Oleh: Muhsin | Februari 1, 2010

Sifat-Sifat Utama Para Pendidik

Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia  daripada pekerjaan sebagai   pendidik, semakin tinggi dan bermanfaat materi ilmu yang diajarkan, maka yang mengajarkannya juga semakin mulia dan tinggi derajatnya.

semulia-mulianya ilmu adalah ilmu syari’ah, kemudian ilmu-ilmu lain menurut kadarnya. jika pendidik atau pengajar mengikhlashkan amalnya karena Allah swt, maka akan memberi manfaat kepada manusia dengan amalnya itu.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw, dalam hadits shahih, Umar Ibnul Khathtahab r.a. berkata, “Sesungguhnya sempurnanya suatu pekerjaan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan.” (Shahih Bukhari no.1 dan shahih Muslim no. 1907).

Hadits dari Abu Umamah juga menerangkan kepada kita keutamaan mengajarkan kebaikan, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikatnya, penghuni bumi dan langit, bahkan semut dalam lubangnya, dan ikan dilautan mendoakan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”(Hadits Hasan).

Karena itulah pendidik memiliki tugas yang sulit dan berat namun akan menjadi mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah swt. Beratnya tugas ini terletak pada tuntutan untuk sabar, amanah, ikhlash, dan penuh perhatian kepada para muridnya.

Mengenai bagaimana sifat pendidik yang seharusnya, tepat kiranya kita berkaca pada Rasulullah Muhammad saw. Sebagaiman Firman Allah swt :  “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)

Beliaulah pengajar pertama yang telah mengajar dan mendidik shahabat-shabatnya sehingga para murid Rasulullah saw ini berhasil tampil sebagai sebaik-baik murid dan sebaik-baik guru.

Empat belas abad silam telah lahir metode yang sempurna, yang terbukti keberhasilannya melahirkan murid-murid handal sekaligus melahirkan peradaban paling utama sepanjang sejarah.

Rasulullah mendivinisikan pendidik secara luas sebagai setiap orang secara sengaja mengasuh orang lain atau beberapa orang lainnya agar para muridnya dapat tumbuh dan berhasil dalam menjalani kehidupan. karena itulah ayah maupun ibu atau siapapun yang menempati posisi keduanya betapapun kecil lingkungannya tetap berperan sebagai pendidik dengan segala muatan kata-katanya yang banyak mengandung arti dan pertimbangan.

Minimal ada lima sifat yang harus dipelihara oleh seorang pendidik.

1. Mengikhlashkan Ilmu kepada Allah

Menanamkan prinsip keikhlasan ilmu danb amal kepada Allah sering dilupakan karena jauhnya sebagian manusia dari manhaj rabbani. kondisi ini menyebabkan banyaknya ilmu dan pekerjaan yang bernilai besar namun tidak bermanfaat bagi yang memilikinya atau yang mengerjakannya. Tujuan mereka bukan untuk memberi manfaat kepada saudara-saudara mereka sesama muslim. Tapi tujuan mereka adalah untuk mendapatkan materi, kedudukan, pangkat, dan semacamnya.

Oleh karena itu, ilmu dan amalnya musnah seperti debu yang berterbangan. Memang benar terkadang mereka bisa mengambil manfaat dengan ilmu pengetahuannya didunia berupa pujian, sanjungan, dan sejenisnya, namun semua itu pada akhirnya akan hilang.

Dari Abu Hurairah r.a. Nabi saw bersabda, “Seorang laki-laki yang mempelajari suatu ilmu dan membaca Al-Qur’an dibawa dan ditampakkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Dan ia mengenalnya kemudian ia ditanya, apa yang telah kamu perbuat sehingga mendapatkan nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, aku telah mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya. Dan aku telah membaca Al-qur’an demi engkau, kata Allah, kamu bohong. Kamu mempelajari ilmu supaya kamu dipanggil alim. Dan kamu membaca Al-qur’an supaya disebut qari’ sungguh telah dikatakan, kemudian diperintahkan kepadanya, lalu diseret dengan muka ditanah, hingga kemudian dilemparkan keneraka” (H.R. Muslim No. 1905).

2. Kejujuran Seorang Pendidik

Firman Allah swt: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah swt  dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(Q.S. At-Taubah: 119).

Rasulullah Muhammad saw telah memberi petunjuk bahwa sifat jujur membawa orang yang memilikinya kesurga, yaitu dalam sabdanya, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membawa kesurga. Ada orang yang jujur dan selalu bersikap jujur, hingga ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada perbuatan keji. Dan perbuatan keji membawa keneraka. ada orang yang berkata dusta dan senantiasa bersikap dusta hingga dicatat disisi Allah sebagai pendusta” (H.R. Bukhori, Muslim).

