36)

Perintah itu, bahkan diseiringkan dengan perintah untukmengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat.

Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!!

Berbuat Baik Kepada Orang Tua

“..dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

Berbuat baik dalam katagori umum, dalam bahasa Arabnya disebut ihsaan. Sementara bila ditujukan secara khusus kepada orang tua, lebih dikenal dengan istilah birr. Dalam segala bentuk hubungan interaktif, Islam sangatlah menganjurkan ihsan atau kebaikan.

“Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan, untuk dilakukan dalam segala hal. Bila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara baik. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim menyiapkan pisau yang tajam, dan upayakan agar hewan sembelihan itu merasa lebih nyaman[7].”

Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan, “Allah berpesan agar setiap orang melakukan bakti kepada orang tua dengan berbagai bentuk perbuatan baik. Namun kepada selain orang tua, Allah hanya memesankan ’sebagian’ bentuk kebaikan itu saja. “Katakanlah yang baik, kepada manusia.” (Al-Baqarah : 83)

Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan danmerasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk ‘mengejawantahkan’ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal. Beberapa hal berikut, adalah langkah-langkah dan tindakan praktis yang memang sudah ’seharusnya’ kita lakukan, bila kita ingin disebut ‘telah berbuat baik’ kepada orang tua:

1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.

2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.

3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka.

4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.

5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.

6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.

7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman:

“Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215)

8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.

9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)[8]

Semua hal di atas bukanlah ’segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata. Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, karena dorongan kasih sayang dan –terlebih-lebih– penghambaan dirinya kepada Allah. Sementara kita hanya memberi balasan, setelah terlebih dahulu kita menerima kebaikan dari mereka. Sehingga, bagaimanapun, nilainya jelas akan berbeda.

Arti Birrul Waalidain

Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah ‘bakti’. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara yang dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”

Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tidak bentuk kewajiban:

Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.

Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua.

Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.

Bila salah satu dari ketiga kriteria itu terabaikan, niscaya seseorang belum layak disebut telah berbakti kepada orang tuanya.

Karena berbakti kepada kedua orang tua lebih merupakan perjanjian, antara sikap kita dengan keyakinan kita. Kita tahu, bahwa menaati perintah orang tua adalah wajib, selama bukan untuk maksiat. Bahkan perintah melakukan yang mubah, bila itu keluar dari mulut orang tua, berubah menjadi wajib hukumnya. Kita juga tahu, bahwa harta orang tua harus dijaga, tidak boleh dihamburkan secara percuma, atau bahkan untuk berbuat maksiat. Kita juga meyakini, bahwa bila orang tua kita kekurangan atau membutuhkan pertolongan, kitalah orang pertama yang wajib menolong mereka. Namun itu hanya sebatas keyakinan. Bila tidak ada ‘ikatan janji’ dengan sikap kita, semua itu hanya terwujud dalam bentuk wacana saja, tidak bisa terbentuk menjadi ‘bakti’ terhadap orang tua. Oleh sebab itu, Allah menyebut kewajiban bakti itu sebagai ‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

Jangan Mendurhakainya!

Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang ‘kewajiban kita’ terhadap sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal.

Imam An-Nawawi menjelaskan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak, justru terhadap ibunya[9].”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu danmelarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta[10].”

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ’sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab, ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam[11].”

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaannya yang melebihi kemuliaan seorang ayah[12].”

Kapan seseorang disebut durhaka? Imam Ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam Al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata durhaka yaitu: apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Dengan demikian, berdasarkan definisi itu, bila seorang anak tidak mematuhi perintah atau larangan dalam urusan yang sangat sepele yang menurut hukum kebiasaan itu tidak dianggap ‘durhaka’, maka itu bukan termasuk kategori perbuatan durhaka yang diharamkan. Namun bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan orang tua dengan melakukan perbuatan dosa kecil, maka yang dilakukannya menjadi dosa besar, karena kehormatan larangan orang tua. Demikian juga, disebut durhaka, bila seorang anak melanggar larangan orang tua yang bertujuan menyelamatkan si anak dari kesulitan[13].”

Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa. Seperti memberikan sesuatu dengan dilempar, atau saat orang tuanya menemuinya di tengah orang ramai, ia tidak segera menyambutnya, dan berbagai tindakan lain yang di kalangan orang berakal dianggap ‘kurang ajar’, dapat sangat menyinggung perasaan orang tua[14].”

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan..[15]“

Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa taat kepada orang tua wajib, termasuk dalam hal-hal yang masih syubhat, namun tidak boleh dilakukan dalam hal-hal haram. Bahkan, seandainya keduanya merasa tidak nyaman bila makan sendirian, kita harus makan bersamamereka. Kenapa demikian? Karena menghindari syubhat termasuk perbuatanwara’ yang bersifat keutamaan, sementara mentaati kedua orang tua adalah wajib. Seorang anak juga haram bepergian untuk tujuan mubah ataupun sunnah, kecuali dengan ijin kedua orang tua. Melakukan haji secepat-cepatnya bahkan menjadi sunnah, bila orang tua tidak menghendaki. Karena melaksanakan haji bisa ditunda, dan perintah orang tua tidak bisa ditunda. Pergi untuk menuntut ilmu juga hanya menjadi anjuran, bila orang tua membutuhkan kita, kecuali, untuk mempelajari hal-hal yang wajib, seperti shalat dan puasa, sementara di daerah kita tidak ada orang yang mampu mengajarkannya..[16]“

Seringkali seorang anak membela diri saat dikecam sebagai anak yang durhaka terhadap ibunya, dengan pelbagai alasan yang dibuat-buat, atau sekadar mengalihkan perhatian kepada soal lain. ‘Seharusnya kan orang tua itu lebih tahu,’ ‘Seharusnya seorang ibu mengerti perasaan anak,’ ‘Seharusnya seorang ibu itu lebih bijaksana daripada anaknya,’ ‘Seharusnya seorang ibu tidak boleh memaksakan kehendak,’ dan berbagai alasan kosong lainnya. Yah, taruhlah, dalam suatu kasus, si ibu memang melakukan kesalahan, dengan memaksakan kehendaknya, atau bersikap kurang bijaksana. Namun saat si anak membantah perintah atau larangan ibunya, apalagi dia mengerti bahwa yang dikehendaki oleh ibunya itu adalah baik, meski kurang tepat, tidak pelak lagi, si anak telah berbuat durhaka. Di sinilah seharusnya ‘kunci kesabaran’ dan tingkat ‘kesadaran’ terhadap syariat Allah, juga penghormatan terhadap orang tua, dapat menggeret seseorang mengambil jalan mengalah, meskipun ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk harta, dan juga cita-citanya. Selama hal itu dapat membahagiakan sang ibu, seharusnya ia berusaha untuk memenuhi kehendaknya.

Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan menegaskan, “Apabila kita sudah menyadari betapa besar hak seorang ibu terhadap anaknya, dan betapa besar dosa perbuatan durhaka terhadapnya, atau dosa sekadar lalai memperhatikannya,cobalah, segera berbakti kepadanya, maafkan segala kekeliruannya di masa lampau, berusaha dan berusahalah untuk selalu menjalin hubungan baik dengannya. Berusahalah untuk menyenangkannya, dan dahulukan upaya memperhatikannya daripada segala hal yang kita sukai. Berupayalah untuk memenuhi kebutuhannya selekas mungkin, jangan sampai menyusahkannya. Ingatlah firman Allah:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Israa : 24)

Ketika orang tua telah berusia senja.

Pada saatnya, usia juga yang membatasi kepawaian seorang ibu mengasuh anaknya. Kasih ibu, memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu harus melalui juga masa-masa yang belum pernah dibayangkan selama ini. Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri. Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan:

“ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra : 23-24)

Saat usia semakin tua, bisa jadi kepekaan seorang ibu bertambah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, yang bila itu diucapkan seorang anak di waktu mudanya, tidak akan diperdulikan sama sekali. Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang demikian santun, agar seorang anak membiasakan diri berbicara dan bersikap secara mulai, santun dan terpuji, terhadap kedua orang tuanya, terutama sekali ibunya.

Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.” Kontan, seorang Sahabat bertanya: “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.[17]‘

Saat Ibunda Telah Wafat

Ada beberapa wujud manefestasi cinta kasih kepada sang bunda, yang masih dapat kita lakukan saat sang bunda sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Semua bentuk implementasi cinta kasih itu pada dasarnya lebih bersifat tugas dan kewajiban kita. Dengan atau tanpa muatan cinta kasih, semua tugas itu harus kita pikul. Namun adalah kenistaan, bila kita melaksanakan semuanya tanpa landasan cinta kepadanya. Berikut ini, penulis paparkan beberapa di antaranya:

Pertama: Melaksanakan perjanjian dan pesan sang bunda.

Diriwayatkan dari Syaried bin Suwaid Ats-Tsaqafi, bahwa ia menuturkan, “Wahai Rasulullah! Ibuku pernah berpesan kepadaku untuk memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Aku memiliki seorang budah wanita berkulit hitam. Apakah aku harus memerdekakannya?” “Panggil dia.” Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Saat wanita itu datang, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu?” Budak wanita itu menjawab, “Allah.” “Lalu, siapa aku?” Tanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lagi. Wanita itu menjawab, “Engkau adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliaupun bersabda, “Merdekakan dia. Karena dia adalah wanita mukminah[18].”

Kedua: Mendoakan sang ibu, membacakah shalawat dan memohonkan ampunan baginya.

Ibnu Rabi’ah meriwayatkan: Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam! Apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Ya. Bacakanlah shalat untuk mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, tunaikan perjanjian mereka, peliharalah silaturahim yang biasa dipelihara kala mereka masih hidup, juga, hormati teman-teman mereka[19].”

Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di Surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun dari anakmu[20].”

Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh. Dan juga, amat jarang anak yang mampu secara telaten melakukan semua kebajikan tersebut. Padahal, ditinjau dari segi kelayakan, dan segi kesempatan serta kemampuan, sudah seyogyanya setiap anak berusaha melakukannya. Dari kwantitas, semua amalan tersebut tidak membutuhkan banyak waktu. Sekadar perhatian dan kesadaran, yang memang sangat dituntut. Bila seorang anak merasa sangat kurang berbakti kepada kedua orang tuanya, inilah kesempatan yang masih terbuka lebar, untuk menutupi kekurangan tersebut, selama hayat masih dikandung badan.

Ketiga: Memelihara hubungan baik, dengan teman dan kerabat ibu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang tetap ingin menjaga hubungan silaturahim dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya ia menjaga hubungan baik dengan teman-teman ayahnya yang masih hidup[21].”

Keempat: Melaksanakan beberapa ibadah untuk kebaikan sang ibu.

Sa’ad bin Ubadah pernah bertanya, “Ibuku sudah meninggal dunia. Sedekah apa yang terbaik, yang bisa kulakukan untuknya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Air. Gali saja sumur. Lalu katakan: ‘pahala penggunaan sumur ini, untuk ibu Saad[22].”

Demikianlah sekilas tentang hubungan dengan ibu yang menjadi salah satu dari kedua orang tua, sengaja dibatasi pembahasan ini hanya seputar ibu, agar lebih singkat. Mudah-mudahan bermanfaat.
—————————-
[1] Tafsir Al-Qurthubi XIV : 65.

[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani. Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Al-Awsath

[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Al-Albani

[4] Dicuplik dari wa bil waalidain ihsaana oleh Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin – Select.Islamiy.com.

[5] Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Al-Albani.

[6] Lihat Tafsir Al-Qur’aan Al-’Azhiem IV : 159.

[7] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah II : 1058, dari hadits Syaddad bin Aus.

[8] Dicuplik dari makalah Birrul Waalidain oleh Abdurrahman Abdul Kariem Al-Ubaid – select.Islamy.com

[9] Lihat Syarah Muslim oleh Imam An-Nawaawi I : 194.

[10] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari VI : 331, Muslim III : 1341, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya XII : 36.

[11] Lihat Fathul Baari V : 68.

[12] Syarah Muslim XII : 11.

[13] Lihat Subulus Salaam IV : 162.

[14] Az-Zawaajir II : 73.

[15] Lihat Fathul Baari I : 420.

[16] Lihat Ihyaa ‘Ulumuddien oleh Imam Al-Ghazali. Buku ini mengandung berbagai pelajaran akhlak yang baik. Sayang, terlalu banyak mengandung hadits-hadits lemah dan palsu, selain mengandung pengajaran tasawuf yang menyimpang dari pemahaman yang benar. Para ulama banyak memperingatkan terhadap bahaya kitab ini. Namun mereka juga masih sering menukil beberapa persoalan akhlak, dari buku ini. Untuk itu, kami juga memperingatkan agar menghindari membaca buku ini, kecuali bagi penuntu ilmu yang mapan atau ulama yang sudah bisa memilah-milah yang baik dengan yang tidak.

[17] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (904, oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (646) dan Ibnu Khuzaimah (1888)

[18] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasaai.

[19] Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak IV : 155, dan beliau berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan system periwayatan Al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkan hadits tersebut. Adz-Dzahabi berkata, “Shahih.”

[20] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa-id X : 210.

[21] Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Lihat penjelasannya dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 1342.dengan

[22] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasaa-ie.

Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Problematika Istri Bekerja

Keadaan seperti ini menjadikan ibunya berkeinginan bekerja untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia tidak bisa bertahan dengan kehidupan yang selalu seperti itu. Kebutuhan tak bisa terpenuhi semuanya. Sementara suami, memang hanya seperti itu kemampuannya. Karena hal inilah, ibunya pun memutuskan untuk bekerja. Ia akhirnya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang memberikan pelayanan jasa umum. Mulailah si istri turut bekerja dan untung sekali takdirnya, ia bergaji lebih besar dari sang suami. Hal ini sebab ia biasa bekerja lebih lama dari suaminya. Bila suami bekerja dari pagi sampai sore, justru ia sering bekerja dari pagi sampai malam. Bahkan sangat jarang ia bekerja sampai sore saja. Sehingga begitu pulang ke rumah hanya kelelahan yang ia bawa. Demikianlah cerita singkatnya.
Kebanyakan istri masa kini sangat cepat mengambil keputusan ia harus bekerja. Wajar, lantaran begitu banyaknya propaganda yang diserukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kebaikan umat agar kaum wanita turut menjadi pekerja. Dengan berbagai dalih, propaganda tersebut terus diserukan, mulia dengan karier, bergengsi dengan tidak “menganggur” di rumah dan sebagainya adalah sebagian slogan-slogan mereka.
Padahal banyak masalah yang timbul sebagai akibat diiyakannya propaganda tersebut. Mulai dari yang berkenaan langsung dengan si wanita pekerja, suaminya, anak-anak, atau bahkan keluarga secara umum sampai masyarakatnya. Sungguh banyaknya masalah yang timbul dan sudah menggunung pun tak terlihat oleh mata mereka dan juga tak dihiraukan oleh kebanyakan kaum wanita.

Antara Berkarier dan menjadi kurir
Sebenarnya bila kita mau jujur menjawab pertanyaan untuk apa wanita turut menjadi pekerja, tentu kita akan mendapati hal yang sungguh membuat kita harus mengernyitkan kening dan mengelus dada. Betapa tidak?! Kenyataannya wanita bekerja hanya demi gaji sekian rupiah. Dirinya melejitkan karier hanya untuk meninggikan gaji. Dia meningkatkan prestasi hanya untuk mengejar jabatan tinggi atau yang semisalnya. Padahal realita yang ada, seandainya dia mendapat gaji maka itu tidak lebih dari sekadar upah. Bila seandainya dia berkarier maka itu tidak lebih dari sekadar menjadi kurir alias suruhan. Dan bila seandainya ia berprestasi maka hakikatnya tak lebih dari mengorbankan hak-hak diri dan orang lain yang asasi. Semua ini adalah masalah. Lalu bila demikian, apa sesungguhnya yang dikejar dan ditargetkan oleh para wanita pekerja itu?

Bila Istri Sibuk Bekerja
Masalah yang lainnya, apabila istri telah benar-benar bekerja ialah betapa banyak hak-hak yang akan ditelantarkan dengan kesibukannya?
Hak diri menjadi wanita muslimah yang mulia pun terkoyak. Hak-hak suami yang harus diperhatikan menjadi terlantar. Suami tak lagi didekatinya seperti saat ia belum bekerja. Suami tak lagi berarti suami saat berada bersamanya. Suami tak lagi diberi kesempatan untuk diskusi tentang rumah tangga. Suami yang tak henti-hentinya disuruh-suruh dengan bahasa “minta bantuan” dan “minta tolong”. Suami yang tak henti-hentinya terjerat kilahnya dan dibuat mati kutu. Suami yang terus-terusan hanya mendapat kemesraan imitasi demi prestasi. Suami yang hanya diajak bicara soal pekerjaan istri. Dan seabrek masalah dengan suami lainnya. Semuanya itu merupakan sebentuk menelantarkan dan merendahkan hak-hak suami. Padahal suami adalah salah satu kunci surga seorang istri. Bila hak-haknya ditelantarkan bagaimana pintu surga akan terbuka bagi si istri?
Disebutkan dari Hushain bin Mihshan Radhiyallaahu ‘anhu bahwa bibinya pernah menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu keperluan. Setelah usai dari keperluannya, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menanyainya: “Apakah Anda memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu terhadapnya?” Dia menjawab, “Aku tidak menelantarkan hak-haknya, kecuali apa yang aku lemah untuk memenuhinya.” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
انْظُرِى أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Senantiasa perhatikanlah kedudukan (sikapmu) terhadap kedudukannya (sebagai suamimu). Sungguh dia laksana pintu surgamu dan nerakamu.”[1]
Disebutkan dari Abdur-Rahman bin Auf Radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri shalat lima waktu, puasa bulan (Ramadan) dan memelihara farji serta taat suaminya, maka kelak akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga, dari pintu mana saja yang kau suka!.’” [2]
Di samping itu, bila istri sibuk bekerja berapa banyak hak anak yang akan diremehkan? Hak kasih sayang seorang ibu kepada anak menjadi gersang. Hak pembinaan dan pengarahan seorang ibu bagi anak menjadi kering. Hak anak mendapat kenyamanan hidup sebagai seorang anak berubah menjadi tekanan dan paksaan. Bahkan betapa banyak anak yang tak berpola waktu makan dan menu yang dimakannya. Itu saja sudah cukup besar hak-hak anak yang ditelantarkan akibat ibu bekerja.
Bagaimana dengan hak pendidikan anak-anak? Kenyataan pada hak yang satu ini (padahal hak ini termasuk yang paling asasi), pun lebih terlantar. Apabila ibu yang bekerja dihadapkan pada dua pilihan antara kesibukannya mengurusi pekerjaan atau mendidik anak-anak, tentu mendidik anak-anak yang selalu menjadi korban. Hampir tidak ada (selain beberapa ibu yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla) ibu yang menggeluti ilmu mendidik anak-anaknya dan materi-materi pendidikan anak. Miris, di saat yang sama mereka tak pernah ketinggalan oleh materi-materi terkait dengan pekerjaannya. Apakah masa depan ada pada pekerjaannya atau pada anak-anaknya? Padahal, pintu surga yang satu lagi ada pada pendidikan dan pemeliharaan ibu terhadap anak-anaknya.
Disebutkan dari Anas Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ
“Siapa yang mencukupi kebutuhan (hidup dan pendidikan) anak-anak perempuannya, niscaya aku dan dia akan di surga sebagaimana dua (jari) ini.” (Lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jari (telunjuk dan tengah)nya)[3]
Semua ini hanya sebagian problematika wanita bekerja. Masih banyak problem lain yang muncul akibat wanita, khususnya istri atau ibu yang bekerja. Seperti salah satunya ialah yang terjadi di rumah tangga saudara kita tersebut di atas. Semoga menjadi pelajaran bagi semuanya. Wallahu A’lam.
Uraian selanjutnya akan disampaikan di edisi mendatang insya Allah ‘Azza wa Jalla.

Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Ibu…, Kasih Sayangilah Diriku

 

Begitulah bayi berkata seandainya dia mampu berbicara. Bagaimana tidak? Selama sembilan bulan ibunya menyayanginya, ke mana pergi, ia dibawa. Bahkan ibu rela berkorban demi kesehatan anak. Ibu rela walaupun tidurnya kurang nyenyak karena sayang kepada anak. Berjalan pun pelan-pelan, khawatir kesehatan anak terganggu. Makanan dan minumannya pun dijaga, demi kesehatan anak. Berulang kali ibu periksa ke dokter untuk memantau kesehatan anak. Lantas, bagaimana bila anak lahir sang ibu tidak menyayanginya? Bukankah ketika bayi lahir lebih banyak membutuhkan kasih sayang ibu daripada sebelumnya?

Ibuku, Aku Perlu Kelembutan Dan Kasih Sayangmu
Wahai ibu, engkau yakin bahwa dirimu pada masa kecil sepertiku, anakmu. Dirimu tidak berdaya, hanya pandai menangis, mengompol serta tidak kuasa mengungkapkan sakit yang menimpa badanmu. Akan tetapi Allah Subhaanahu wa ta’aala Maha kuasa, Dia menghendaki nenek berlaku lembut kepadamu. Dirimu bangun tengah malam minta digendong, nenek tidak sampai hati membiarkan engkau menangis di ranjang. Engkau digendong walau mata nenek terasa kantuk, padahal ia sudah capek, siang malam merawat dirimu.
Sekarang tiba giliranmu, ibu. Sudahkah dirimu berbuat baik kepada anakmu seperti nenek? Itulah jasa nenek karena ingin membahagiakanmu, Allah Subhaanahu wa ta’aala mengaruniaimu kesehatan dan mampu beribadah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkanmu bahwa wanita yang baik adalah yang bersifat lemah lembut kepada anak, mau mendidik dan membantu pekerjaan suami di rumah serta menjaga kehormatan dirinya. Sebagaimana dalam sabdanya,
صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِ
“Sebaik-baik wanita Quraisy adalah sifat lembutnya terhadap anak di masa kecilnya, dan kepandaiannya menjaga harta suaminya.” (HR. al-Bukhari: 4946)

Rasulullah juga bersabda Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ
“Menikahlah dengan wanita penuh kasih dan subur ..” (HR. Abu Dawud 6/228 dishahihkan oleh al-Albani 1/515)

Orang yang sayang kepada anak, kelak akan disayangi oleh anak seperti yang telah diberitakan dalam sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayang.” (HR al-Bukhari 20/96)

Ibuku, Allah Memerintahmu Tinggal di Rumah
Wanita yang betah di rumah, terjaga keindahan wajah dan badannya dari teriknya matahari dan fitnah kaum pria. Bahkan menyejukkan hati suami ketika sang suami pulang dari kerja. Bagaimana suami tidak bahagia? Setelah pulang mencari rezeki dalam keadaan yang penat, ia berjumpa dengan istri di rumah, anaknya yang terdidik dengan baik, makan tersedia, bahkan kebutuhan rohani tersedia pula. Berbeda dengan wanita karir yang bekerja di luar. Ketika suami pulang, istri tidak ada, rumah berantakan, anak menangis, istri keluar berhias diri, sedangkan pulang bertemu suami dengan muka yang muram, karena capek kerja. Kapan waktu berdandan menghibur suami? Wahai para istri, Allah Subhaanahu wa ta’aala memerintah istri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar betah di rumah. Firman-Nya:
Dan hendaklah kamu (istri) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (QS. al-Ahzāb [33]: 33)
Ibnu Katsir Rahimahullaah berkata, “Ayat ini menerangkan adab. Allah memerintah agar istri Nabi Muhammad dan istri orang yang beriman yang ikut istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar tinggal di rumah, tidak boleh keluar dari rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.” Misalnya, keluar ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, apabila mampu menjaga diri dari fitnah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Janganlah kamu melarang hamba perempuan Allah shalat di masjid, tetapi shalat mereka di rumah, itu lebih baik bagi mereka.” (HR. al-Bukhari dan Abu Dawud)[1]
Jika shalat wanita lebih baik di rumah, daripada shalat berjamaah di masjid, maka bagaimana wanita keluar rumah mencari nafkah, sedangkan suaminya sudah mencukupinya? Bagaimana pula bila keluarnya wanita hanya ingin melampiaskan hawa nafsunya? Na’udzu billahi min dzalik!

Ibu Pemimpin Rumah Tangga
Allah Subhaanahu wa ta’aala memerintah wanita agar betah di rumah, sesuai dengan kemampuan fisik dan akalnya serta pekerjaan di rumah. Suami berkewajiban mencari rezeki, mengurusi umat dan berdakwah. Maka pantas bila suami banyak keluar rumah. Tatkala suami keluar rumah, tentu harus ada pengganti untuk mengurusi anak balita dan keluarga yang menjadi tanggungannya, maka istrilah yang menjadi gantinya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ….
“… dan seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari: 4801)
Jadi, ibu muslimah bukan pemimpin Negara, bukan pemimpin perusahaan, tetapi manager rumah tangga. Inilah nasihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tentunya nasihat ini akan diterima oleh wanita yang beriman dan mendapat petunjuk. Inilah nasihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam buat wanita yang beriman dan ingin mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hindarkan Balita Dari Benda Berbahaya!
Anak yang berusia dini, sekalipun sudah bisa bicara, melihat dan mendengar, akan tetapi akal mereka belum sempurna. Mereka belum mampu memilih mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Mereka perlu mendapat bimbingan dan pengarahan selama 24 jam, terutama bimbingan ibu. Karena ibu yang paling dekat dengannya. Jauhkan anak dari suara dan pandangan yang menakutkan, agar tidak terganggu pikirannya. Terutama pada saat anak baru mulai merangkak atau berjalan. Karena tidak mustahil mereka mengambil dan makan benda yang sangat berbahaya.
Jauhkan benda-benda rumah Anda dari jangkaun anak, seperti : racun pembasmi serangga, obat-obatan, benda tajam dan api, peralatan listrik, permaian yang berbahaya (seperti bermain dengan tali, karena bisa tercekik lehernya), bermain di tangga, bermain kelereng atau benda lain. Tutuplah pintu rumah, jangan sampai buah hati keluar tanpa sepengetahuan kita.

Istri Teladan Menyayangi Suami Walau Hidup Serba Kurang
Asma` binti Abu Bakr s berkata, “az-Zubair bin Awwam menikahiku. Saat itu, ia tidak memiliki harta, budak serta tidak memiliki apapun kecuali alat penyiram lahan dan seekor kuda. Maka akulah yang memberi makan dan minum kudanya, menjahit timbanya serta membuatkan adonan roti. Padahal aku bukanlah seorang yang mahir membuat roti. Karena itu, para tetanggaku dari kaum Ansharlah yang membuatkan roti. Aku memindahkan biji kurma dari kebun az-Zubair yang telah diberikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas kepalaku. Jarak kebun itu dari rumah dua sepertiga Farsakh. Suatu hari aku pulang (dari kebun), sementara biji kurma di atas kepalaku. Lalu aku berjumpa dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang tengah bersama beberapa sahabat Anshar. Kemudian beliau memanggilku seraya berkata, ‘Hei! Hei!’, rupanya beliau ingin menaikkanku di atas kendaraan, di belakangnya. Namun, aku malu untuk berjalan bersama para lelaki, dan aku ingat akan kecemburuan az Zubair. Ia adalah orang yang paling pencemburu. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tahu bahwa aku malu, hingga beliau berlalu. Setelah itu, kutemui az-Zubair, kataku, ‘Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menemuiku sementara di atas kepalaku ada biji kurma. Sedangkan beliau sedang bersama beberapa orang Anshar. Beliau mempersilakan agar aku naik kendaraan, namun aku malu dan juga tahu akan kecemburuanmu.’ Maka az-Zubair berkata, ‘Demi Allah, (aku melihat) kamu membawa biji kurma itu adalah lebih besar (berat) bagiku daripada engkau naik kendaraan bersama beliau.’ Akhirnya Abu Bakr pun memberi seorang khadim yang dapat membantu pekerjaanku untuk mengurusi kuda. Dan seolah-olah ia telah membebaskanku.” (HR. al-Bukhari: 4823)
Begitulah indahnya hidup pasutri yang didasari iman dan amal shalih. Berbeda dengan wanita yang pengejar karir, mereka mengira kebahagiaan dengan harta yang banyak, namun fakta justru menyelisihinya. Ya Allah, lindungi keluarga kami dari kemurkaan-Mu, belas kasihanilah kami dengan mengikuti sunnah Nabi-Mu.

Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Jangan Gegabah! Perceraian Adalah Jurus Pamungkas

Upaya manusia untuk merajut jalinan kasih telah difitrahkan atas mereka semenjak dahulu kala, saat Allah menciptakan Hawa untuk Adam yang kesepian.Namun perjalanan biduk kasih anak manusia tidaklah semulusdan seindah yang dibayangkan. Setan selalu mencari celah untuk menghancurkan fondasi cinta yang telah anak manusia bangun dengan susah payah. Bibit-bibit kebencian dan ketidakcocokan mulai ditebar oleh sang musuh. Dengan bergulirnya waktu, benih-benih tersebut mulai tumbuh dan mengakar dalam hati pasutri.Pada akhirnya jalan perceraian, walau pahit terpaksa harus ditempuh.
Memang setan teramat pandaitatkala menebar benih-benih perceraian dalam rumah tangga pasutri yang awalnya adem-ayem (sejuk-sejuk saja).Benih itu bisa ditabur di dalam kejenuhan, dalam perangai negatif pasangan atau di dalam hal-hal yang sebenarnya bersifat sepele.Kemudian benih mulai disirami dengan bisikan-bisikan ketidakpercayaan dan pupuk curiga. Hingga pada akhirnya setan berhasil memanenbuah perceraian yang selama ini memang telah ia usahakan.
Karenanya kebijaksanaan, kesabaran dalam menghadapi sifat negatif pasangan dan kepercayaan mutlak dibutuhkan dalam membangun mahligai rumah tangga samara.Cobalah untuk menerima kekurangan pasangan dengan melihat orang yang bernasib lebih parah dari diri kita. Dengan itu niscaya kita akan selalu bersyukur. Jika timbul permasalahan yang memang benar-benar layaknya air bah yang tak bisa dibendung kecuali dengan perpisahan, barulah melangkah ke jenjang perceraian.
Demikianlah jurus perceraian menjadi jurus pamungkas di saat pasutri benar-benar tidak bisa mengompromikan masalah mereka berdua dengan baik.Hal itu bisa dengan bermusyawarah antara pasutri, dengan mendatangkan wakil dari pihak keluarga masing-masing pasutri atau mendatangkan penengah orang yang berilmu untuk memberikan solusi yang baik.
Sebenarnya tidak bisa dianggap gampang masalah perceraian antara pasutri. Karena dengan perceraian tersebut akan terputuslah hubungan antara dua keluarga, pihak mantan istri dan mantan suami. Belum lagi bila perceraian menyisakanmasalah kepengasuhananak yang masih belum dewasa dan masih membutuhkan perhatian dari kedua orang tua. Hal itu belum ditambah dengan biaya administrasi untuk mengurusi surat perceraian di KUA yang jumlahnya tidak sedikitserta birokrasi yang berbelit-belit. Sebenarnya jika kita memikirkan matang-matang, perceraian bukanlah sesuatu hal yang gampang dan tidak bisa dianggap gampang.Maka dari itu, jangan gegabah dalam memutuskan kata “cerai” sebelum benar-benar tak mampu untuk menyelesaikan masalah hidup berumah tangga secara baik-baik.Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Alya | April 12, 2013

Wanita-Wanita Agung Pengukir Sejarah

Jika Anda membuka lembaran panjang sejarah Islam yang sudah berlalu sejak 14 abad silam, niscaya akan kita temukan ratusan, bahkan ribuan atau lebih wanita-wanita agung yang telah mencapai puncak derajat kemuliaan di mata kaumnya, bahkan di mata pembesar mereka.
Ini semua bukti nyata bahwa hanya di bawah naungan Islam lah kaum wanita akan menemukan jati diri dan keagungannya yang sejati. Hal ini sangat penting untuk disampaikan, terutama pada hai-hari ini, di mana kaum muslimin secara umum dan wanitanya secara khusus banyak yang mengagumi peradaban barat yang penuh glamour, tapi sebenarnya tak lebih dari sekadar fatamorgana belaka.
Sekarang marilah kita simak sedikit gambaran yang dipaparkan oleh sejarah tentang keagungan wanita di bawah naungan syariat Islam.

Kaum Wanita Menjadi Nara Sumber Ilmiah Kaumnya
Dari Tsumamah bin Huzn al-Qusyairi berkata, “Saya bertemu dengan Aisyah Radhiyallaahu ‘anha dan saya bertanya kepada beliau tentang nabidz (semacam perasan buah), maka Aisyah Radhiyallaahu ‘anha memanggil seorang budak wanita dari Negeri Ethiopia seraya berkata, ‘Tanyakanlah pada wanita ini, karena dia pernah membuatkannya untuk Rasulullah.’” (HR. Muslim)
Dari Thawus berkata, “Saya bersama Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, tiba-tiba Zaid bin Tsabit Radhiyallaahu ‘anhu berkata, ‘Apakah engkau berfatwa bahwa seorang wanita yang sedang haid boleh pulang (meninggalkan ibadah haji) sebelum melakukan thawaf wada’?’ maka Ibnu Abbas menjawab, ‘Kenapa tidak? Tanyakanlah masalah ini pada Fulanah, seorang wanita dari kalangan wanita Anshar, apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk thawaf wada’ dulu?’ setelah itu pada suatu ketika Zaid kembali lagi kepada Ibnu Abbas seraya berkata, ‘Engkau benar.’” (HR. Muslim)
Dari Abu Salamah Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Ibnu Abbas, dan saat itu Abu Hurairah sedang berada di dekatnya, lalu seseorang tadi berkata, ‘Beritahukanlah kepadaku tentang hukum seorang wanita yang melahirkan anak setelah empat puluh hari dari saat kematian suaminya?’ maka Ibnu Abbas berkata, ‘Dia wajib menjalani masa iddah dengan waktu yang paling panjang.” Maka saya (Abu Salamah) berkata, ‘Wanita yang hamil, masa iddahnya adalah sampai melahirkan.’ Abu Hurairah berkata, ‘Saya setuju dengan Abu Salamah.’ Maka Ibnu Abbas mengutus Kuraib kepada Ummu Salamah untuk bertanya kepadanya tentang masalah ini, maka Ummu Salamah Radhiyallaahu ‘anha berkat, ‘Suami Subai’ah al-Aslamiyyah terbunuh sedangkan saat itu ia sedang hamil. Empat puluh hari kemudian dia melahirkan, dan dia pun dilamar oleh seseorang, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya. Dan di antara yang melamarnya adalah Abu Sanabil.’” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Sebagian ulama besar juga berguru pada wanita
Banyak sekali para ulama semenjak zaman sahabat sampai saat ini yang berguru pada wanita, di antaranya adalah:
1. Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu
Siapa yang tidak mengenal Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu? Siapa yang tidak mengetahui kedekatannya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah beliau adalah ahlul bait sekaligus menantunya? Siapa pula yang tidak mengenal ilmu dan hikmahnya? Meski demikian, Ali Radhiyallaahu ‘anhu pernah berguru pada seorang wanita, yaitu Maimunah binti Sa’d Radhiyallaahu ‘anha, seorang pelayan wanita Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

2. Imam Malik bin Anas Rahimahullaah
Beliau pernah berguru dan meriwayatkan hadits dari Aisyah binti Sa’d bin Abi Waqqash.
Berkata al-‘Ijli, “Dia adalah seorang wanita dari kalangan tabi’in asal kota Madinah dan dirinya adalah seorang yang tsiqah.”

3. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullaah
Beliau meriwayatkan hadits dari Ummu Umar binti Hassan bin Zaid ats-Tsaqafi
4. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir Rahimahullaah
Di zamannya, beliaulah orang yang paling terpercaya dan paling luas pengetahuannya dalam bidang ilmu hadits. Beliau berguru pada seribu dua ratus ahli hadits (!), di antara gurunya tersebut terdapat delapan puluh lebih wanita.

5. Imam adz-Dzahabi Rahimahullaah
Adakah kehormatan yang lebih tinggi bagi seorang wanita, dibandingkan dengan tatkala seorang imam sekaliber Imam adz-Dzahabi Rahimahullaah harus menyesal tatkala tidak sempat menimba ilmu darinya? Dialah Ummu Muhammad Sayyidah binti Musa al-Mishriyyah.
Cermatilah kisah Imam adz-Dzahabi ini, “Saya sudah bepergian demi menemuinya, ternyata beliau meninggal dunia saat saya masih berada di negeri Palestina pada bulan Rajab tahun 695 H.” Beliau juga berkata, “Saya sangat berkeinginan untuk bertemu dengannya, maka saya pun berangkat menuju Mesir. Menurut sepengetahuanku bahwa saat itu beliau masih hidup, ternyata tatkala saya masuk negeri Mesir, beliau telah meninggal dunia sepuluh hari yang lalu. Beliau meninggal dunia pada hari Jumat, 6 Rajab dan saat itu saya masih berada di lembah Fahmah.”
Dan masih banyak di antara pembesar ulama lainya yang menimba ilmu dari kaum wanita, misalnya Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar, al-Mundziri dan lainnya –semoga Allah Subhaanahu wa ta’aala merahmati mereka semua-.

Zaman tidak pernah kosong dari para ulama wanita
Zaman tidak akan pernah melupakan keagungan Aisyah Radhiyallaahu ‘anha, keutamaannya tidak terhitung, ilmunya tak terhingga, sehingga Imam al-Hakim berkata, “Seperempat hukum syariat Islam diambil dari Aisyah.” Dan dengarkanlah persaksian para ulama di zamannya.
Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Tidaklah para sahabat Rasulullah kesulitan tentang sebuah masalah, lalu mereka bertanya kepada Aisyah, kecuali pasti akan menemukan solusinya.”
Masruq berkata, “Saya melihat pembesar sahabat Rasulullah bertanya kepada beliau tentang masalah fara’idh (ilmu waris).”
Urwah bin Zubair juga menuturkan, “Saya tidak melihat orang yang lebih mengetahui tentang ilmu agama, kedokteran dan syair (Arab) melebihi Aisyah.”
Ibnu Abdil Barr Rahimahullaah memberi komentar, “Aisyah adalah orang nomor satu pada zamannya dalam tiga ilmu: ilmu agama, kedokteran, dan syair.”
Jangan katakan pada saya bahwa itu hanya didapatkan oleh Aisyah Radhiyallaahu ‘anha saja, tidak!!! Lihatlah pada kitab-kitab biografi ulama, niscaya akan kita temukan banyak sekali wanita lainnya yang menjadi seorang ulama wanita pada zaman sahabat.

Ulama wanita zaman tabi’in
Dari madrasah Ummahatul mukminin dan para sahabat lainnya, lahirlah para ulama-ulama besar dari kalangan kaum wanita, di antara mereka adalah:
Amrah binti Abdur-Rahman al-Anshariyyah an-Najjariyyah. Cukuplah sebagai simbol keagungannya, bahwa imam sebesar al-Qasim bin Muhammad Rahimahullaah berkata kepada Ibnu Syihab Rahimahullaah, “Wahai anakku, saya melihatmu sangat semangat menuntut ilmu. Maukah aku tunjukkan kepadamu gudangnya ilmu?” berkata Ibnu Syihab, “Ya!”, maka al-Qasim berkata, “Belajarlah pada Amrah, karena dia dulu berada satu rumah dengan Aisyah.” Maka saya (Ibnu Syihab) pun mendatanginya, ternyata saya temukan dia bagai lautan yang tak bertepi.
Di antara barisan mereka juga adalah Hafshah binti Sirin. Iyas bin Mu’awiyyah al-Qadhi (seorang qadhi tabi’in yang terkenal dengan kecerdasannya) menuturkan, “Saya tidak pernah menemukan seorang pun yang saya lebihkan di atas Hafshah binti Sirin!” Lalu orang-orang menyebutkan al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, maka Iyas berkata, “Yang penting bagiku, tidak ada yang lebih utama daripada Hafshah.” Dan masih banyak lagi yang lainnya.
wahai saudariku kaum muslimah, itulah setitik dari samudra sejarah yang berisikan wanita-wanita mulia. Tidakkah para saudariku muslimah saat ini hendak meniru mereka? Dan saya yakin merekalah orang-orang yang tidak merugi bagi siapa saja yang menirunya. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa ta’aala memberikan taufik kepada kita semua. Wallahul musta’an.

Oleh: Abu Alya | Februari 13, 2013

Tuntunan Pemberian Nama (Nama-Nama yang Disunnahkan)

imagesNama-Nama yang Disunnahkan untuk Diberikan kepada Bayi:

Nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para sahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.
Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla, seperti Abdul Malik, Abdul Bashiir, Abdul ‘Aziz dan lain-lain.Namun perlu diketahui di sini bahwa hadits, “Sebaik-baik nama adalah yang dimulai dengan kata “Abd (hamba)” dan yang bermakna dipuji” bukanlah hadits shahih bahkan tidak diketahui darimana asal-usulnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
Bernama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.Adapun hadits tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad tidak ada yang shahih. Ibnu Bukair al-Baghdadi menyusun sebuah kitab tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad, dan pada kitab tersebut beliau menyertakan 26 hadits yang tidak shahih. Wallahu a’lam.
Memberi nama dengan nama orang-orang shalih di kalangan kaum muslimin terutama nama para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits shahih dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)
Memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai orangnya (namun dengan syarat nama tersebut tidak mengandung pujian untuk diri sendiri, tidak mengandung makna yang buruk atau mengandung makna celaan), seperti Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (orang yang berkeinginan kuat).Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling benar adalah nama Harits dan Hammam dan yang paling jelek nama Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An Nasai. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana disebutkan dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1977)

Oleh: Abu Alya | Februari 13, 2013

Waktu Pemberian Nama bagi Buah Hati

jakartacity.olx.co.idPemberian nama pada hari lahir bayi tersebut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ

“Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

Pemberian nama pada hari ke tujuh dari hari kelahiran. Hadits yang paling shahih tentang hal ini adalah hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذبَحُ عَنهُ يَومَ سَابِعِهِ وَ يُحلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.” (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad mengatakan bahwa perbedaan yang terjadi dalam hal ini hanyalah perbedaan yang menunjukkan keragaman, artinya dalam hal ini tidak ada pembatasan. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Cara lain adalah sebagaimana pendapat yang dinyatakan oleh Imam Bukhari rahimahullah untuk menggabungkan dua hadits ini, yaitu bahwa bagi yang tidak melakukan aqiqah maka ia boleh menamai bayinya pada hari kelahirannya dan apabila ia ingin melakukan aqiqah, maka pemberian nama boleh ditunda hingga hari ke tujuh.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ini adalah cara penggabungan makna yang sangat teliti dan belum ada yang berpendapat seperti ini selain al-Bukhari rahimahullah.”

Pendapat lain menyatakan bahwa waktu pemberian nama ada dua: (1) Waktu yang disunnahkan, yaitu pada hari ke tujuh, (2) Waktu yang dibolehkan, yaitu sejak hari pertama sampai satu hari setelah hari ke tujuh.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada hakekatnya pemberian nama berfungsi untuk menunjukkan identitas penyandang nama, karena jika ia didapati tanpa nama berarti ia tidak memiliki identitas yang dengannya ia bisa dikenali. Oleh karena itu, identitasnya boleh diberikan pada hari kelahirannya, boleh juga ditunda hingga hari ketiga atau pada hari aqiqahnya, boleh juga sesudah hari aqiqahnya. Jadi, waktu pemberian nama tidak memiliki batasan.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun mengenai pemberian nama terhadap bayi, jika nama tersebut sudah dipersiapkan sebelum ia lahir, maka nama tersebut diberikan setelah bayi itu lahir. Sebab pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah istrinya dan bersabda,

وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ

“Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

Adapun apabila belum ada persiapan nama sebelum bayi itu lahir, maka disunnahkan untuk memberinya nama pada hari ketujuh. Sebab pada hari itu hewan aqiqahnya disembelih dan dicukur rambutnya.” Wallahu a’lam.

Older Posts »

Kategori