Sesungguhnya jujur bagi seorang pendidik adalah mahkota yang menghiasi kepalanya. Jika ia kehilangan sifat jujur, maka kehilangan kepercayaan manusia kepada ilmunya dan terhadap pengetahuan-pengetahuan yang ia sampaikan kepada mereka, karena pada umumnya, orang yang belajar akan menerima semua perkataan gurunya, jika ia mengetahui kebohongan gurunya dalam beberapa hal, maka hal itu langsung berimbas kepadanya dan menyebabkannya jatuh didepan para murid-muridnya.

3. Kesesuaian Perkataan dengan Perbuatan

Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang kalian perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff: 2-3)

Imam Ahmad meriwayatkan, melalui sanad dari abi wa’il dia berkata bahwa usamah mendengar Rasulullah saw bersabda, “pada hari kiamat akan ditampilkan seseorang, kemudian dilemparkan kedalam neraka kemudian ususnya terburai, dan ia berputar dineraka mengitari ususnya itu seperti keledai mengitari batu penggilingan, lalu penghuni neraka mengelilinginya seraya bertanya, hai fulan, apa yang telah terjadi pada dirimu? Bukanlah kamu dahulu suka menyuruh kami kepada amal ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran? Sifulan menjawab, dulu aku menyuruhmu kepada amal ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya dan aku melarangmu dari kemungkaran, tapi aku malah melakukannya”.(H.R. Bukhari, Muslim).

Rasulullah saw. selalu memerintahkan kebaikan kepada manusia dan beliau adalah orang pertama yang melakukannya dan beliau mencegah manusia dari kejahatan, maka beliau adalah orang pertama menjauhinya. Ini adalah kesempurnaan akhlak beliau. Tidaklah mengherankan, karena akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

4. Keadilan seorang pendidik

Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maidah: 8).

Ayat ini memerintahkan untuk tetap menegakkan sikap adil meski terhadap para musuh. Perhatikannlah firman Allah, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,” maksudnya janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menghalangi dirimu untuk bersikap adil. Pada akhir ayat tersebut Allah memberitahukan bahwa mewujudkan sikap adil dan bersikap seimbang meski terhadap musuh menunjukkan kesempurnaan ketakwaan seseorang. Allah berfirman, “Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”Maksudnya setiap kali anda bersikap adil dan bersungguh-sungguh mewujudkannya, maka sikap seperti itu lebih dekat kepada ketakwaan.

Nu’man bin Basyir  dalam Shahihain (82) berkata,”Ayahku memberikan sedekah kepadaku dengan sebagian hartanya. Lau ibuku, Amrah bintiRawahah berkata, ‘Aku tidak ridlo hingga Rasulullah menjadi saksi. Kemudian ayahku pergi menemui Rasulullah untuk menyaksikan sedekahnya padaku. Rasulullah kemudian bertanya, Apakah engkau melakukan  hal yang sama dengan seluruh anak-anakmu?’ ia menjawab,’ tidak.’ Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan bersikap adillah terhadap seluruh anak-anakmu.’ Kemudian ayahku pulang dan menarik kembali sedekah tersebut.

Menegakkan keadilan diantara manusia merupakan suatu sikap yang agung. Rasulullah saw merupakan contoh yang paling baik dalam mewujudkan sikap adil diantara individu-individu ummatnya. Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin, Aisyah r.a. berikut ini. “Bangsa Quraisy dibingungkan dengan adanya  seorang wanita dari bani makhzum yang kedapatan mencuri.” Mereka berkata siapa yang mau menjelaskan hal ini kepada Rasulullah? Orang-orang berkata tidak ada kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai Rasulullah saw, kemudian Usamah bin Zaid menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda,“Apakah aku harus memberikan syafaat kepada hokum Allah? Beliau kemudian berdiri untuk berpidato dan bersabda, “Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan ada salah seorang yang terpandang diantara mereka mencuri, mereka membiarkannya begitu saja. Akan tetapi, jika salah seorang dari mereka yang lemah (rakyat biasa) mencuri, maka mereka menegakkan hukuman baginya. Demi Allah, jika saja Fathimah putri Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang memotong tangannya! “ Allah maha Besar. Lihatlah bagaimana Rasulullah mewujudkan sifat adil. “Jika saja Fatimah binti Muhammad mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tangannya!” Ucapan ini adalah peringatan agar ia tidak melakukan perbuatan tercela tersebut.

Para pendidik akan menghadapi kondisi yang beragam berkenaan dengan murid mereka, baik itu berupa pembagian tugas dan kewajiban. Jika memang ada tugas-tugas tertentu yang memerlukan adanya kerja sama kelompok, atau berupa sikap mengistimewakan sebagian dari yang lain, hendaknya seorang pendidik bersikap adil dalam memberikan nilai. Tidak ada ruang bagi seorang pendidik untuk lebih mencintai salah seorang dari mereka. Baik karena kedekatan, lebih mengenal, ataupun karena sebab lainnya. Sikap seperti ini dapat dikategorikan sebagai sikap zhalim yang tidak diridloi oleh Allah.

Diriwayatkan bahwa mujahid berkata,”Jika seorang pendidik tidak bersikap adil, maka ia dikategorikan telah berbuat zhalim.

Diriwayatkan pula bahwa Hasan Bashri berkata,”Jika seorang pendidik menerima gaji sedangkan ia tidak besikap adil terhadap murid-muridnya, maka ia dianggap telah berlaku zhalim.”

5. Menghiasi Diri dengan Akhlak Mulia dan Terpuji

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. Al-Qalam: 4)

“Ma’mar meriwayatkan dari Qatadah, “Dia pernah menanyakan kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah maka Aisyah Ummul Mu’minin r.a. menjawab,”Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.” Maksudnya adalah Bahwa Rasulullah saw telah menjadikan perintah dan larangan Al-Qur’an sebagai tabi’at, akhlak, dan wataknya. Setiap kali Al-Qur’an memerintahkan sesuatu maka beliau mengamalkannya. Dan, kapan saja Al-Qur’an melarang sesuatu maka beliau meninggalkannya. Disamping semua yang telah Allah watakkan kepadanya berupa akhlak-akhlak yang agung, seperti rasa malu yang amat tinggi, murah hati, pemberani, suka memaafkan , lemah lembut, dan semua akhlak-akhlak cantik lainnya. Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, “Aku telah menjadi pembantu Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, namun beliau tidak pernah mengatakan, ‘Cis,’ walaupun satu kali. Dan tidak pernah mengomentari perbuatanku dengan mengatakan, Mengapa kamu lakukan itu? Beliau adalah yang paling baik akhlaknya. Beliau tidak pernah memakai pakaian dari sutra. Tidak ada sesuatupun yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah saw. dan aku tidak pernah mencium wangi-wangian yang lebih wangi daripada keringat Rasulullah saw. begitu juga  yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut ini. Atha bin Yasar juga berkata,”Aku pernah berjalan bersama Nabi saw. beliau mengenakan mantel buatan kaum Najran yang ujung kainnya kasar. Lalu kain tersebut dirusak oleh seorang arab pedalaman dan ditarik menggunakan serbannya dengan tarikan yang sangat kuat, hingga terlihat kulit bahu Rasulullah meninggalkan goresan mantel karena kuatnya tarikan tersebut. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, berikan kepadaku harta Allah yang ada padamu; Rasulullah kemudian menoleh seraya tertawa dan memerintahkan untuk memberikannya kepada orang itu.”

Betapa agungnya sifat tersebut yang mungkin hanya dimiliki oleh seorang Nabi. Sebenarnya ia bisa saja memberikan pelajaran kepada orang arab pedalaman tersebut atas perbuatannya yang tidak sopan. Akan tetapi, bukan seperti itu sikap yang diambil oleh Rasulullah, sang mu’allim. Beliau bukan merupakan sosok yang berwajah sangar dan berwatak keras. Akan tetapi, beliau adalah sosok manusia yang mudah memaafkan, penuh toleransi, lembut dan penyayang terhadap Ummatnya. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (Q.S. At-Taubah: 128).

Para pendidik dan pengajar diperintahkan untuk mengikuti jejak Rasulullah tesebut dalam berakhlak, yaitu dengan akhlak yang mulia dan kesantunan yang tinggi. Karena sikap itulah sarana yang paling baik dalam mengajar dan mendidik. Karena seorang murid akan besikap sebagaimana sikap gurunya. Ia akan lebih meniru sikap seorang guru daripada sikap orang lain. Jika seorang pendidik memiliki sikap yang terpuji, maka sikapnya itu akan berdampak positif bagi Muridnya. Dalam jiwanya akan terpatri hal-hal yang baik yang tidak akan dapat dilakukan meski dengan berpuluh-puluh nasihat dan pelajaran. Oleh karena itu tidak ada yang pantas dijadikan contoh oleh seorang pendidik untuk mendidik anak-anaknya kecuali Rasulullah saw, karena beliau telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah swt Berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Q.S. Al-Ahzab: 21).

Pada akhirnya marilah kita renungkan, bahwa ikhlash atas pekerjaan, dan jujur terhadap para murid merupakan dua syarat yang menentukan keberhasilan pendidikan, termasuk diantaranya kesesuaian ucapan guru dengan tindakannya, sikap adil, dan menjaga akhlak yang baik. Wallahu a’lam.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: